Suka Duduk di Tempat yang Sama? Ini Penjelasan Psikologinya

Kebiasaan memilih tempat duduk yang sama ternyata dapat berkaitan dengan rutinitas, kenyamanan, dan rasa memiliki ruang.

Diterbitkan 27 Agustus 2026, 17:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ada orang yang hampir selalu memilih kursi yang sama ketika masuk kelas, datang ke kantor, mengikuti rapat, atau bersantai di rumah. Selama kursi tersebut kosong, seseorang mungkin langsung menuju ke sana tanpa banyak berpikir. Namun, ketika tempat favorit itu sudah ditempati orang lain, muncul rasa sedikit kecewa atau bahkan perasaan seperti seseorang telah mengambil “tempatnya”, padahal secara resmi kursi tersebut bukan milik siapa-siapa.

Kebiasaan suka duduk di tempat yang sama memang menarik jika dilihat dari sudut pandang psikologi lingkungan. Penjelasannya tidak sekadar karena manusia menyukai rutinitas, tetapi dapat berkaitan dengan territoriality, psychological ownership, preferensi spasial, dan familiaritas terhadap lingkungan. Sejumlah penelitian bahkan secara khusus menemukan bahwa orang cenderung kembali ke posisi duduk yang sama setelah menggunakan suatu ruang secara berulang.

Kebiasaan Duduk di Tempat yang Sama dalam Psikologi

Keinginan kembali ke kursi yang sama bukan sekadar fenomena yang muncul dalam percakapan sehari-hari. Dalam psikologi lingkungan, perilaku manusia dalam memilih dan menggunakan ruang memang menjadi salah satu objek penelitian, termasuk bagaimana seseorang mengembangkan preferensi terhadap area tertentu.

Association for Psychological Science (APS) secara khusus pernah membahas fenomena ini dalam artikel berjudul The Psychology Behind Why You Always Want to Sit in the Same Seat. Menurut penjelasan tersebut, kecenderungan selalu memilih kursi yang sama dapat menjadi salah satu ekspresi territoriality, yaitu mekanisme pengorganisasian ruang ketika seseorang secara informal menganggap area tertentu sebagai wilayahnya.

Konsep tersebut membantu menjelaskan mengapa orang mempunyai kursi favorit di ruang rapat, memilih sisi tertentu ketika duduk di kendaraan, atau kembali ke area yang sama ketika mengikuti kegiatan rutin. Penggunaannya tidak harus disertai aturan atau tanda kepemilikan apa pun.

Dengan kata lain, ketika kaki seperti otomatis menuju kursi yang sama setiap kali memasuki ruangan, ada kemungkinan perilaku tersebut bukan hanya masalah kenyamanan fisik. Ruang tertentu perlahan dapat memperoleh arti psikologis karena terus digunakan.

Konsep Territoriality atau Teritorialitas

Istilah territoriality mungkin terdengar seperti sesuatu yang berkaitan dengan wilayah negara atau hewan yang mempertahankan daerahnya. Dalam perilaku manusia, konsepnya jauh lebih luas dan sering muncul dalam bentuk yang sangat sederhana.

Seseorang dapat memperlakukan meja kerja tertentu, kursi di kelas, sisi sofa, atau tempat di meja makan sebagai area yang secara informal dianggap sebagai wilayahnya. Tidak ada klaim kepemilikan resmi, tetapi penggunaan berulang menciptakan semacam aturan tidak tertulis.

Profesor psikologi lingkungan Robert Gifford menjelaskan bahwa teritorialitas tidak selalu berkaitan dengan agresi. Salah satu fungsinya justru membantu mengatur penggunaan ruang sehingga orang memahami area yang biasanya digunakan oleh orang lain.

Contohnya mudah terlihat dalam keluarga. Tanpa pernah berdiskusi mengenai pembagian kursi, anggota keluarga dapat mempunyai tempat masing-masing ketika makan atau menonton televisi. Ketika posisi tersebut berubah, suasana terasa sedikit berbeda meskipun sebenarnya semua kursi tersedia untuk siapa saja.

Tapi teritorialitas bukan satu-satunya alasan seseorang kembali ke kursi yang sama. Faktor yang sangat sederhana seperti familiaritas juga dapat memengaruhi pilihan. Setelah beberapa kali duduk di suatu posisi, seseorang sudah mengetahui bagaimana pengalaman berada di sana. Ia tahu arah pandangan, jarak terhadap pintu, intensitas cahaya, suhu, tingkat kebisingan, hingga siapa yang biasanya duduk di sekitarnya.

Pengetahuan tersebut membuat lingkungan terasa lebih dapat diprediksi. Berpindah ke posisi lain berarti menghadapi kondisi yang sedikit berbeda, meskipun perubahannya hanya berupa arah cahaya atau jarak terhadap orang lain. Karena itu, kursi favorit tidak selalu menjadi tempat yang secara objektif paling baik. Tempat tersebut mungkin hanya menjadi posisi yang paling dikenal sehingga tidak membutuhkan banyak penyesuaian baru.

Kebiasaan Memilih Kursi yang Sama

Rasa memiliki terhadap suatu posisi ternyata tidak harus menunggu bertahun-tahun. Dalam beberapa situasi, preferensi terhadap tempat duduk dapat mulai terbentuk setelah ruang digunakan secara rutin selama beberapa hari.

Penelitian Gilles Clément dan Angie Bukley mengikuti posisi tempat duduk peserta dalam dua program pendidikan yang berlangsung selama 19 dan 44 hari. Peserta bebas memilih tempat setiap kali mengikuti kelas, sementara posisi mereka diamati sepanjang program.

Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian peserta mulai menetap pada lokasi tertentu sejak hari kedua. Pada akhir program yang lebih panjang, 52,5 persen peserta telah menetap pada lokasi tempat duduk tertentu. Peneliti menafsirkan kebiasaan kembali ke posisi yang sama tersebut sebagai salah satu strategi membangun wilayah pribadi dalam lingkungan yang terbatas dan digunakan bersama.

Artinya, seseorang tidak harus menggunakan kursi yang sama selama berbulan-bulan sebelum mulai merasa bahwa posisi tersebut adalah “tempat biasanya”. Pola dapat muncul setelah serangkaian pengalaman yang relatif singkat tetapi konsisten.

Kursi Terasa Milik Sendiri

Ada perbedaan antara benar-benar memiliki suatu benda dan sekadar merasa bahwa benda atau tempat tersebut “milik kita”. Dalam psikologi, perasaan semacam ini dikenal sebagai psychological ownership atau kepemilikan psikologis.

Fenomena serupa bisa muncul pada meja kantor, sisi tempat tidur, rak tertentu di rumah, atau kursi favorit di ruang keluarga. Semakin sering sebuah tempat digunakan, semakin mudah seseorang menghubungkannya dengan dirinya sendiri.

Itulah yang membuat kalimat seperti “itu kursiku” sering terlontar secara spontan. Biasanya orang yang mengucapkannya tidak benar-benar bermaksud bahwa kursi tersebut miliknya, tetapi secara psikologis tempat itu sudah menjadi bagian dari rutinitas personal.

Pilihan Tempat Duduk Juga Dipengaruhi Kondisi Ruangan

Tidak semua kecenderungan memilih tempat yang sama harus dijelaskan melalui psikologi yang kompleks. Tata ruang sendiri dapat membuat suatu posisi jauh lebih menarik dibanding kursi lainnya.

Seseorang yang sering menggunakan laptop mungkin memilih tempat dekat stopkontak. Orang yang ingin menghindari lalu-lalang akan mencari pojok, sedangkan seseorang yang perlu keluar lebih dulu mungkin memilih kursi dekat pintu.

Arah pandangan juga bisa menentukan. Di kelas atau ruang rapat, posisi tertentu menawarkan pandangan lebih jelas terhadap layar. Di kafe, orang mungkin menyukai tempat dekat jendela karena pencahayaan dan pemandangannya.

Setelah menemukan posisi yang memenuhi berbagai kebutuhan tersebut, wajar jika seseorang terus kembali ke sana. Pilihan awalnya mungkin praktis, tetapi penggunaan yang terus berulang dapat membuat tempat tersebut semakin familiar dan terasa personal.

Mengapa Merasa Kesal Ketika Kursi Favorit Ditempati Orang?

Ketika sebuah kursi sudah digunakan secara berulang, seseorang dapat membentuk ekspektasi bahwa tempat tersebut akan tersedia lagi pada kesempatan berikutnya. Ekspektasi inilah yang membuat situasi terasa sedikit mengganggu ketika ternyata ada orang lain yang sudah duduk di sana.

Rasa tidak nyaman tersebut dapat berasal dari beberapa hal sekaligus. Ada rutinitas yang berubah, posisi baru yang perlu dipilih, serta kemungkinan munculnya rasa bahwa wilayah yang biasa digunakan telah ditempati orang lain.

Dalam banyak kasus, reaksinya sangat ringan. Seseorang mungkin sempat bergumam dalam hati, mencari kursi lain, kemudian kembali menjalankan aktivitas seperti biasa.

Justru fenomena kecil itulah yang memperlihatkan bagaimana manusia bisa membangun hubungan psikologis dengan sebuah ruang. Kursinya sendiri mungkin sama dengan puluhan kursi lain di ruangan, tetapi pengalaman berulang membuat satu posisi memperoleh arti yang berbeda.

Kapan Kebiasaan Duduk di Tempat yang Sama Perlu Diperhatikan?

Dalam kebanyakan situasi, mempunyai kursi favorit bukan masalah. Perilaku tersebut dapat muncul dari kombinasi teritorialitas, familiaritas, kebutuhan praktis, serta penggunaan ruang secara berulang.

Yang lebih perlu diperhatikan bukan apakah seseorang mempunyai kursi favorit, melainkan seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari. Rasa sedikit kecewa ketika tempat tersebut ditempati orang masih sangat berbeda dengan respons yang menimbulkan konflik atau tekanan emosional berat.

Misalnya, seseorang patut memperhatikan pola tersebut apabila benar-benar tidak mampu mengikuti kegiatan hanya karena harus berpindah tempat, mengalami kecemasan berat ketika rutinitas kecil berubah, atau berkali-kali berselisih dengan orang lain mengenai ruang yang sebenarnya digunakan bersama.

Meski begitu, satu kebiasaan tidak cukup untuk menentukan adanya kondisi psikologis tertentu. Penilaian kesehatan mental membutuhkan gambaran yang jauh lebih luas mengenai pikiran, emosi, perilaku, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar yang Sering Diajukan

1. Apakah normal jika selalu ingin duduk di tempat yang sama?

Ya. Penelitian tentang pilihan tempat duduk menunjukkan bahwa sebagian orang memang cenderung kembali ke posisi yang sama setelah menggunakan sebuah ruang secara berulang.

2. Apa arti psikologis suka duduk di tempat yang sama?

Salah satu penjelasannya adalah territoriality, yaitu kecenderungan manusia membangun wilayah personal dalam ruang yang digunakan bersama. Familiaritas dan kenyamanan juga dapat berperan.

3. Mengapa kursi biasa terasa seperti milik sendiri?

Penggunaan berulang dapat memunculkan psychological ownership, yaitu rasa memiliki terhadap suatu benda atau ruang meskipun secara resmi bukan milik pribadi.

4. Apakah kesal ketika kursi favorit ditempati orang lain termasuk normal?

Rasa sedikit terganggu dapat muncul karena rutinitas dan ekspektasi terhadap wilayah yang biasa digunakan berubah. Selama responsnya ringan dan tidak menghambat aktivitas, hal tersebut tidak otomatis menunjukkan masalah psikologis.

5. Apakah posisi tempat duduk menunjukkan kepribadian?

Tidak cukup hanya berdasarkan posisi duduk. Pilihan kursi dapat dipengaruhi tata ruang, kebutuhan aktivitas, kenyamanan, akses, familiaritas, dan banyak faktor lainnya.