Liputan6.com, Jakarta - Senin (28/9/2026) pagi, Stasiun Bogor mulai dipadati calon penumpang KRL Commuter Line tujuan Manggarai hingga Jakarta Kota. Dari delapan peron yang tersedia, lima di antaranya digunakan untuk melayani perjalanan KRL.
Rangkaian yang datang pun beragam. Ada yang terdiri dari 12 gerbong, 10 gerbong, hingga hanya 8 gerbong. Namun, belakangan rangkaian 12 gerbong terlihat lebih jarang setelah 7 rangkaian KRL buatan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA ditarik untuk menjalani perawatan.
Kepadatan bahkan sudah terasa sejak stasiun awal keberangkatan. Bangku-bangku di dalam kereta terisi penuh. Enam hingga tujuh orang duduk di setiap bangku panjang, sementara penumpang lainnya berdiri di sisi bangku maupun dekat pintu.
Advertisement
Kondisi tersebut semakin terasa ketika kereta melewati Stasiun Cilebut, Bojong Gede, Citayam, hingga Depok. Pada jam sibuk sekitar pukul 06.00-07.30 WIB, ruang untuk sekadar menggeser kaki pun semakin terbatas.
Agus, salah seorang penumpang yang naik dari Stasiun Cilebut, hampir setiap hari merasakan kondisi tersebut.
"Saya merasa naik KRL sekarang memang sepadat itu, hampir di jam berapapun saya berangkat, dan di hari apapun, bahkan weekend. Tapi yang paling kerasa desak-desakan memang waktu jam-jam kerja," ujar Agus kepada Liputan6.com.
Bagi Agus, kepadatan menjadi konsekuensi yang harus diterima untuk bisa sampai ke tempat kerja dengan biaya dan waktu yang lebih efisien.
Â
Tetap Pilih KRL demi Hemat Waktu dan Biaya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330051/original/023755400_1787310530-ce7ce35c-d7f4-464f-bba2-243473c5fd68.jpg)
Pengalaman serupa dialami Bayu, pegawai BUMN yang terkadang harus membiarkan beberapa KRL berlalu meski sedang dikejar waktu.
Bukan karena tidak ingin berangkat, melainkan karena kereta yang datang sudah terlalu penuh. Ia memilih menunggu hingga menemukan gerbong yang menurutnya masih memiliki sedikit ruang.
"Kalau gini biasanya melewatkan beberapa kereta sampai benar-benar nemu gerbong yang ada celah sedikit, biasanya mengincar gerbong agak depan yang dekat gerbong wanita. Walaupun tetap maksain agak dorong-dorong ke dalam dikit," ungkapnya.
Meski harus berdesakan, Bayu dan Agus tetap memilih KRL. Alasannya sederhana: waktu tempuh dan biaya perjalanan.
Keduanya membutuhkan waktu sekitar satu jam menggunakan KRL untuk mencapai tempat kerja. Dengan kendaraan pribadi, perjalanan bisa memakan waktu hingga dua jam karena harus berhadapan dengan kemacetan.
"Duh capek kalau harus pakai motor, sudah enggak kuat juga kalau dari sini," kata Agus.
Bayu juga pernah mencoba perjalanan pulang-pergi menggunakan sepeda motor dari Cibinong menuju Jakarta. Namun, pengalaman tersebut membuatnya kembali memilih KRL.
"Sebenarnya saya sudah pernah mencoba buat PP Cibinong-Jakarta menggunakan motor, tapi motor menurut saya sangat melelahkan karena ruas jalan yang saya lewati selalu terjebak macet. Jadi dari segi tenaga saya rasa lebih efektif naik KRL," katanya mengisahkan.
Â
Advertisement
Ongkos Murah Jadi Alasan Bertahan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330046/original/094760500_1787309855-WhatsApp_Image_2026-08-21_at_17.54.17.jpeg)
Selain waktu, biaya menjadi pertimbangan penting. Dalam sehari, ongkos perjalanan KRL relatif terjangkau. Penumpang juga dapat menekan biaya perjalanan dibandingkan harus menggunakan kendaraan pribadi.
Bagi sebagian penumpang, selisih biaya tersebut cukup berarti jika dikumpulkan dalam hitungan bulanan.
Pertimbangan serupa dirasakan Gia. Ia memilih menggunakan KRL pulang-pergi setiap hari meski harus menghadapi kepadatan pada jam sibuk.
Gia bahkan pernah menghitung pengeluaran yang harus ditanggung jika memilih tinggal di indekos dekat tempat kerja di kawasan Palmerah.
"Saya tetap milih pakai KRL karena emang murah sih, terus waktu tempuh juga lumayan lah. Jadi meski harus desak-desakan di KRL, masih sebanding sama efisiensinya, dan bisa ketemu tiap hari juga sama keluarga, dibanding harus ngekos, yang udah-udah teh cenderung lebih besar pengeluarannnya," tuturnya.
Bagi Gia, berdesakan di dalam KRL menjadi pilihan yang masih masuk akal dibandingkan harus menambah biaya tempat tinggal atau menghabiskan lebih banyak waktu di jalan.
Â
Ketika Satu Gerbong Dipenuhi Ratusan Penumpang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328556/original/012435800_1787200039-IMG_3234.jpg)
Kepadatan tersebut bukan sekadar kesan para penumpang. Dalam satu kereta, terdapat enam bangku panjang dengan kapasitas tujuh orang serta empat bangku prioritas yang masing-masing dapat ditempati tiga orang.
Artinya, terdapat sekitar 54 penumpang yang dapat duduk dalam satu kereta. Jika satu rangkaian terdiri dari 8 hingga 12 gerbong, kapasitas penumpang yang duduk saja dapat mencapai 432 hingga 648 orang.
Jumlah tersebut belum memperhitungkan penumpang yang berdiri.
Setiap kereta juga dilengkapi sekitar 128 pegangan tangan bagi penumpang berdiri. Namun, ketika kondisi sangat padat, tidak semua penumpang dapat berdiri dengan leluasa sambil memegang pegangan tersebut.
Sebagian harus bertumpu pada ruang yang tersisa atau berpegangan pada sesama penumpang karena jarak antar-pengguna sangat rapat.
Pada lintas Bogor-Jakarta Kota, jarak waktu kedatangan atau headway KRL berkisar 5-10 menit. Namun, jumlah kereta dalam setiap rangkaian tidak selalu sama.
Kondisi tersebut menjadi semakin terasa setelah 7 rangkaian KRL buatan INKA ditarik untuk menjalani perawatan. Meski tiga rangkaian telah kembali digunakan untuk membantu operasional, kepadatan masih dirasakan penumpang rutin.
Â
Advertisement
Kepadatan Belum Ideal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291208/original/025721600_1783508172-Direktur_Utama_PT_Kereta_Api_Indonesia__Persero___Bobby_Rasyidin-8_Juli_2026a.jpg)
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin juga mengakui tingginya kepadatan KRL Jabodetabek.
Menurut Bobby, idealnya satu kereta dengan luas sekitar 60 meter persegi diisi sekitar 360-an penumpang, baik yang duduk maupun berdiri.
"Sekarang ini, 1 meter persegi itu tidak 8 orang, jadi, 400-an, 480," ungkapnya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR beberapa waktu lalu.
Berdasarkan paparannya, tingkat kepadatan berbeda di setiap lintasan. Lintas Tanah Abang-Rangkasbitung mencapai sekitar 160% dari kapasitas, lintas Bekasi 120%, sedangkan lintas Bogor 130%.
Lintas Rangkasbitung menjadi salah satu yang paling padat karena masih terdapat kendala infrastruktur sehingga belum dapat dilayani rangkaian 12 gerbong.
"Ini karena headway kita masih 10-15 menit, karena persinyalannya itu masih persinyalan yang zaman baheula (dulu), jadi persinyalan tertutup," urainya.
Â
Kepadatan Perlu Segera Diatasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4106712/original/028035800_1659256865-Uji-Coba-KRL-Stasiun-BNI-City-Faizal-8.jpg)
Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Aditya Dwi Laksana, menilai persoalan keterbatasan armada tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Menurutnya, kepadatan tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan, tetapi juga dapat memengaruhi mobilitas masyarakat yang setiap hari mengandalkan kereta sebagai moda transportasi utama.
"Dalam pandangan saya, keterbatasan armada perkeretaapian ini tidak boleh berlarut, karena akan sangat merugikan mobilitas dan kenyamanan masyarakat pengguna KA, dan harus segera diatasi," ujar Aditya saat dihubungi Liputan6.com.
Aditya juga menilai langkah mengalihkan armada KA Bandara ke lintas Tanjung Priok patut diapresiasi. Terlebih, rangkaian yang sebelumnya melayani rute tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan transportasi di kawasan Jabodetabek.
Menurutnya, dukungan terhadap industri perkeretaapian nasional dan operator KRL tetap diperlukan agar kebutuhan armada dapat segera terpenuhi.
"Pemerintah harus memberikan solusi dan dukungan penuh baik kepada industri perkeretaapian dalam negeri (INKA) maupun kepada operator KRL agar tidak merugikan masyarakat pengguna KRL," pintanya.
Pada akhirnya, bagi Agus, Bayu, dan Gia, kepadatan KRL bukan berarti mereka berhenti menggunakan transportasi massal tersebut. Selama biaya perjalanan tetap terjangkau dan waktu tempuh lebih efisien, berdesakan di jam sibuk masih menjadi harga yang mereka pilih untuk dibayar demi tetap bisa bekerja sekaligus pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321860/original/097207600_1786506941-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-12T105431.565.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354030/original/018131800_1789992594-cek_fakta_KM_Virgo_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359577/original/013031200_1790564633-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-28T100252.716.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7368499/original/067001900_1780149167-Jepretan_Layar_2026-05-27_pukul_20.44.42.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3940632/original/006857000_1645419592-caterpillar_6020b_equipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355283/original/019472000_1790097211-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_00.04.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3372835/original/028910900_1612912970-WhatsApp_Image_2021-02-10_at_06.19.50__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5418012/original/013015200_1763559690-kereta_api.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5460715/original/071076300_1767273436-kereta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4412749/original/008778900_1683024969-20230502-Polemik-Impor-KRL-Bekas-Tallo-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340381/original/050166300_1788504432-IMG_0661.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340236/original/096929200_1788496391-b0e7f1ce-4a9d-4219-94ad-2bfe857d56b5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340235/original/001402400_1788496370-WhatsApp_Image_2026-09-04_at_10.48.11.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330046/original/094760500_1787309855-WhatsApp_Image_2026-08-21_at_17.54.17.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5075077/original/038583700_1735827538-20250102-Rencana_Penutupan_Stasiun_Karet-HER_2.jpg)