Liputan6.com, Jakarta Cara mengenali orang yang ambisius dari kebiasaannya paling mudah dilakukan dengan mengamati rutinitas kecil yang mereka jalani setiap hari. Kebiasaan seperti bangun lebih awal, mengatur waktu dengan rapi, dan terus belajar biasanya menjadi penanda yang paling jujur.
Tidak berhenti pada rutinitas, cara mengenali orang yang ambisius dari kebiasaannya juga tampak dari pola pikir dan lingkaran pergaulannya. Mereka punya tujuan yang jelas, berani mengambil risiko, dan senang mengelilingi diri dengan orang-orang yang sama gigihnya.
Perlu dipahami, sifat ambisius sebenarnya bukan sekadar dorongan mengejar sesuatu tanpa arah. Neel Burton, psikiater sekaligus penulis buku Heaven and Hell: The Psychology of the Emotions, dikutip dari Fast Company menyatakan, "Rata-rata, orang ambisius meraih pendidikan dan penghasilan lebih tinggi, karier lebih bergengsi, serta kepuasan hidup yang lebih tinggi."
Advertisement
Cara Mengenali Orang yang Ambisius dari Kebiasaan Produktivitasnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3725808/original/047301100_1639724609-pexels-karolina-grabowska-4468089.jpg)
Rutinitas harian adalah cermin paling jujur dari karakter seseorang. Salah satu cara mengenali orang yang ambisius dari kebiasaannya adalah dengan mengamati bagaimana ia memperlakukan waktu dan energi sejak pagi hingga malam.
-
Bangun lebih awal: Mereka memanfaatkan pagi yang tenang untuk berolahraga, membaca, atau menyusun rencana. Tidak heran, banyak tokoh sukses menjadikan bangun jam 5 pagi sebagai bagian dari gaya hidup mereka.
-
Disiplin mengatur waktu: Agenda mereka padat, tetapi tertata. Kemampuan manajemen waktu membuat mereka fokus pada hal yang benar-benar penting.
-
Memecah pekerjaan agar tetap fokus: Banyak yang memakai metode kerja terstruktur seperti teknik Pomodoro untuk menjaga konsentrasi dan menghindari penundaan.
-
Belajar hal baru tanpa henti: Mereka pembelajar seumur hidup yang gemar membaca, mendengarkan podcast, atau mengikuti kursus untuk mengasah keterampilan.
Dilansir dari Hive, menjadi lebih ambisius sejatinya adalah proses yang tersusun dari langkah-langkah kecil yang bisa dicapai, dan hanya membutuhkan fokus, dedikasi, kesabaran, serta kerja keras.
Baca juga: manfaat bangun pagi bagi produktivitas dan kesehatan.
Advertisement
Cara Mengenali Orang yang Ambisius dari Pola Pikir dan Sikapnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938351/original/036764100_1725616935-Ilustrasi_ambisius__idealis.jpg)
Cara mengenali orang yang ambisius dari kebiasaannya tidak berhenti pada aktivitas fisik; sebagian justru tersembunyi dalam pola pikir. Sikap mental mereka paling terlihat saat berhadapan dengan tujuan maupun kegagalan.
-
Punya tujuan yang jelas: Mereka terbiasa menetapkan tujuan hidup jangka pendek dan panjang, sering kali dengan prinsip tujuan yang SMART.
-
Berani mengambil risiko: Mereka tidak takut keluar dari zona nyaman dan berani mengambil risiko yang telah diperhitungkan.
-
Pantang menyerah: Kegagalan dipandang sebagai umpan balik, bukan akhir. Mereka cepat bangkit dan menghadapi tantangan baru.
-
Percaya diri: Ada keyakinan kuat pada kemampuan diri untuk mewujudkan target yang telah ditetapkan.
Konsistensi jangka panjang inilah yang membedakan mereka. Angela Duckworth, dalam bukunya Grit: The Power of Passion and Perseverance, menuliskan, "Grit adalah passion dan kegigihan untuk tujuan-tujuan jangka sangat panjang."
Menariknya, sebagian orang ambisius justru memilih merahasiakan tujuan besarnya. Mengacu pada ulasan A Conscious Rethink, menceritakan rencana ke banyak orang dapat menipu pikiran seolah tujuan telah tercapai, sehingga motivasi untuk bekerja keras malah menurun.
Cara Mengenali Orang yang Ambisius dari Cara Mereka Bergaul
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3613278/original/045454600_1635230441-photo-1596257097305-fd521b52117c__1_.jpg)
Lingkungan sosial ikut membentuk sekaligus menampakkan ambisi seseorang. Siapa yang mereka ajak berjejaring dan berdiskusi menjadi salah satu cara mengenali orang yang ambisius dari kebiasaannya.
-
Rajin membangun relasi: Mereka supel dan tidak ragu menyapa rekan lintas divisi. Kebiasaan membangun relasi dilakukan untuk bertukar pikiran, bukan memanfaatkan orang lain.
-
Gemar memperluas koneksi: Mereka aktif memperluas jaringan karena sadar koneksi membuka peluang, sekaligus rutin menjalin relasi baru.
-
Berteman dengan orang yang sama gigihnya: Mereka sengaja berteman dengan para pengambil risiko agar tertular energi dan motivasi.
-
Menetapkan standar tinggi: Baik untuk diri sendiri maupun tim, demi menjaga lingkungan tetap produktif.
Jason Ma, penulis buku Young Leaders 3.0, dikutip dari LinkedIn menyarankan, "Berteman dan belajarlah dari orang-orang yang lebih pintar dan lebih sukses di bidang yang kamu minati."
Advertisement
Sisi Lain Ambisi yang Perlu Diwaspadai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3553500/original/035584400_1630070152-photo-1606511647870-4106713a7354.jpg)
Ambisi yang sehat mendorong kemajuan, tetapi ambisi yang tidak terkendali bisa berbalik merugikan. Berikut beberapa sisi yang kerap menyertai orang berambisi tinggi dan perlu dikelola dengan bijak.
-
Mudah gelisah: Ketika target belum tercapai, mereka bisa merasa gelisah dan sulit menenangkan diri.
-
Perfeksionis dan sulit puas: Pencapaian sering terasa kurang sehingga mereka jarang berhenti untuk merayakan keberhasilan.
-
Rentan burnout: Kebiasaan bekerja berlebihan berisiko memicu burnout serta hilangnya semangat kerja.
-
Mengabaikan istirahat: Fokus pada tujuan membuat mereka lupa mengatasi stres di tempat kerja dan merawat diri.
-
Berisiko mengisolasi diri: Berdasarkan laporan Facts.net, pengejaran tujuan yang ambisius kadang memicu isolasi karena tujuan diprioritaskan di atas hubungan sosial.
-
Persaingan tidak sehat: Dalam kadar berlebihan muncul kecenderungan menghalalkan segala cara. Sikap ambisi yang berlebihan justru menjauhkan seseorang dari sukses dan kebahagiaan.
Kuncinya adalah menyeimbangkan dorongan itu dengan tujuan yang bermakna. Jeff DeGraff, profesor di Ross School of Business, dikutip dari Psychology Today menegaskan, "Ambisi terbaik adalah ambisi yang ditentukan oleh diri sendiri, bukan didorong dari luar."
Pada akhirnya, mengenali kebiasaan-kebiasaan ini membantu kita memahami diri sendiri sekaligus orang di sekitar. Selama diimbangi istirahat, empati, dan arah yang jelas, ambisi bisa menjadi bahan bakar menuju hidup yang lebih baik. Karen Nimmo, psikolog klinis, dikutip dari Medium menyatakan, "Ambisi bukanlah - dan seharusnya bukan - sebuah kata yang buruk."
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Orang Ambisius
Apakah sifat ambisius itu baik atau buruk?
Ambisius pada dasarnya netral. Sifat ini menjadi baik ketika mendorong kemajuan dan pengembangan diri, tetapi bisa berdampak buruk bila berlebihan hingga mengorbankan kesehatan serta hubungan dengan orang lain.
Bagaimana ciri ambisi yang sudah tidak sehat?
Ambisi mulai tidak sehat saat muncul kelelahan berkepanjangan, kebiasaan mengabaikan istirahat, hingga kecenderungan menghalalkan segala cara. Mengenali ciri-ciri burnout sejak dini bisa membantu mencegahnya.
Apakah sifat ambisius bisa dilatih?
Bisa. Ambisi dapat ditumbuhkan lewat kebiasaan kecil yang konsisten, seperti menetapkan tujuan yang spesifik, berani mencoba hal baru, dan mengevaluasi kemajuan secara berkala.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314981/original/095911000_1785820083-Screenshot_2026-08-04_112610.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572710/original/034284200_1777866003-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-05-04T103851.830.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5307544/original/024849800_1754469684-IMG_0583.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4562108/original/018876600_1693790769-cek_fakta_gizi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314477/original/055473200_1785748246-nIJzsNLwAJ6cNxoz26Xa1NpAvtznlMJTjvTgA5iX.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4473583/original/010189000_1687242103-Emi_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5269743/original/092797600_1751358995-Gianni_Infantino.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302387/original/003320700_1784544976-Argentina_s_Nicolas_Otamendi__19__and_Nahuel_Molina__26__scuffle_with_Spain___s_Rodri__16_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294318/original/065079400_1783829517-063_2285706113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9245742/original/085478200_1783138991-verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299398/original/064759200_1784250864-000_B8VA8NK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300741/original/083077900_1784373810-olmo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)