Moneymaxxing, Tren Baru Hemat Finansial dan Trik Kelola Uang Gen Z

Tren moneymaxxing mulai marak di sosial media sebagai motivasi untuk mengatur keuangan.

Diterbitkan 14 Agustus 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tren moneymaxxing kini populer di media sosial sebagai cara kreatif mengoptimalkan finansial. Simak panduan dan strategi penerapannya dari para pakar keuangan.

Saat konsumen mencari cara untuk memperkuat kondisi finansial, sebuah tren baru bernama moneymaxxing mulai marak di media sosial. Gerakan ini berfokus pada perbaikan kondisi keuangan melalui pemangkasan anggaran yang tidak perlu, pemanfaatan poin hadiah (pointsmaxxing), serta penyimpanan sisa uang tunai di rekening tabungan berbunga tinggi.

Mengutip CNBC, Jumat (14/8/2026), moneymaxxing merupakan bagian dari rangkaian tren maxxing lainnya. Beberapa di antaranya adalah vacationmaxxing (memanfaatkan cuti berbayar semaksimal mungkin), sleepmaxxing (mengoptimalkan kualitas tidur), hingga fibermaxxing (mengonsumsi makanan kaya serat).

Pendiri sekaligus Managing Director Sun Group Wealth Partners, Winnie Sun, menjelaskan bahwa moneymaxxing berfokus pada pola hidup sehemat mungkin secara proaktif, cerdas, dan kreatif demi mencapai kehidupan yang sejahtera.

“Ini adalah pergeseran budaya. Tren ini bukan sekadar hidup dengan biaya lebih sedikit, melainkan strategi meraup lebih banyak keuntungan untuk diri sendiri,” ujar Sun.

 

Hidup Hemat Kembali Menjadi Tren

Psikolog dan perencana keuangan bersertifikat asal Colorado, Brad Klontz, turut memberikan pandangannya. “Moneymaxxing adalah tren hidup hemat yang kembali populer, dan saya menyukainya,” tuturnya.

“Ini jauh lebih baik daripada credit-card maxxing, kebiasaan menumpuk utang yang sudah terlalu lama terjadi,” tambah Klontz, yang juga menjabat sebagai Direktur Pelaksana YMW Advisors sekaligus anggota Dewan Penasihat Keuangan CNBC.

Saat ini, warga Amerika Serikat memang tengah ditumpuk utang kartu kredit. Laporan triwulanan terbaru dari TransUnion menunjukkan saldo kartu kredit meningkat 4,4% per tahun hingga mencapai US$ 1,14 triliun atau sekitar Rp 20,26 kuadriliun (asumsi kurs Rp 17.772 per dolar AS). Rata-rata saldo per konsumen kini berada di angka US$ 6.610 atau sekitar Rp 117,5 juta, naik 2,1% dari tahun lalu.

Meningkatnya biaya hidup juga membuat kelompok dewasa muda kesulitan hidup mandiri. Berdasarkan data Studi Perencanaan dan Kemajuan 2026 dari Northwestern Mutual, lebih dari separuh generasi milenial dan 72% Gen Z masih bergantung pada orang tua untuk biaya hidup. Rata-rata dewasa muda bahkan berekspektasi baru bisa mandiri secara finansial di atas usia 37 tahun.

Kepala Divisi Kesejahteraan Keuangan sekaligus pakar keuangan perilaku di Ally Bank, Jack Howard, menilai gerakan ini berpotensi bertahan lama.

“Alih-alih berpindah dari satu tren uang ke tren lain demi mencari jalan pintas, moneymaxxing berfokus pada pembentukan kebiasaan harian untuk keberhasilan finansial jangka panjang,” ujar Howard.

 

Bijak Mengatur Linimasa Media Sosial

Howard menyarankan untuk memulai gerakan ini dengan mengevaluasi arus kas secara jelas, mencakup pendapatan dan pengeluaran. Langkah paling efektif adalah mengidentifikasi pola pengeluaran yang tidak sejalan dengan target finansial.

Setelah itu, tetapkan prioritas finansial yang spesifik dan realistis. Baik untuk mengurangi utang maupun menambah tabungan, tujuan yang jelas akan membantu menjaga motivasi.

Mengotomatisasi arus keuangan utama—seperti transfer berkala ke rekening tabungan atau dialokasikannya penghasilan tambahan untuk melunasi sisa utang—juga dapat memperlancar rutinitas baru dan mempertahankan perilaku positif.

“Kemajuan keuangan yang berkelanjutan berasal dari kebiasaan yang diterapkan konsisten setiap hari,” kata Howard.

Di sisi lain, Sun menekankan pentingnya peran teknologi. Menurutnya, tekanan finansial bisa diatasi dengan memanfaatkan alat pengatur anggaran berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi pola pengeluaran, menemukan peluang menabung, dan menyusun strategi sesuai target.

Selain teknologi, Klontz menyarankan untuk lebih bijak mengatur linimasa media sosial. Membangun beranda yang dipenuhi konten dari orang-orang dengan aspirasi finansial serupa dapat memberikan ide-ide praktis sekaligus menjaga komitmen diri.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6