Iran Terancam Sanksi Jika Mundur dari Piala Dunia 2026: Denda Miliaran hingga Larangan Bertanding

Keputusan Iran mundur dari Piala Dunia 2026 berpotensi memicu sanksi berat dari FIFA, meliputi denda finansial miliaran rupiah, kewajiban pengembalian dana.

OlehThomas
Diterbitkan 12 Maret 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

FIFA menyediakan $1,5 juta untuk biaya persiapan tim dan $10,5 juta untuk partisipasi setiap tim yang lolos. Dengan demikian, Iran bisa diminta untuk mengembalikan total sekitar $12 juta, yang merupakan jumlah signifikan di luar denda finansial yang telah disebutkan.

Kewajiban pengembalian dana ini bertujuan untuk memastikan bahwa sumber daya FIFA digunakan secara efisien dan tidak disalahgunakan. Dana tersebut dialokasikan untuk mendukung tim-tim peserta agar dapat mempersiapkan diri secara optimal untuk turnamen global ini.

Sanksi Disipliner Tambahan dan Larangan Kompetisi

Komite Disipliner FIFA memiliki wewenang penuh untuk menjatuhkan sanksi tambahan yang lebih berat, tergantung pada waktu dan keadaan pengunduran diri. Sanksi disipliner ini dapat mencakup pengusiran asosiasi yang bersangkutan dari kompetisi FIFA berikutnya.

Potensi sanksi ini bisa berupa larangan tampil di Kualifikasi Piala Dunia 2030 atau kompetisi internasional lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa FIFA serius dalam menjaga komitmen para peserta dan akan mengambil tindakan tegas terhadap pelanggaran regulasi.

Pernyataan Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, yang sempat meragukan partisipasi Iran dengan mengatakan, "kita tidak bisa diharapkan untuk menantikan Piala Dunia dengan harapan" dalam kondisi saat ini, menambah kompleksitas situasi.

Mekanisme Penggantian Tim yang Mundur

Jika Iran benar-benar mundur, FIFA memiliki diskresi penuh untuk memutuskan bagaimana mengisi kekosongan tersebut. Pasal 6.7 dari regulasi FIFA menyatakan bahwa jika Asosiasi Anggota Peserta mengundurkan diri atau dikeluarkan dari Piala Dunia, FIFA dapat memutuskan, khususnya, untuk mengganti asosiasi tersebut dengan asosiasi lain.

FIFA dapat memilih untuk mengganti Iran dengan tim dari konfederasi yang sama, seperti Irak atau Uni Emirat Arab, yang mungkin menjadi kandidat potensial. Namun, tidak ada aturan yang dikodifikasi secara spesifik mengenai pengganti, sehingga keputusan sepenuhnya ada pada FIFA.

Opsi lain yang mungkin dipertimbangkan adalah melanjutkan turnamen dengan grup yang berisi tiga tim, meskipun ini akan mengubah format kompetisi. Keputusan akhir akan bergantung pada berbagai faktor, termasuk waktu pengunduran diri dan dampak terhadap jadwal turnamen.

Klausul Force Majeure Sebagai Pengecualian

Dalam keadaan luar biasa seperti perang atau bencana alam, FIFA dapat menerapkan klausul force majeure yang dapat membebaskan tim dari sanksi. Klausul ini akan membebaskan Iran atau negara lain yang terkena dampak dari tanggung jawab dalam kasus perang atau bencana alam.

Namun, keputusan untuk mengakui force majeure sepenuhnya berada di tangan badan penyelenggara FIFA yang berwenang. Mereka akan memutuskan masalah tersebut atas kebijaksanaannya sendiri dan mengambil tindakan apa pun yang dianggap perlu, dengan mempertimbangkan semua keadaan relevan.

Meskipun demikian, pernyataan Menteri Pemuda dan Olahraga Iran yang menyebutkan alasan keamanan dan ketegangan politik dapat menjadi dasar untuk mengajukan permohonan force majeure. Namun, persetujuan dari FIFA tidak serta-merta diberikan dan akan melalui proses evaluasi yang cermat.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan