Liputan6.com, Jakarta - Ciri kalau kita jadi orang yang people pleaser sering muncul tanpa disadari di kehidupan sehari-hari. Kebiasaan mengutamakan perasaan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri kerap dianggap wajar, padahal pola ini bisa membuat seseorang terus dimanfaatkan tanpa perasaan. Fenomena ini banyak terjadi di lingkungan pertemanan, keluarga, hingga tempat kerja, terutama pada budaya yang menjunjung tinggi rasa sungkan dan menghindari konflik.
Penelitian dari Jurnal Antropologi berjudul "Perilaku People-Pleaser dalam Perspektif Sungkan, Sebuah Interpretasi Psiko-Antropologis" milik Universitas Andalas menyoroti kaitan antara perilaku people pleaser dengan budaya sungkan di masyarakat kita. Riset tersebut menjelaskan bahwa kebiasaan menuruti permintaan orang lain meski merasa berat hati sering terbentuk dari pola asuh keluarga dan tuntutan sosial sejak kecil. Pola ini kemudian melekat menjadi kebiasaan yang sulit disadari oleh pelakunya sendiri.
Mengenali ciri kalau kita jadi orang yang people pleaser sejak awal dapat membantu seseorang menata kembali batasan dalam hubungan sosial. Berikut Liputan6 rangkum 10 tanda yang perlu diperhatikan agar kebaikan hati tidak berujung pada kelelahan emosional dan hubungan yang tidak seimbang, Selasa (4/8).
Advertisement
1. Selalu Mengatakan Iya Meski Hati Menolak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315590/original/082395400_1785842301-Orang_people_pleser.jpg)
Orang dengan ciri people pleaser cenderung sulit mengucapkan kata tidak meski permintaan yang datang membebani dirinya. Rasa takut mengecewakan orang lain membuat jawaban iya keluar secara otomatis, bahkan sebelum sempat memikirkan konsekuensinya. Kebiasaan ini terjadi berulang kali dalam berbagai situasi, mulai dari pertemanan sampai pekerjaan.
Pola ini membuat waktu dan tenaga banyak terkuras untuk memenuhi keinginan orang lain. Akibatnya, kebutuhan pribadi kerap tertunda atau bahkan terlupakan karena prioritas selalu diberikan kepada permintaan di luar diri sendiri. Situasi ini berlangsung lama tanpa disadari sebagai sumber tekanan.
Riset budaya sungkan dari Universitas Andalas menyebut kebiasaan menuruti permintaan orang lain kerap berakar dari didikan keluarga yang menekankan sopan santun secara berlebihan. Anak dibiasakan menurut sejak kecil sehingga kebiasaan ini terbawa hingga dewasa tanpa sempat dipertanyakan.
2. Takut Menolak Permintaan Orang Lain
Ciri kalau kita jadi orang yang people pleaser berikutnya terlihat dari rasa takut berlebihan saat harus menolak permintaan. Bayangan akan dianggap tidak ramah atau egois membuat penolakan terasa seperti kesalahan besar. Perasaan ini muncul meski permintaan yang diajukan sebenarnya di luar kemampuan.
Ketakutan ini biasanya berasal dari pengalaman masa lalu, misalnya pernah dimarahi atau dijauhi setelah menolak sesuatu. Trauma kecil semacam ini tersimpan dan memengaruhi cara seseorang merespons permintaan di kemudian hari. Akibatnya, penolakan selalu terasa menakutkan meski situasinya berbeda.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini membuat seseorang sulit membangun batasan yang jelas dalam hubungan. Orang lain pun terbiasa meminta bantuan tanpa mempertimbangkan kondisi pihak yang dimintai tolong, karena permintaan tersebut hampir selalu dipenuhi.
3. Mengutamakan Kebutuhan Orang Lain di Atas Diri Sendiri
Orang dengan pola people pleaser terbiasa menomorduakan kebutuhan sendiri demi kenyamanan orang lain. Waktu istirahat, rencana pribadi, bahkan kesehatan sering dikorbankan hanya agar orang di sekitarnya tetap senang. Kebiasaan ini berjalan seperti sebuah keharusan yang tidak pernah dipertanyakan.
Sikap ini kerap dianggap sebagai bentuk kepedulian, padahal jika dilakukan terus menerus dapat mengikis kesejahteraan diri sendiri. Batas antara membantu dan mengorbankan diri menjadi kabur karena kebiasaan mendahulukan orang lain sudah tertanam sejak lama.
Riset psikologi dan antropologi tentang budaya sungkan menjelaskan bahwa sikap ini juga berkaitan dengan struktur keluarga yang menempatkan anggota tertentu sebagai pihak yang harus selalu mengalah. Posisi ini membentuk kebiasaan mendahulukan orang lain sebagai bagian dari identitas diri.
Advertisement
4. Merasa Bersalah Saat Menetapkan Batasan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5149623/original/067802700_1740994915-DSC03234.jpg)
Ciri people pleaser lainnya tampak ketika seseorang merasa bersalah setelah menetapkan batasan dalam hubungan. Perasaan tidak enak muncul meski batasan yang dibuat sebenarnya wajar dan diperlukan untuk menjaga kesehatan mental. Rasa bersalah ini sering membuat batasan yang sudah dibuat akhirnya dilanggar sendiri.
Kondisi ini terjadi karena adanya anggapan bahwa menjaga batasan sama dengan menyakiti orang lain. Padahal, batasan yang sehat justru diperlukan agar hubungan berjalan seimbang dan tidak menimbulkan kelelahan pada salah satu pihak.
Perasaan bersalah semacam ini biasanya tumbuh dari kebiasaan lama yang mengaitkan kepatuhan dengan kasih sayang. Semakin sering menuruti, semakin besar pula rasa diterima yang dirasakan, sehingga menetapkan batasan terasa seperti mengambil risiko kehilangan hubungan tersebut.
5. Sulit Mengungkapkan Pendapat yang Berbeda
Orang dengan kecenderungan people pleaser sering memilih diam meski memiliki pendapat berbeda dari orang lain. Pilihan ini diambil demi menghindari perdebatan atau ketegangan dalam percakapan. Pendapat pribadi akhirnya lebih sering disimpan sendiri daripada disampaikan secara terbuka.
Kebiasaan ini membuat suara dan kebutuhan pribadi jarang terdengar dalam sebuah hubungan atau diskusi kelompok. Lama kelamaan, orang di sekitarnya menganggap semua keputusan yang diambil sudah sesuai dengan keinginan bersama, padahal belum tentu demikian.
Situasi ini dapat memicu ketidakpuasan yang terpendam dalam waktu lama. Ketika perasaan tersebut menumpuk tanpa pernah disampaikan, hubungan yang terlihat baik-baik saja dari luar sebenarnya menyimpan ketegangan yang tidak pernah terselesaikan.
6. Selalu Meminta Maaf Meski Bukan Kesalahan Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4766157/original/024391300_1709878794-Ilustrasi_minta_maaf__bersyukur__terima_kasih__muslimah__Islami.jpg)
Ciri kalau kita jadi orang yang people pleaser juga terlihat dari kebiasaan meminta maaf secara berlebihan. Kata maaf keluar bahkan dalam situasi yang sebenarnya bukan kesalahan diri sendiri, misalnya saat menyampaikan pendapat atau meminta bantuan sederhana kepada orang lain.
Kebiasaan ini muncul dari keinginan menjaga suasana tetap nyaman bagi semua pihak. Permintaan maaf dijadikan cara instan untuk meredakan potensi ketegangan, meski situasi yang dihadapi sebenarnya tidak memerlukan permintaan maaf sama sekali.
Pola semacam ini dapat membuat orang lain menganggap wajar untuk terus menyalahkan, karena permintaan maaf selalu datang tanpa perlawanan. Akibatnya, posisi diri dalam hubungan menjadi lebih rendah dibandingkan pihak lain yang terbiasa menerima permintaan maaf tersebut.
7. Mengubah Sikap Demi Diterima Orang Lain
Orang yang memiliki pola people pleaser cenderung mengubah cara bicara, pendapat, bahkan kebiasaan demi diterima dalam sebuah kelompok. Penyesuaian ini dilakukan berulang kali tergantung siapa lawan bicaranya, sehingga sulit menemukan sikap yang konsisten dalam berbagai situasi.
Kebiasaan ini berawal dari rasa takut ditolak atau dijauhi oleh lingkungan sosial. Demi menghindari perasaan tersebut, seseorang rela menyesuaikan diri secara berlebihan meski hal itu bertentangan dengan keinginan pribadinya sendiri.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini membuat seseorang kehilangan gambaran jelas tentang jati dirinya sendiri. Identitas yang terus berubah mengikuti lingkungan membuat proses mengenali kebutuhan dan keinginan pribadi menjadi semakin sulit dilakukan.
8. Menghindari Konflik dengan Segala Cara
Menghindari konflik menjadi salah satu ciri utama pada orang dengan pola people pleaser. Segala cara ditempuh agar suasana tetap tenang, termasuk mengalah dalam situasi yang sebenarnya merugikan diri sendiri. Konflik dianggap sebagai ancaman besar yang harus dihindari.
Kebiasaan ini sering berakar dari budaya yang menekankan pentingnya menjaga keharmonisan sosial, seperti rasa sungkan dalam masyarakat Jawa yang dibahas dalam riset psikologi dan antropologi terkait perilaku people pleaser. Menjaga suasana tetap damai dianggap lebih penting dibandingkan menyuarakan ketidaksetujuan.
Padahal, menghindari konflik secara terus menerus dapat membuat masalah yang sebenarnya kecil menjadi menumpuk dan sulit diselesaikan. Ketegangan yang tidak pernah dibicarakan secara terbuka justru berpotensi merusak hubungan dalam jangka panjang.
9. Merasa Tanggung Jawab atas Perasaan Orang Lain
Orang dengan pola people pleaser sering merasa bertanggung jawab penuh atas kebahagiaan orang di sekitarnya. Ketika seseorang terlihat kecewa atau sedih, muncul dorongan kuat untuk segera memperbaiki keadaan tersebut, meski penyebabnya bukan berasal dari dirinya sendiri.
Kebiasaan ini membuat batas antara empati dan tanggung jawab menjadi kabur. Perasaan orang lain dianggap sebagai urusan pribadi yang harus segera diselesaikan, sehingga energi dan waktu banyak tersita untuk hal yang sebenarnya berada di luar kendali diri sendiri.
Pola pikir ini dapat memicu kelelahan emosional karena seseorang terus menerus berusaha mengontrol perasaan orang lain. Padahal, setiap individu memiliki tanggung jawab masing-masing atas emosi yang dirasakannya sendiri.
10. Kelelahan Emosional karena Terlalu Banyak Memberi
Kelelahan emosional menjadi ciri yang paling terasa pada orang dengan kebiasaan people pleaser dalam jangka panjang. Terlalu banyak memberi tanpa pernah menerima keseimbangan membuat energi dan perhatian terus terkuras hingga menimbulkan rasa lelah yang mendalam.
Kondisi ini sering tidak disadari karena kebiasaan memberi sudah berlangsung lama dan dianggap sebagai bagian dari kepribadian. Rasa lelah baru muncul ketika tubuh dan pikiran sudah berada pada titik jenuh setelah terus menerus mengutamakan kebutuhan orang lain.
Riset tentang budaya sungkan menyebut dampak psikologis dan sosial dari perilaku people pleaser dapat berlangsung dalam waktu lama jika tidak disadari sejak awal. Mengenali kelelahan ini menjadi langkah penting agar seseorang mulai belajar memberikan perhatian pada dirinya sendiri.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang People Pleaser
1. Apa itu people pleaser?
People pleaser adalah istilah untuk seseorang yang terbiasa mengutamakan keinginan orang lain dan kesulitan menolak permintaan meski merasa keberatan.
2. Apa penyebab seseorang menjadi people pleaser?
Kebiasaan ini sering terbentuk dari pola asuh keluarga, tekanan sosial, serta budaya yang menekankan sopan santun dan menghindari konflik sejak kecil.
3. Bagaimana cara berhenti menjadi people pleaser?
Langkah awal dapat dimulai dengan belajar mengenali kebutuhan diri sendiri, berlatih menetapkan batasan, dan membiasakan diri menolak permintaan yang memberatkan.
4. Apakah people pleaser termasuk gangguan mental?
People pleaser bukan diagnosis gangguan mental, melainkan pola perilaku yang jika dibiarkan dapat memicu kelelahan emosional dan masalah psikologis lain.
5. Apa bedanya people pleaser dengan orang baik?
Orang baik membantu berdasarkan kemampuan dan kemauan sendiri, sedangkan people pleaser sering membantu karena takut ditolak atau dijauhi orang lain.
Â
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312395/original/029328500_1785490278-Screenshot_2026-07-31_154400.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306600/original/019959200_1784885023-PLN_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315322/original/015511800_1785834344-cek_fakta_-_Bank_Bali.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296926/original/028949100_1784034568-Menteri_Komunikasi_dan_Digital__Menkomdigi__Meutya_Hafid-14_Juli_2026d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314461/original/061183100_1785747505-7238e32c-ae27-4572-abf5-aed28a988fda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4473583/original/010189000_1687242103-Emi_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5269743/original/092797600_1751358995-Gianni_Infantino.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302387/original/003320700_1784544976-Argentina_s_Nicolas_Otamendi__19__and_Nahuel_Molina__26__scuffle_with_Spain___s_Rodri__16_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294318/original/065079400_1783829517-063_2285706113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9245742/original/085478200_1783138991-verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299398/original/064759200_1784250864-000_B8VA8NK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300741/original/083077900_1784373810-olmo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4940763/original/078857600_1725937260-Ilustrasi_ngobrol__bicara__komunikasi__menyapa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315406/original/001041700_1785837019-a00ba15d-9b7f-45e3-8166-e6eddc2067fb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314477/original/055473200_1785748246-nIJzsNLwAJ6cNxoz26Xa1NpAvtznlMJTjvTgA5iX.jpg)