Liputan6.com, Jakarta - Bukan soal tampan atau kaya, banyak wanita justru jatuh hati pada pria yang "matang secara emosi". Sebab, kecerdasan emosional atau emotional intelligence (EQ) sering jadi penentu awet tidaknya sebuah hubungan, bahkan lebih dari sekadar chemistry di awal pertemuan.
Konsep emotional intelligence sendiri dipopulerkan oleh psikolog sekaligus jurnalis sains Daniel Goleman lewat bukunya yang terbit pada 1995. Menurut Goleman, EQ mencakup lima komponen utama: kesadaran diri (self-awareness), pengendalian diri (self-regulation), motivasi internal, empati, dan keterampilan sosial. Kelima aspek ini dianggap sebagai kemampuan yang bisa dipelajari, bukan bakat bawaan lahir.
Lantas, seperti apa ciri-ciri pria yang punya EQ tinggi dalam keseharian dan hubungannya? Berikut ulasan selengkapnya, dirangkum Liputan6.com pada Kamis (27/8/2026).Â
Advertisement
1. Sadar dan Bisa Mengelola Emosinya Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3154951/original/071013400_1592374158-young-couple-arguing-about-high-bills-with-laptop-documents_1163-4808.jpg)
Pria dengan EQ tinggi tahu persis apa yang sedang ia rasakan dan mengapa ia merasakannya. Menurut kerangka Goleman, self-awareness adalah fondasi dari seluruh aspek kecerdasan emosional lainnya karena membuat seseorang mampu mengenali pemicu emosi dan dampaknya terhadap perilaku serta orang di sekitarnya.
Ia tidak mudah meledak saat marah atau panik saat tertekan. Bukan berarti ia tidak punya emosi negatif, tetapi ia tahu cara menyalurkannya tanpa merugikan orang lain.
2. Pendengar yang Benar-Benar Aktif
Salah satu tanda paling mudah dikenali dari pria ber-EQ tinggi adalah caranya mendengarkan. Ia tidak sekadar menunggu giliran bicara, melainkan benar-benar berusaha memahami apa yang disampaikan lawan bicaranya, termasuk emosi yang tersirat di baliknya.
Kebiasaan ini membuat pasangan atau lawan bicaranya merasa dihargai dan didengar, yang pada akhirnya memperkuat kedekatan emosional dalam hubungan.
Advertisement
3. Punya Empati yang Tulus
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5062973/original/041813200_1734947054-upset-man-apologizing-woman-white_114579-53767.jpg)
Empati berarti mampu memahami dan ikut merasakan apa yang dialami orang lain. Pria dengan empati tinggi biasanya peka terhadap perubahan suasana hati orang di sekitarnya, misalnya menyadari saat rekan kerja tampak lebih pendiam dari biasanya lalu menawarkan bantuan atau sekadar menjadi pendengar.
Sikap ini membangun rasa percaya dan mempererat hubungan, baik dalam relasi personal maupun profesional.
4. Melihat Konflik sebagai Ruang untuk Bertumbuh, Bukan Ajang Menang-Menangan
Alih-alih menganggap perbedaan pendapat sebagai pertarungan yang harus dimenangkan, pria dengan EQ tinggi memandangnya sebagai kesempatan untuk saling memahami. Ia lebih memilih berdiskusi secara sehat daripada memaksakan kehendak atau memutus komunikasi begitu saja.
5. Mudah Beradaptasi dengan Perubahan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5062971/original/057050200_1734947052-young-couple-man-looking-his-girlfriend-asking-forgiveness-standing-blue-wall_141793-56960.jpg)
Fleksibilitas adalah salah satu ciri khas EQ tinggi. Pria dengan kualitas ini tidak kaku menghadapi perubahan rencana, pekerjaan, atau tantangan mendadak. Ia melihat perubahan sebagai peluang untuk belajar hal baru, bukan ancaman yang harus dihindari.
Dalam hubungan, sikap adaptif ini membuatnya lebih terbuka pada masukan pasangan dan bersedia berkompromi ketika dibutuhkan.
6. Berani Mengakui Kesalahan
Pria yang matang secara emosional tidak alergi disalahkan. Ia sanggup mengakui kekeliruan tanpa berdalih berlebihan, lalu berusaha memperbaikinya. Sikap ini berbeda jauh dengan kecenderungan defensif atau menyalahkan orang lain yang biasanya muncul pada orang dengan EQ rendah.
Advertisement
7. Punya Batasan yang Sehat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4617057/original/060552500_1697721231-pexels-helena-lopes-2055225.jpg)
Kemampuan menetapkan dan menghormati batasan (boundaries), baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain, juga menjadi penanda EQ yang matang. Ia tahu kapan harus berkata "tidak" tanpa merasa bersalah berlebihan, sekaligus menghormati batasan yang ditetapkan orang lain.
8. Tidak Menggunakan Manipulasi Emosional untuk Mencapai Keinginannya
Riset yang dirangkum sejumlah pakar hubungan menyebutkan bahwa orang dengan EQ tinggi cenderung lebih jarang menggunakan taktik emotional blackmail atau manipulasi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari pasangan. Sebaliknya, mereka lebih memilih komunikasi terbuka meski itu berarti harus menerima penolakan.
9. Termotivasi dari Dalam Diri, Bukan Sekadar Uang atau Validasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5062972/original/041206400_1734947053-woman-trying-look-into-his-phone-white_114579-53819.jpg)
Menurut Goleman, motivasi orang dengan EQ tinggi umumnya datang dari dorongan internal, seperti visi pribadi atau kepuasan batin, bukan semata-mata imbalan eksternal seperti gaji atau pengakuan. Ciri ini membuatnya tetap konsisten mengejar tujuan meski tidak ada yang mengawasi atau memberi pujian.
10. Relasinya Beragam dan Tahan Lama
Pria dengan EQ tinggi biasanya mampu menjaga banyak jenis relasi sekaligus, mulai dari keluarga, sahabat lama, hingga rekan kerja dari berbagai latar belakang. Kemampuan menjaga hubungan yang beragam dan awet ini mencerminkan keterampilan sosial yang matang, salah satu dari lima pilar EQ menurut Goleman.
Â
Advertisement
Kenapa EQ Sepenting IQ dalam Hubungan?
Goleman menekankan bahwa kecerdasan emosional bisa jadi sama pentingnya, bahkan pada beberapa konteks lebih menentukan, dibanding kecerdasan intelektual (IQ). Dalam hubungan asmara, EQ berperan besar dalam cara pasangan berkomunikasi, menyelesaikan konflik, dan saling mendukung dalam jangka panjang. Kabar baiknya, kemampuan ini bukan bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa terus diasah seiring waktu.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Emotional Intelligence pada Pria
1. Apakah emotional intelligence bisa dilatih atau memang bawaan lahir?
Bisa dilatih. Menurut Goleman, kelima komponen EQ, mulai dari kesadaran diri hingga keterampilan sosial, merupakan kemampuan yang dapat dipelajari dan terus dikembangkan seiring pengalaman hidup.
2. Apa beda EQ dan IQ?
IQ mengukur kemampuan kognitif seperti logika dan analisis, sementara EQ mengukur kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri sendiri maupun orang lain. Keduanya sama-sama berkontribusi pada kesuksesan seseorang, tetapi lewat cara yang berbeda.
3. Apakah pria dengan EQ tinggi tidak pernah marah atau sedih?
Tidak. Pria dengan EQ tinggi tetap merasakan emosi negatif seperti orang pada umumnya. Bedanya, ia lebih mampu mengelola dan menyalurkan emosi tersebut dengan cara yang sehat, tanpa melukai diri sendiri atau orang lain.
4. Bagaimana cara mengetahui EQ pasangan sebelum berkomitmen lebih jauh?
Perhatikan cara ia menghadapi konflik, menerima kritik, dan memperlakukan orang lain, seperti pelayan restoran atau staf yang dianggap "tidak penting", di luar situasi formal. Pola perilaku dalam momen-momen kecil sering kali lebih jujur menggambarkan EQ seseorang.
5. Apakah EQ tinggi menjamin hubungan yang langgeng?
EQ tinggi bukan jaminan mutlak, tetapi terbukti menjadi salah satu faktor pendukung komunikasi yang sehat dan penyelesaian konflik yang konstruktif, dua hal yang berperan besar dalam ketahanan sebuah hubungan jangka panjang.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333889/original/091356200_1787811731-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-27T131833.691.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334046/original/006423000_1787818653-cek_fakta_demo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333970/original/076820900_1787815384-Your_paragraph_text.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333897/original/064209300_1787812486-cek_fakta_-_tebuireng.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4589360/original/016391200_1695725396-pexels-keira-burton-6147143.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333952/original/051322900_1787814987-Risiko_Membuang_Air_Mendidih_ke_Wastafel.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334177/original/087773000_1787823071-__________________________.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3132736/original/013217900_1589884473-txt1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332965/original/074527000_1787725598-1280px-KA_436_Siliwangi_CJ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333875/original/046362400_1787810735-pexels-olly-3765117.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3123073/original/023789200_1588955771-hl.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333904/original/076523800_1787813300-close_your_eyes.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5372073/original/077001700_1759732760-kroshka__nastya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333836/original/055981300_1787809082-ayuzhafira.jpg)