HEADLINE: Olimpiade Tokyo Diundur, Atlet Bugar pun Belum Tentu Kebal Corona Covid-19

Olimpiade Tokyo 2020 ditunda penyelenggaraannya hingga tahun 2021 lantaran pandemi virus corona Covid-19.

Diterbitkan 04 April 2020, 00:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Ada juga pelatih tinju Rusia, Anton Kadushin, yang dinyatakan positif virus corona Covid-19. Dia terinfeksi virus ini setelah pulang dari kualifikasi Olimpiade di London, bulan lalu.

Jadwal latihan dan pertandingan yang padat jadi penyebab atlet banyak terinfeksi virus corona. Banyak berolahraga tidak meningkatkan imunitas mereka, justru sebaliknya.

Tak heran, dari kalangan atlet yang sehat pun keberatan jika Olimpiade 2020 digelar sesuai jadwal.

Selain waktu persiapan yang mepet, mereka juga khawatir bekerja dan berlatih keras dengan berbagai tekanan, justru akan membuat imunitas mereka menurun, dan menyebabkan terinfeksi virus corona Covid-19.

"Bagaimana mungkin kami bisa mempersiapkan diri dengan baik, jika pemerintah di negara kami meminta kami untuk mengisolasi diri di rumah," ujar Johnson-Thompson, atlet heptathlon Britania Raya, seperti dikutip BBC Sports. "Tempat latihan, gym, publik area semua ditutup."

Kanada bahkan mengancam tidak akan mengirim kontingen jika Olimpiade 2020 digelar sesuai jadwal. Ofisial Olimpiade Kanada (COC) menyebut keputusan itu diambil setelah berkoordinasi dengan Komite Paralimpiade Kanada (CPC), didukung oleh komisi atlet, Organisasi Olahraga Nasional (NOC), serta Pemerintah Kanada.

Dua Sisi Mata Uang

Penundaan Olimpiade 2020 memang seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, langkah penangguhan ini diambil demi keselamatan manusia. Namun, di sisi lain mereka kehilangan waktu setahun, terutama bagi atlet yang sudah berumur.

Seperti di sepak bola misalnya, atlet yang boleh tampil di Olimpiade hanya yang usianya di bawah 23 tahun. Dipastikan, beberapa pemain akan melewati batas usia yang telah ditentukan pada tahun depan meskipun sudah lolos kualifikasi di tahun ini.

Tentang hal ini, IOC masih belum bisa memutuskan. "Saat ini, kami masih berdiskusi dengan FIFA. Kami harus mencapai kesepakatan dalam beberapa minggu ke depan," kata Direktur Olah Raga IOC Kit McConnell.

Namun begitu, apapun konsekuensinya, banyak atlet yang mendukung keputusan tersebut. Mereka lebih mementingkan kesehatan di atas segalanya.

"Sekarang, banyak atlet yang bernapas lega. Kami merasa di bawah tekanan saat berlatih dan bersaing sepanjang waktu," kata perenang asal Inggris, Adam Peaty, seperti dikutip dari Mirror.

Namun, pengunduran ini juga bukan tak berpotensi mengundang masalah. Pasalnya, pengunduran tersebut bisa mengacaukan event olahraga yang sudah terjadwal di tahun 2021. Ini memang sudah jadi konsekuensi.

"Pasti bentrok sama persiapan kejuaraan yang ada di tahun depan," kata atlet angkah besi Indonesia, Eko Yuli Irawan, dilansir dari laman Antara.

Aturan Baru

Namun, ada satu aturan baru yang ditetapkan IOC terkait penundaan Olimpiade 2020 yang digelar tahun depan ini. Yaitu atlet-atlet yang bakal tampil di Olimpiade Tokyo pada 2021 harus dipilih ulang oleh Komite Olimpiade Nasional (NOC) di negaranya masing-masing.

Jadi, atlet-atlet yang sebelumnya sudah dinyatakan lolos kualifikasi olimpiade harus dipilih kembali oleh NOC. Padahal, saat ini sudah ada sekitar 57 persen dari 11.000 atlet yang sudah lolos kualifikasi untuk tampil di Olimpiade Tokyo 2020.

Namun, IOC berdalih, karena para atlet tersebut nantinya akan mewakili negaranya masing-masing, bukan diri sendiri.

"Semua kualifikasi yang telah dipenuhi oleh NOC dan tiap-tiap atlet akan tetap ada. Namun, seluruh atlet harus dipilih kembali secara individu karena mereka akan merepresentasikan NOC-nya masing-masing. Dalam dunia olah raga, NOC mempunyai hak untuk memilih atlet," kata Direktur Olah Raga IOC Kit McConnell.

Simak video terkait Olimpiade 2020 di sini...

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Edu Krisnadefa, Elin Yunita KristantiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan