Liputan6.com, Jakarta - Dalam sebuah percakapan, tidak semua orang merasa perlu menjadi pihak yang paling banyak berbicara. Ada orang yang justru lebih nyaman mendengarkan, memperhatikan setiap perkataan lawan bicara, lalu memberikan respons setelah benar-benar memahami pembicaraan. Sikap seperti ini terkadang membuat seseorang dianggap pendiam, pemalu, atau kurang percaya diri, padahal kebiasaan lebih banyak mendengarkan tidak selalu berkaitan dengan hal tersebut.
Orang yang lebih banyak mendengarkan daripada bicara bisa memiliki berbagai alasan dan karakter. Ada yang memang lebih suka mengamati sebelum menyampaikan pendapat, ada yang merasa lebih nyaman memahami perasaan orang lain, dan ada pula yang hanya berbicara ketika merasa memiliki sesuatu yang benar-benar penting untuk disampaikan. Karena itu, kebiasaan menjadi pendengar sebaiknya tidak langsung dijadikan patokan untuk menentukan kepribadian seseorang secara keseluruhan.
Dalam psikologi, perilaku seseorang juga dipengaruhi oleh situasi, pengalaman, lingkungan sosial, serta karakter individu yang kompleks. Seseorang yang banyak diam dalam satu situasi belum tentu melakukan hal yang sama di lingkungan lainnya. Meski demikian, kebiasaan lebih sering mendengarkan dapat menjadi gambaran mengenai beberapa kecenderungan perilaku yang menarik untuk diperhatikan. Lantas bagaimana saja ciri kepribadian orang yang lebih banyak mendengarkan daripada bicara? Melansir dari berbagai sumber, Jumat (28/8/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
1. Cenderung Mengamati Sebelum Memberikan Respons
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3978106/original/023489100_1648535617-pexels-fauxels-3182808.jpg)
Orang yang lebih banyak mendengarkan sering kali memiliki kebiasaan mengamati situasi sebelum ikut berbicara. Mereka mungkin memperhatikan pilihan kata, ekspresi wajah, nada suara, hingga arah pembicaraan sebelum menentukan apa yang ingin disampaikan. Bagi mereka, berbicara tidak selalu harus dilakukan secepat mungkin. Ada kecenderungan untuk memahami konteks terlebih dahulu agar respons yang diberikan benar-benar sesuai dengan pembicaraan.
Karakter seperti ini tidak selalu berarti seseorang kurang percaya diri. Dalam situasi tertentu, justru seseorang dapat memilih diam karena sedang memproses informasi. Ia mungkin mendengarkan beberapa pendapat terlebih dahulu sebelum menentukan sudut pandangnya sendiri. Sikap tersebut bisa membuatnya terlihat lebih tenang dibandingkan orang yang spontan menyampaikan setiap pemikiran yang muncul.
Psikolog Dr. Marcel de Roos, PhD, menjelaskan bahwa orang introvert dapat lebih menyukai mendengarkan daripada berbicara dan membutuhkan suasana yang lebih tenang, tetapi hal tersebut tidak sama dengan rasa malu. Dalam penjelasannya, ia secara eksplisit membedakan antara introversi dan shyness atau rasa malu. Jadi, seseorang yang lebih banyak mendengarkan belum tentu menghindari interaksi; bisa saja ia hanya memiliki cara berbeda dalam memproses percakapan.
Advertisement
2. Lebih Nyaman Memberikan Respons Setelah Memahami Pembicaraan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226643/original/059006900_1747751040-steptodown.com244811.jpg)
Sebagian orang tidak terbiasa langsung memberikan jawaban ketika pertanyaan atau pendapat baru saja disampaikan. Mereka membutuhkan waktu untuk mencerna informasi, menimbang pilihan kata, dan memahami maksud lawan bicara. Akibatnya, dalam percakapan kelompok, orang seperti ini mungkin terlihat lebih banyak diam dibandingkan peserta yang spontan menyampaikan pendapat.
Kecenderungan tersebut dapat menjadi keuntungan ketika pembicaraan membutuhkan pertimbangan. Dengan mendengarkan terlebih dahulu, seseorang memiliki kesempatan untuk memahami beberapa sudut pandang sebelum memberikan respons. Ia juga dapat menghindari memberikan komentar secara terburu-buru yang ternyata tidak sesuai dengan konteks pembicaraan.
Psikolog Dr. Lisa Baker, PhD, yang menjelaskan pendekatan psikologisnya melalui praktik berbasis relasi dan mindfulness, menekankan pentingnya memperlambat proses, memberikan perhatian, dan menciptakan ruang bagi cerita yang sering tidak terdengar. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa keheningan dan perhatian dapat menjadi bagian penting dalam proses memahami pengalaman seseorang. Dengan demikian, tidak langsung berbicara bukan otomatis berarti tidak memiliki pendapat.
3. Cenderung Menunjukkan Empati dalam Percakapan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5258101/original/052077200_1750335149-Penuh_empati_dan_mendengarkan.jpg)
Kebiasaan mendengarkan dengan sungguh-sungguh dapat membuat seseorang lebih mudah menangkap apa yang sedang dirasakan lawan bicara. Ia bukan hanya memperhatikan kata-kata, tetapi juga dapat mencoba memahami konteks dan emosi di balik cerita tersebut. Ketika seseorang bercerita mengenai masalahnya, misalnya, orang dengan kecenderungan ini mungkin tidak buru-buru memberikan nasihat, tetapi membiarkan lawan bicara menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu.
Empati dalam konteks ini bukan berarti selalu setuju dengan semua perkataan orang lain. Empati lebih berkaitan dengan kemampuan memahami perasaan atau sudut pandang seseorang tanpa harus mengadopsinya sebagai pendapat pribadi. Karena itu, menjadi pendengar yang baik tidak berarti harus selalu membenarkan orang lain.
Dr. Steven M. Sultanoff, PhD, seorang psikolog klinis, menjelaskan bahwa empati berkaitan dengan kemampuan memahami perasaan seseorang dan situasi yang menyertainya. Sumber Psych Central yang ditinjau secara klinis juga mengaitkan latihan active listening dengan kemampuan membangun empati dalam hubungan. Ini menunjukkan bahwa kecenderungan mendengarkan dengan perhatian dapat berhubungan dengan pola komunikasi yang lebih empatik, meskipun tentu tidak berarti setiap pendiam otomatis memiliki empati tinggi.
Advertisement
4. Tidak Suka Mendominasi Percakapan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5250663/original/069912200_1749727371-relaxed-friends-talking-while-sitting-couch_23-2148143191.jpg)
Orang yang lebih banyak mendengarkan biasanya tidak merasa harus selalu mengambil alih pembicaraan. Ketika berada dalam kelompok, mereka mungkin memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapat sampai selesai. Mereka tidak selalu berusaha menjadi pusat perhatian atau memastikan semua orang mengetahui pandangannya.
Sikap tersebut bisa membuat percakapan terasa lebih seimbang. Lawan bicara memiliki ruang untuk menyampaikan cerita tanpa terus dipotong atau dialihkan kembali kepada pengalaman orang lain. Dalam konteks pekerjaan, misalnya, orang dengan kecenderungan ini mungkin lebih memilih mendengarkan masukan anggota tim sebelum menyampaikan pendapatnya sendiri.
Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Susan Krauss Whitbourne, PhD, ABPP, dalam Psychology Today mengenai karakter introvert yang cenderung mengambil posisi lebih tenang dalam diskusi dan memberi perhatian pada apa yang dikatakan orang lain. Namun, perlu digarisbawahi bahwa penelitian dan pembahasan tentang introversi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa semua introvert pasti pendengar yang lebih baik. Jadi, lebih tepat melihatnya sebagai kecenderungan perilaku, bukan aturan kepribadian.
5. Menghargai Percakapan yang Lebih Bermakna
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5251810/original/064329800_1749808841-couple-having-conversation-moment__2_.jpg)
Sebagian orang yang tidak terlalu banyak berbicara merasa lebih nyaman ketika percakapan memiliki tujuan atau topik yang menurut mereka menarik. Mereka mungkin tidak terlalu tertarik mengisi setiap keheningan dengan obrolan ringan, tetapi dapat menjadi sangat aktif ketika pembicaraan menyentuh hal yang benar-benar mereka minati.
Karena itu, jangan menilai kemampuan berkomunikasi seseorang hanya dari seberapa sering ia berbicara. Ada orang yang tampak sangat pendiam ketika berada dalam kelompok besar, tetapi bisa berbicara panjang dan mendalam ketika berhadapan dengan orang yang sudah dikenalnya atau ketika membahas topik yang disukai. Situasi dan tingkat kenyamanan sosial dapat memengaruhi perilaku seseorang.
Penjelasan Dr. Marcel de Roos, PhD, juga menggambarkan bahwa seseorang dapat menikmati interaksi dengan orang lain tetapi tetap memiliki batas terhadap lingkungan sosial yang ramai dan lebih menyukai percakapan yang bermakna dibandingkan small talk. Ini menjadi salah satu alasan mengapa seseorang yang jarang berbicara dalam situasi tertentu tidak seharusnya langsung dicap sebagai pemalu.
Advertisement
6. Cenderung Mendengarkan untuk Memahami, Bukan Sekadar Menunggu Giliran Bicara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5229378/original/062083600_1747917664-steptodown.com341164.jpg)
Ada perbedaan antara diam ketika orang lain berbicara dan benar-benar mendengarkan. Orang yang benar-benar mendengarkan biasanya memperhatikan isi pembicaraan, mencoba memahami maksudnya, dan memberikan respons yang berkaitan dengan apa yang baru saja disampaikan. Mereka tidak sekadar menunggu kesempatan untuk kembali membicarakan dirinya sendiri.
Kemampuan tersebut dapat membuat lawan bicara merasa lebih dihargai. Ketika seseorang merasa didengarkan, ia biasanya memiliki ruang yang lebih besar untuk menjelaskan pemikiran atau perasaannya. Dalam hubungan interpersonal, kemampuan mendengarkan juga dapat membantu mengurangi kesalahpahaman karena seseorang memiliki kesempatan untuk memahami pesan sebelum memberikan tanggapan.
Hal ini menjadi fokus penelitian Guy Itzchakov, PhD, profesor di Department of Human Services, University of Haifa, yang memimpin Interpersonal Listening and Social Influence Lab. Penelitiannya berfokus pada bagaimana kualitas mendengarkan yang penuh perhatian, empati, dan tidak menghakimi dapat memengaruhi emosi, pemikiran, serta perilaku pembicara. Jadi, menjadi pendengar yang baik lebih berkaitan dengan kualitas perhatian daripada sekadar sedikit berbicara.
7. Cenderung Memiliki Kemampuan Mendengarkan yang Dapat Dikembangkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5250662/original/005570200_1749727368-relaxed-friends-talking-while-sitting-couch_23-2148143191.jpg)
Mendengarkan dengan baik bukan semata-mata sifat bawaan yang hanya dimiliki orang pendiam atau introvert. Seseorang yang banyak bicara juga bisa menjadi pendengar yang sangat baik, sementara seseorang yang pendiam belum tentu benar-benar memperhatikan lawan bicaranya. Kemampuan mendengarkan pada dasarnya dapat dilatih melalui perhatian, empati, kemampuan menahan keinginan untuk menyela, serta memberikan respons yang sesuai.
Karena itu, seseorang yang lebih banyak mendengarkan tidak harus langsung menganggap dirinya introvert, pemalu, atau memiliki tipe kepribadian tertentu. Bisa saja ia memang memiliki kebiasaan komunikasi yang lebih reflektif. Bisa pula kebiasaan tersebut muncul karena lingkungan, pengalaman, budaya, hubungan sosial, atau situasi tertentu.
Hal ini diperkuat oleh penjelasan Dr. Guy Itzchakov, PhD, bahwa mendengarkan berkualitas berbeda dari sekadar diam ketika orang lain berbicara. Menurutnya, kualitas mendengarkan mencakup perhatian dan keterlibatan yang membuat orang lain merasa didengar. Dengan demikian, jika seseorang lebih banyak mendengarkan daripada bicara, yang menarik untuk diperhatikan bukan sekadar seberapa sedikit ia berbicara, melainkan bagaimana ia menggunakan waktu ketika mendengarkan.
Advertisement
Pertanyaan & Jawaban Seputar Kepribadian Orang yang Lebih Banyak Mendengarkan daripada Bicara
1. Apakah orang yang lebih banyak mendengarkan berarti pemalu?
Tidak selalu. Lebih banyak mendengarkan dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti kebiasaan berkomunikasi, preferensi pribadi, kemampuan memproses informasi, atau situasi sosial tertentu. Seseorang yang pendiam dalam satu situasi juga bisa sangat aktif berbicara ketika berada di lingkungan yang membuatnya nyaman.
2. Apakah orang yang lebih banyak mendengarkan pasti introvert?
Tidak. Introversi dan kebiasaan mendengarkan merupakan dua hal yang berbeda. Seseorang bisa memiliki kecenderungan introvert tetapi tetap banyak berbicara, sementara orang yang ekstrovert juga bisa menjadi pendengar yang sangat baik.
3. Mengapa seseorang lebih suka mendengarkan daripada berbicara?
Ada banyak kemungkinan. Sebagian orang lebih nyaman memahami pembicaraan terlebih dahulu sebelum memberikan respons, sementara yang lain memang lebih tertarik mendengarkan pengalaman atau sudut pandang orang lain. Faktor situasi, pengalaman, dan kenyamanan sosial juga dapat memengaruhi kebiasaan tersebut.
4. Apakah orang yang banyak mendengarkan memiliki empati lebih tinggi?
Tidak otomatis. Kemampuan mendengarkan dengan penuh perhatian dapat membantu seseorang memahami perasaan dan sudut pandang orang lain, tetapi sedikit berbicara saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa seseorang memiliki empati tinggi.
5. Apa perbedaan antara pendiam dan pendengar yang baik?
Orang pendiam belum tentu benar-benar mendengarkan. Sementara itu, pendengar yang baik biasanya memperhatikan pembicaraan, memahami pesan yang disampaikan, tidak terburu-buru menyela, dan memberikan respons yang relevan. Jadi, diam dan mendengarkan secara aktif merupakan dua hal yang berbeda.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5327298/original/085035000_1756177391-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__83_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316841/original/059462500_1785991327-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-06T113319.126.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334325/original/020353700_1787832097-cek_fakta_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334197/original/046223400_1787824544-HOAX__5_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5189970/original/067319300_1744818475-chatting-joyful-best-friends-couch_23-2148147926.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4943301/original/089957100_1726156937-christina-wocintechchat-com-eF7HN40WbAQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334217/original/010643400_1787824924-pexels-silverkblack-23495691.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334158/original/001130400_1787822403-pexels-cottonbro-7707081.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322787/original/062467400_1786589050-pexels-cottonbro-7408634.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334121/original/083799800_1787821021-Gemini_Generated_Image_xu9pmmxu9pmmxu9p.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334168/original/024779000_1787822648-pexels-olly-3791159.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3154951/original/071013400_1592374158-young-couple-arguing-about-high-bills-with-laptop-documents_1163-4808.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334166/original/068008300_1787822578-f59ac0fa-a203-45fc-b86d-451d7b8bff70.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3149444/original/010020200_1591813964-depression-woman-sit-chair-home_231208-630.jpg)