Tite Tak Bisa Tidur Nyenyak Pikirkan 26 Pemain Brasil di Piala Dunia 2022

Beberapa hari terakhir, Pelatih Timnas Brasil, Tite, mengaku tidak bisa tidur pulas karena gelisah memikirkan komposisi pemain Brasil di Piala Dunia 2022.

Diperbarui 06 November 2022, 22:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pelatih Timnas Brasil, Adenor Leonardo Bacchi alias Tite, mengaku tak bisa tidur nyenyak karena memikirkan Piala Dunia 2022. Brasil jadi salah satu favorit kuat juara Piala Dunia 2022 di Qatar.

Tite rencananya akan mengumumkan daftar 26 pemain yang akan diboyong ke putaran final Piala Dunia 2022, dan itu yang membuatnya sekarang sulit tidur.

Jika boleh, Tite ingin membawa semua pemain terbaik Brasil tanpa batasan kuota. Namun, aturan membuatnya harus memilih minimal 23 pemain dan maksimal 26 pemain untuk skuat akhir yang dibawa ke Qatar 2022.

"Rasa cemas 'menemani' saya dan saya selalu bangun jam 4 pagi. Istri saya sudah terbiasa melihat saya gelisah di tempat tidur," ungkap Tite dinukil dari Mediaset, Sabtu 5 November 2022.

"Dia selalu menyuruh saya untuk tenang dan mencoba untuk lebih banyak tidur. Tetapi saya memikirkan itu (memilih 26 pemain) dan itu membuatku gelisah."

"Saya harus mengungkapkan rasa terima kasih kepada semua orang yang pernah atau pernah menjadi bagian dari tim ini. Akan ada pilihan yang ditentukan oleh alasan teknis, tetapi saya respek kepada semua pemain," ujarnya.

Wajar jika Tite stres memikirkan pilihan terbaik dari sekian banyak pemain terbaik yang dimiliki Brasil. Pastinya ada banyak faktor yang dijadikan landasan Tite untuk menentukan 26 pemain Brasil di Piala Dunia 2022.

Timnas Brasil jadi favorit di Piala Dunia 2022, karena faktanya mereka adalah spesialis di Piala Dunia. Lima gelar juara dunia ditambah dukungan materi pemain mumpuni, jadi bukti nyata Selecao akan selalu berada di kelompok paling dekat dengan trofi.

 

Mundur setelah Piala Dunia 2022

Tite sendiri memastikan dia akan meninggalkan kursi pelatih Timnas Brasil setelah Piala Dunia 2022, terlepas dari apa pun pencapaian Selecao selama ekspedisi di Qatar.

Ketika Brasil tersingkir di babak perempat final Piala Dunia 2018 setelah dikandaskan Belgia, Tite sebenarnya sudah berniat mundur.

"Saya membicarakannya dengan keluarga dan setelah itu saya berubah pikiran (memilih bertahan). Empat tahun lagi terasa seperti selamanya bagi saya dan saya tidak tahu apakah budaya yang ada dalam sepak bola di Brasil memberikan saya kesabaran," katanya.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Tite memimpin Selecao sejak Agustus 2016 dan di bawah komandonya tim nasional Brail dalam 76 pertandingan, meraih 57 kemenangan, 18 seri dan 5 kekalahan. Dia mempersembahkan gelar juara Copa America 2019 di kandang sendiri lewat kemenangan 3-1 atas Peru di final. Tetapi Tite gagal memimpin Brasil mempertahankannya di Copa America 2021, di mana Selecao kembali jadi tuan rumah setelah Argentina dan Kolombia mundur sebagai tuan rumah bersama karena pandemi Covid-19. Di final Copa America 2021, Brasil dikandaskan Argentina 0-1 dan publik sepak bola dunia menantikan, apakah dua kekuatan besar sepak bola Amerika Latin itu, bisa mematahkan dominasi Eropa sejak Piala Dunia 2006.

Halaman
Show All
Mohamad Taufik, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan