Liputan6.com, Jakarta - Ada sejumlah kebiasaan kecil orang dengan mental kuat yang membuat seseorang tetap tenang ketika menghadapi tekanan, kegagalan, atau perubahan. Kekuatan mental bukan berarti selalu berani dan tidak pernah merasa takut, melainkan kemampuan untuk tetap bertindak meski menghadapi emosi dan situasi yang tidak nyaman.
Dalam kehidupan sehari-hari, mental kuat justru sering terlihat dari tindakan sederhana. Cara seseorang menyikapi kesalahan, memilih hal yang perlu dipikirkan, menerima masukan, hingga menghargai keberhasilan orang lain dapat menunjukkan bagaimana ia mengelola dirinya. Ketangguhan mental bukan semata-mata sifat bawaan. Sejumlah kebiasaan dapat dilatih secara bertahap sehingga seseorang semakin terbiasa menghadapi tantangan dengan cara yang lebih konstruktif.
Mental toughness berkaitan dengan ketekunan, kemampuan menghadapi kesulitan, serta kemauan untuk tetap menjalankan tujuan dalam jangka panjang. Forbes, melalui tulisan Brent Gleeson, menekankan bahwa ketangguhan mental dapat dikembangkan melalui latihan dan kebiasaan yang dilakukan secara sengaja. Sementara itu, Inc. menyoroti pentingnya mengarahkan energi mental pada hal-hal yang berada dalam kendali diri. Berikut beberapa kebiasaan sederhana yang dirangkum Liputan6.com dan dapat menggambarkan sekaligus melatih ketangguhan tersebut, Rabu (23/9/2026).
Advertisement
1. Memusatkan perhatian pada hal yang bisa dikendalikan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5198075/original/019475200_1745492869-focused-woman-working-laptop_23-2148503654__1_.jpg)
Salah satu kebiasaan kecil orang dengan mental kuat adalah membedakan antara sesuatu yang dapat dikendalikan dan sesuatu yang berada di luar kuasa diri.
Misalnya, seseorang tidak dapat menentukan bagaimana orang lain menilai pekerjaannya. Ia juga tidak bisa mengendalikan keputusan atasan, cuaca, perubahan situasi, atau kejadian yang sudah berlalu. Namun, ia masih dapat menentukan bagaimana mempersiapkan pekerjaan, merespons kritik, serta mengambil langkah berikutnya.
Inc. menggambarkan prinsip ini sebagai upaya untuk tidak menghabiskan energi mental pada hal-hal yang tidak dapat diubah. Forbes juga menyebutkan bahwa orang yang tangguh secara mental cenderung memusatkan waktu dan tenaga pada situasi yang masih dapat mereka pengaruhi.
Kebiasaan ini bukan berarti bersikap tidak peduli. Seseorang tetap dapat memiliki kepedulian terhadap persoalan di luar dirinya, tetapi memilih tindakan yang memang bisa dilakukan. Dengan begitu, perhatian tidak habis hanya untuk kekhawatiran tanpa tindakan.
2. Menganggap kesalahan sebagai bahan evaluasi
Orang dengan mental kuat tidak selalu berhasil pada percobaan pertama. Perbedaannya terletak pada cara mereka memperlakukan kegagalan.
Alih-alih terus mengulang pertanyaan seperti "Mengapa saya selalu gagal?", mereka dapat mengubahnya menjadi pertanyaan yang lebih praktis: apa yang sebenarnya terjadi, bagian mana yang tidak berjalan baik, dan apa yang dapat diperbaiki?
Forbes menyebut kebiasaan belajar dari masa lalu tanpa terus-menerus terjebak di dalamnya sebagai salah satu ciri ketangguhan mental. Gleeson juga menyinggung praktik debriefing, yakni mengevaluasi apa yang berhasil, apa yang tidak berhasil, dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki.
Dengan cara ini, kegagalan tidak otomatis dianggap sebagai gambaran nilai diri seseorang. Kesalahan menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan berikutnya dengan lebih baik.
3. Tetap menjalankan hal penting meski sedang tidak bersemangat
Mental kuat tidak selalu berkaitan dengan motivasi yang tinggi. Ada kalanya seseorang tetap harus menyelesaikan pekerjaan meski sedang bosan, lelah, takut, atau tidak mendapatkan hasil yang cepat.
Inc. mengaitkan ketangguhan dengan kemampuan menunda kepuasan dan konsisten mempertahankan hal yang dianggap penting. Artinya, seseorang tidak selalu mengejar sesuatu yang terasa menyenangkan saat ini jika hal tersebut membuatnya menjauh dari tujuan jangka panjang.
Contoh sederhananya bisa terlihat ketika seseorang memilih menyelesaikan tugas sebelum bermain, menabung sebelum membeli sesuatu yang tidak mendesak, atau tetap berlatih meski perkembangan belum terlihat.
Kebiasaan ini perlahan membangun disiplin. Seseorang belajar bahwa perasaan tidak selalu harus menjadi penentu utama dari setiap tindakan.
Advertisement
4. Menerima rasa takut tanpa membiarkannya mengambil alih
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4450634/original/084955500_1685682219-lifestyle-people-emotions-casual-concept-romantic-tender-korean-beautiful-girl-close-eyes-smiling-keep-memory-heart-daydreaming-thinking-about-someone-touching-chest_1_.jpg)
Mental kuat bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Forbes secara khusus membahas bagaimana orang yang tangguh menghadapi ketakutan dan tetap bergerak menuju hal yang dianggap penting.
Dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan ini dapat muncul dalam bentuk yang sederhana. Misalnya, berani menyampaikan pendapat dalam rapat, mencoba keterampilan baru, meminta bantuan ketika diperlukan, atau menghadapi percakapan yang selama ini dihindari.
Rasa takut tetap ada, tetapi seseorang tidak langsung menganggapnya sebagai tanda bahwa ia harus mundur. Ia dapat berhenti sejenak, memahami apa yang ditakutkan, lalu menentukan tindakan yang realistis.
Dengan demikian, keberanian bukan selalu tentang melakukan sesuatu tanpa rasa takut. Keberanian juga dapat berarti tetap mengambil langkah yang diperlukan ketika rasa takut masih muncul.
5. Menerima kritik dan mencari masukan
Kebiasaan kecil lainnya adalah bersedia mendengarkan masukan tanpa langsung menganggap kritik sebagai serangan terhadap diri sendiri.
Forbes menyebut orang yang tangguh secara mental cenderung mencari feedback dan kritik yang konstruktif. Sikap ini berkaitan dengan kesadaran bahwa seseorang tidak selalu memiliki seluruh jawaban dan masih mempunyai ruang untuk berkembang.
Dalam praktiknya, menerima masukan bukan berarti harus menyetujui semua pendapat orang lain. Seseorang dapat mendengarkan, memilah informasi, kemudian menentukan apakah masukan tersebut relevan.
Kebiasaan sederhana seperti bertanya, "Bagian mana yang menurutmu masih bisa saya perbaiki?" dapat membuka ruang evaluasi yang lebih sehat. Dari sana, kritik tidak hanya menjadi sesuatu yang harus dihindari, tetapi dapat menjadi sumber informasi untuk berkembang.
6. Tidak membandingkan keberhasilan sebagai perlombaan
Keberhasilan orang lain terkadang memunculkan perasaan tidak nyaman. Melihat teman mendapatkan promosi, memiliki rumah, menyelesaikan pendidikan, atau mencapai target tertentu dapat membuat seseorang mempertanyakan pencapaiannya sendiri.
Inc. menyarankan agar keberhasilan orang lain tidak dipandang sebagai sesuatu yang mengurangi peluang diri sendiri. Justru, seseorang dapat memilih untuk menghargai pencapaian tersebut dan menjadikannya inspirasi tanpa harus mengubahnya menjadi kompetisi pribadi.
Kebiasaan ini membantu menghemat energi mental. Daripada sibuk bertanya mengapa orang lain lebih dahulu berhasil, perhatian dapat dikembalikan pada perkembangan diri sendiri.
Bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki ambisi. Ambisi tetap dapat dipelihara, tetapi tidak harus selalu dibangun dari rasa iri atau keinginan untuk mengungguli orang lain.
7. Mengakhiri hari dengan mengingat hal yang patut disyukuri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3339723/original/069234800_1609743795-ben-white-ReEqHw2GyeI-unsplash.jpg)
Kebiasaan sederhana sebelum tidur juga dapat digunakan untuk melatih pola pikir yang lebih seimbang. Inc. menyarankan untuk meluangkan waktu memikirkan hal-hal yang dimiliki dan patut dihargai, daripada terus berfokus pada sesuatu yang belum diperoleh.
Bentuknya tidak harus rumit. Seseorang bisa mengingat satu percakapan menyenangkan, pekerjaan yang berhasil diselesaikan, waktu bersama keluarga, tubuh yang masih memungkinkan beraktivitas, atau kesempatan untuk belajar sesuatu.
Rasa syukur bukan berarti mengabaikan masalah. Seseorang tetap dapat mengakui bahwa hari itu berat sambil menyadari bahwa tidak semua hal berjalan buruk.
Kebiasaan tersebut membantu mengalihkan perhatian dari kekurangan semata. Dalam jangka panjang, refleksi sederhana seperti ini dapat menjadi cara untuk menutup hari dengan perspektif yang lebih utuh.
Mental Kuat Dibangun dari Kebiasaan yang Konsisten
Dari berbagai kebiasaan tersebut, terlihat bahwa ketangguhan mental tidak harus diwujudkan melalui tindakan besar. Justru, kebiasaan sehari-hari seperti memilah hal yang dapat dikendalikan, mengevaluasi kesalahan, menerima kritik, dan menjaga fokus terhadap tujuan dapat menjadi latihan yang berulang.
Forbes menekankan bahwa ketangguhan mental bukan kualitas yang hanya dimiliki oleh orang tertentu sejak lahir. Dalam artikel tersebut, ketahanan dan ketangguhan dipandang sebagai kemampuan yang dapat dilatih melalui praktik yang disengaja.
Karena itu, seseorang tidak perlu menunggu sampai menghadapi masalah besar untuk mulai melatihnya. Memilih untuk menyelesaikan satu tugas penting, menerima satu masukan dengan terbuka, atau berhenti mengkhawatirkan sesuatu yang memang tidak dapat dikendalikan sudah dapat menjadi latihan kecil.
Pada akhirnya, kebiasaan kecil orang dengan mental kuat bukan tentang menjadi manusia yang tidak pernah goyah. Ketangguhan lebih dekat dengan kemampuan untuk kembali menata diri setelah menghadapi tekanan, belajar dari pengalaman, dan tetap mengambil langkah yang masuk akal meski keadaan tidak selalu sesuai harapan.
Pertanyaan Seputar Mental Kuat
1. Apa yang dimaksud dengan mental kuat?
Mental kuat adalah kemampuan untuk menghadapi tekanan, kesulitan, perubahan, dan kegagalan dengan tetap mampu mengelola diri serta mengambil tindakan yang konstruktif. Mental kuat tidak berarti seseorang tidak pernah sedih, takut, atau kecewa.
2. Apakah mental kuat merupakan sifat bawaan?
Tidak selalu. Forbes menjelaskan bahwa ketangguhan mental dapat dikembangkan melalui latihan dan kebiasaan yang dilakukan secara sengaja. Konsistensi dalam menghadapi tantangan dan mengevaluasi pengalaman dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
3. Apa kebiasaan sederhana untuk mulai melatih mental kuat?
Mulailah dengan membedakan hal yang dapat dan tidak dapat dikendalikan. Setelah itu, biasakan mengevaluasi kesalahan tanpa terus menyalahkan diri sendiri, menerima kritik yang konstruktif, serta tetap menjalankan hal penting meski motivasi sedang turun.
4. Apakah orang dengan mental kuat tidak pernah merasa takut?
Tidak. Rasa takut merupakan bagian dari pengalaman manusia. Ketangguhan lebih berkaitan dengan kemampuan untuk memahami rasa takut dan tetap mengambil tindakan yang diperlukan ketika situasi memang mengharuskannya.
5. Mengapa belajar dari kegagalan penting bagi mental kuat?
Kegagalan dapat memberikan informasi mengenai bagian yang belum berjalan sesuai rencana. Dengan mengevaluasi pengalaman tersebut, seseorang dapat memperbaiki strategi dan menggunakan pengalaman sebelumnya sebagai bahan pertimbangan untuk langkah berikutnya.
Â
Â
Â
Â
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339837/original/071003300_1788430175-alat_pertanian_-cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5017021/original/098300300_1732248955-cek_fakta_ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315872/original/087159700_1785900314-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-05T102428.295.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355619/original/023680000_1790138067-FALSE__7_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4838957/original/039537600_1716297183-portrait-young-woman-nature__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5389406/original/034498800_1761196613-50dedcdc-0c89-40c8-8b6d-84b609f926cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4485324/original/095209600_1687975020-Kembang_Api.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353523/original/009667800_1789968268-063_2257322096.jpg)