Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (23/9/2026) bahwa perang telah "dipaksakan" terhadap negaranya. Ia menegaskan Iran tidak akan berhenti membela diri, tetapi tetap terbuka terhadap perundingan untuk mencapai perdamaian.
"Perang dipaksakan kepada kami, tetapi kami telah membuktikan bahwa kami tidak takut berperang untuk membela diri. Kami juga tidak menghindari perundingan demi perdamaian dan siap mengorbankan nyawa untuk membela Iran yang kami cintai," kata Pezeshkian dalam pidatonya, seperti dilaporkan kantor berita Iran, IRNA.
Pezeshkian kemudian menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sehari sebelumnya yang menyebut Iran sebagai teroris.
Advertisement
"Kemarin, presiden AS mengatakan Iran adalah teroris. Padahal, kamilah korban terorisme. Saya berasal dari negara yang pemimpinnya dibunuh tanpa dasar hukum apa pun. Saya berasal dari negara yang sebuah sekolahnya dibom," ujar Pezeshkian.
"Lihatlah anak-anak di Minab yang dibom dan dibunuh. Israel dan AS menggunakan senjata mereka untuk membunuh anak-anak kami. Anak-anak kami tidak melakukan kesalahan apa pun."
Ia melanjutkan, "Lamerd adalah sebuah kota kecil di Iran. Anak-anak kami sedang berolahraga di sebuah gedung olahraga ketika AS membombardir tempat itu dengan bom tandan yang kemudian pecah menjadi ribuan serpihan. Mereka membunuh ilmuwan, warga, perempuan, dan anak-anak kami. Para teroris dan pihak yang melatih teroris justru menyebut kami teroris. Kami hanya membela diri. Kami bukan teroris."
Menyinggung serangan yang disebutnya tidak adil, Pezeshkian mengatakan AS dan Israel menyerang Iran dengan persenjataan militer mutakhir. Namun, rakyat Iran tetap mempertahankan negaranya.
"Mereka menyerang kami, tetapi kami tidak tunduk. Kami membalas serangan mereka, tetapi tidak menargetkan warga sipil," tuturnya.
"Mereka menyerang sekolah, rumah sakit, pusat-pusat ilmiah, jembatan, dan infrastruktur kami. Tindakan itu melanggar hukum internasional."
Â
Pezeshkian Kritik Standar Ganda terhadap Iran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356623/original/072860000_1790213802-Untitled.jpg)
Pezeshkian kemudian menyinggung tema Sidang Majelis Umum PBB kali ini, yakni "Rebuilding Trust" atau "Membangun Kembali Kepercayaan".
"Kepercayaan tidak dibangun hanya dengan kata-kata. Untuk membangun kepercayaan, kita harus menghindari standar ganda. Di kawasan, rezim Israel-lah yang memiliki bom atom dan senjata pemusnah massal lainnya. Namun, justru Iran yang diminta menjalani inspeksi," ujarnya.
"Israel membantai 70.000 orang di Gaza, tetapi justru Iran yang dibom ketika sedang berada di meja perundingan. Israel memiliki bom atom dan bukan pihak dalam NPT. Sepanjang keberadaannya yang memalukan, Israel tidak pernah mengizinkan satu pun inspektur masuk ke wilayah yang didudukinya. Namun, negara itu justru mendapat senjata gratis senilai miliaran dolar dan dibiarkan mengebom ibu kota mana pun yang dikehendakinya tanpa konsekuensi."
Ia menegaskan, "Saya ulangi, bom atom ada di Israel, tetapi para inspektur berada di Iran. Israel membunuh, tetapi Iran yang dikenai sanksi. Itulah tragedinya."
"Jika kita menginginkan keadilan, kawan maupun lawan harus dinilai dengan standar yang sama. Hak asasi manusia juga tidak boleh dijadikan alat dalam persaingan geopolitik. Iran tidak meminta perlakuan istimewa. Iran hanya menginginkan hak yang setara dan menerima tanggung jawab yang menyertainya," tegasnya.
Menurut Pezeshkian, sejarah panjang Iran telah mengajarkan satu hal yang jelas: dunia berbahaya bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan. Namun, dunia yang hanya memahami bahasa kekuatan, menurut dia, justru lebih berbahaya.
"Jika kepercayaan antarnegara hilang, bahkan angkatan bersenjata terkuat sekalipun tidak akan mampu menciptakan keamanan yang bertahan lama," tuturnya.
"Jika hukum internasional hanya ditegakkan ketika sesuai dengan kepentingan negara-negara kuat, semakin banyak negara akan merasa bahwa mereka hanya bisa mengandalkan kekuatan sendiri untuk menjaga keamanan. Dan itu akan menjadi awal dari dunia yang lebih berbahaya bagi kita semua."
Â
Advertisement
Iran Tolak Tekanan, Tetap Buka Pintu Dialog
"Kita tidak boleh membiarkan Abad ke-21 menjadi era kembalinya politik yang mengandalkan kekuatan dan dominasi pihak-pihak yang lebih kuat. Kita tidak boleh membangun dunia di mana kekuatan militer menggantikan legitimasi, sanksi menggantikan diplomasi, pembunuhan menggantikan politik, dan perang menggantikan dialog," kata Pezeshkian.
"Iran akan mempertahankan kekuatannya, tetapi tidak akan mengubah luka menjadi kebencian. Iran akan membela diri, tetapi tidak akan mewariskan perang kepada anak-anaknya."
Pezeshkian mengatakan Iran tetap membuka diri untuk bekerja sama dengan dunia.
"Seruan kami kepada dunia adalah perdamaian dan keadilan, bukan perang baru. Bukan karena kami lemah, melainkan karena kami yakin pada kekuatan sendiri dan memahami satu kenyataan: tidak ada satu pun pihak di kawasan ini yang bisa merasa aman sendirian. Kita akan membangun keamanan bersama atau menanggung ketidakamanan bersama," ujarnya.
Ia menegaskan, "Kami ingin membangun masa depan di mana keamanan, keadilan, dan martabat manusia menjadi hak yang tidak dapat dicabut dari semua bangsa. Masa depan di mana tidak ada bangsa yang disisihkan, tidak ada suara yang tenggelam oleh hiruk-pikuk kekuasaan, dan tidak ada kekuatan yang berhak menentukan masa depan pihak lain."
"Sebuah tatanan yang layak disebut 'internasional' harus berdiri di atas kesetaraan antarbangsa, keadilan, perlakuan yang adil, dan kehendak bersama umat manusia. Sebab, perdamaian yang tidak berlaku bagi semua bukanlah perdamaian, dan keadilan yang tidak berlaku bagi semua bukanlah keadilan," lanjutnya.
Kembali menyinggung ancaman terhadap Iran, Pezeshkian mengatakan pernyataan Trump sehari sebelumnya menunjukkan sikap intimidatif, penggunaan logika kekuatan, serta pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam PBB.
"Dia harus tahu bahwa ancaman justru akan membuat bangsa kami semakin bersatu dan kuat serta semakin memperkokoh perlawanan rakyat Iran," ungkap Pezeshkian.
"Dia harus memahami bahwa bangsa Iran tidak akan tunduk pada kekuatan dan akan membuat para agresor menyesali tindakan mereka."
Pezeshkian menegaskan Iran tetap siap menempuh jalur dialog.
"Kami siap berdialog, tetapi mereka harus tahu bahwa kami tidak akan menerima bahasa kekuatan," imbuhnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348780/original/066704200_1789457937-cek_fakta_-_pekerja_migran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337193/original/082818200_1788236451-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-01T111508.347.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339837/original/071003300_1788430175-alat_pertanian_-cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5017021/original/098300300_1732248955-cek_fakta_ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356614/original/062633400_1790213685-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411708/original/048619800_1479708636-Iran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1384773/original/024567600_1477395058-Donald_Trump.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355600/original/000121200_1790137179-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355452/original/098184600_1790132138-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4066834/original/034753100_1656461868-Harga_Minyak_AFP.jpg)