8 Ciri Orang yang Suka Menata Ulang Perabot Rumah Menurut Psikologi, Punya Sisi Kreatif dan Adaptif

Ciri orang yang suka menata ulang perabot rumah menurut psikologi, dari menyukai keteraturan hingga mencari suasana baru.

Diterbitkan 27 Agustus 2026, 18:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ciri orang yang suka menata ulang perabot rumah menurut psikologi dapat memiliki alasan yang beragam, mulai dari mencari suasana baru hingga ingin membuat ruang terasa lebih nyaman. Kebiasaan memindahkan sofa, meja, kursi, atau dekorasi juga bisa menjadi cara seseorang menyesuaikan lingkungan dengan kebutuhan dan aktivitas sehari-hari.

Rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga dapat menjadi bagian dari identitas seseorang. Penelitian dalam Journal of Environmental Psychology menunjukkan bahwa orang dapat mengatur isi dan tampilan rumah sebagai bentuk ekspresi diri, sementara persepsi terhadap kondisi rumah juga berkaitan dengan kesejahteraan psikologis.

Meski begitu, kebiasaan sering mengubah posisi perabot tidak bisa langsung digunakan untuk menentukan kepribadian seseorang. Psikologi lebih tepat melihatnya sebagai kemungkinan pola perilaku yang dipengaruhi kebutuhan akan kenyamanan, kontrol, keteraturan, eksplorasi, atau perubahan suasana.

Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber beberapa ciri yang mungkin terlihat pada orang yang gemar menata ulang perabot rumah.

1. Suka Mencari Suasana Baru

Salah satu kemungkinan alasan seseorang sering mengubah posisi perabot adalah keinginan mendapatkan suasana yang berbeda. Ruang yang sama dapat terasa lebih segar hanya dengan memindahkan sofa, meja, rak, atau dekorasi ke posisi lain.

Kebiasaan tersebut juga dapat menjadi bentuk eksplorasi terhadap lingkungan sekitar. Penelitian mengenai preferensi ruang menunjukkan bahwa ketertarikan terhadap interior dapat dipengaruhi oleh aspek seperti keteraturan, daya tarik, dan seberapa personal sebuah ruang terasa bagi penghuninya.

Karena itu, orang yang cepat merasa bosan dengan tata letak yang sama mungkin lebih sering mencoba susunan baru. Namun, kebiasaan tersebut tidak otomatis berarti orang tersebut memiliki satu tipe kepribadian tertentu.

2. Memperhatikan Keteraturan Ruangan

Orang yang gemar menata ulang perabot biasanya cukup memperhatikan bagaimana benda-benda ditempatkan di dalam ruangan. Mereka mungkin merasa kurang nyaman ketika posisi perabot mengganggu alur berjalan atau membuat ruangan terasa terlalu penuh.

Dalam penelitian mengenai kepribadian dan dekorasi ruang, sifat conscientiousness atau kehati-hatian dan keteraturan dikaitkan dengan kebersihan, kerapian, serta kecenderungan menjaga ruang tetap teratur.

Meski demikian, tidak semua orang yang suka menata ulang perabot memiliki sifat tersebut. Keinginan membuat ruangan lebih praktis atau sesuai kebutuhan sehari-hari juga bisa menjadi alasan seseorang mengubah tata letak.

3. Ingin Memiliki Kendali atas Lingkungan

Menata ulang perabot memberikan kesempatan bagi seseorang untuk menentukan sendiri bagaimana ruang tempat tinggalnya digunakan. Sofa dapat diarahkan agar lebih nyaman untuk berbincang, meja dipindahkan agar lebih mudah digunakan untuk bekerja, atau rak diubah posisinya agar barang lebih mudah dijangkau.

Konsep fleksibilitas rumah dalam penelitian psikologi lingkungan berkaitan dengan pilihan dan kendali penghuni dalam menggunakan serta mengubah rumah sesuai kebutuhan yang berubah. Fleksibilitas semacam ini juga diteliti hubungannya dengan kesejahteraan psikologis penghuni.

Karena itu, kebiasaan mengatur ulang perabot bisa menjadi cara sederhana untuk membuat lingkungan terasa lebih sesuai dengan kebutuhan pribadi. Bukan berarti seseorang selalu ingin mengontrol segala sesuatu, melainkan dapat menunjukkan bahwa ia menghargai keleluasaan dalam mengatur ruangnya.

4. Mudah Menyesuaikan Rumah dengan Aktivitas

Tata letak rumah dapat berubah mengikuti aktivitas penghuninya. Ruang keluarga, misalnya, bisa diatur lebih terbuka ketika digunakan untuk berkumpul dan diubah kembali ketika membutuhkan ruang yang lebih lega.

Orang yang sering menyesuaikan posisi perabot mungkin terbiasa melihat rumah berdasarkan fungsi. Mereka tidak hanya mempertimbangkan apakah sebuah benda terlihat bagus, tetapi juga apakah posisinya memudahkan aktivitas yang dilakukan.

Pandangan terhadap ruang memang dapat dipengaruhi oleh aktivitas, kebutuhan privasi, area rumah, serta hubungan dengan orang lain yang menggunakan ruang tersebut. Artinya, perubahan tata letak dapat menjadi respons terhadap kebutuhan praktis, bukan sekadar keinginan mempercantik rumah.

5. Menjadikan Rumah sebagai Bentuk Ekspresi Diri

Perabot dan dekorasi rumah dapat digunakan untuk menunjukkan selera pribadi. Pemilihan warna, susunan benda, hingga posisi furnitur dapat membuat sebuah ruangan terasa lebih mencerminkan karakter dan kehidupan penghuninya.

Penelitian tentang rumah sebagai extended self menunjukkan bahwa rumah dapat menjadi bagian dari identitas seseorang. Penghuni dapat mengatur isi dan tampilan rumah untuk mencerminkan diri mereka, termasuk identitas yang ingin mereka tampilkan kepada diri sendiri maupun orang lain.

Orang yang sering menata ulang perabot mungkin menggunakan proses tersebut untuk menyesuaikan rumah dengan selera atau fase kehidupan yang sedang dijalani. Perubahan susunan ruang akhirnya menjadi salah satu cara untuk membuat rumah terasa lebih personal.

6. Memperhatikan Kenyamanan

Kenyamanan menjadi alasan sederhana yang sering membuat seseorang mengubah posisi perabot. Kursi yang terlalu jauh dari meja, sofa yang menghalangi jalan, atau meja kerja yang kurang mendapatkan pencahayaan dapat mendorong penghuni mencari susunan yang lebih nyaman.

Dalam psikologi lingkungan, karakteristik ruang dapat memengaruhi bagaimana seseorang mengalami dan menilai rumahnya. Penelitian mengenai ruang hunian juga menunjukkan bahwa aspek seperti aktivitas dan privasi ikut berperan dalam cara penghuni mengevaluasi ruang.

Karena itu, kebiasaan memindahkan perabot tidak selalu berkaitan dengan estetika. Bisa saja seseorang sedang mencari pengaturan yang membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih mudah dan rumah menjadi tempat yang lebih menyenangkan untuk ditempati.

7. Tidak Suka Ruangan Terlihat Berantakan

Orang yang sensitif terhadap kondisi ruangan dapat terdorong untuk menata kembali perabot ketika rumah mulai terasa penuh atau tidak teratur. Memindahkan beberapa benda mungkin dianggap sebagai cara cepat untuk mengembalikan kesan rapi.

Penelitian tahun 2025 dalam Journal of Environmental Psychology menemukan adanya hubungan antara kekacauan di rumah dengan kesejahteraan psikologis yang lebih rendah. Studi tersebut juga menemukan bahwa persepsi terhadap keindahan rumah menjadi salah satu faktor yang menjembatani hubungan tersebut.

Namun, ukuran “berantakan” bersifat subjektif. Tata ruang yang dianggap terlalu penuh oleh seseorang belum tentu dianggap demikian oleh orang lain. Karena itu, kebiasaan menata ulang lebih tepat dipahami berdasarkan standar kenyamanan masing-masing individu.

8. Senang Mencoba Tata Letak yang Berbeda

Sebagian orang memang menikmati proses mencoba berbagai kemungkinan dalam sebuah ruangan. Mereka dapat memindahkan sofa ke sisi lain, mengubah arah meja, atau menukar posisi dekorasi hanya untuk melihat apakah susunan baru terasa lebih menarik.

Kebiasaan bereksperimen dengan ruang dapat berkaitan dengan ketertarikan terhadap hal-hal baru, meski tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang memiliki sifat openness to experience. Penelitian tentang dekorasi ruang menemukan bahwa keterbukaan terhadap pengalaman berkaitan dengan karakter dekorasi tertentu, termasuk kecenderungan pada unsur yang lebih baru atau beragam.

Pada akhirnya, menata ulang perabot bisa menjadi aktivitas kreatif sekaligus praktis. Selama dilakukan sesuai kebutuhan dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari, kebiasaan tersebut merupakan salah satu cara seseorang membangun lingkungan rumah yang terasa cocok untuk dirinya.

Tanya Jawab Seputar Ciri Orang yang Suka Menata Ulang Perabot Rumah

Apakah suka menata ulang perabot menunjukkan kepribadian tertentu?

Tidak selalu. Kebiasaan tersebut dapat dipengaruhi kenyamanan, kebutuhan, selera, maupun keinginan mencari suasana baru.

Apakah menata rumah bisa memengaruhi suasana hati?

Kondisi dan persepsi terhadap lingkungan rumah berkaitan dengan kesejahteraan psikologis, meski hubungan tersebut tidak selalu berarti sebab-akibat langsung.

Apakah orang yang suka menata rumah berarti perfeksionis?

Belum tentu. Menata ulang perabot juga bisa dilakukan karena alasan fungsi, kenyamanan, atau sekadar ingin mencoba suasana berbeda.

Kenapa posisi perabot sering ingin diubah?

Beberapa orang mengubah tata letak untuk mendapatkan suasana baru, meningkatkan kenyamanan, atau menyesuaikan ruangan dengan aktivitas.

Apakah rumah bisa mencerminkan kepribadian?

Rumah dan dekorasinya dapat menjadi bentuk ekspresi diri, tetapi tidak cukup untuk menentukan kepribadian seseorang secara keseluruhan.