Harga Minyak Anjlok 7% Setelah AS-Iran Berpotensi Damai

Ada upaya Amerika Serikat dan Iran untuk menyelesaikan konflik secara damai mempengaruhi harga minyak.

Diterbitkan 03 November 2026, 07:56 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia turun tajam pada perdagangan Senin, 2 November 2026 (Selasa pagi Jakarta). Koreksi harga minyak terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Iran mengisyaratkan keterbukaan terhadap solusi diplomatik atas konflik yang telah menganggu pasar energi selama delapan bulan terakhir.

Mengutip CNBC, Selasa (3/11/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 7,4% dan ditutup di level US$ 96,46 per barel, penurunan harian terbesar sejak 27 Juli 2026.

Harga minyak Brent melemah 7,6% menjadi US$ 104,77 per barel. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan kepada para wartawan pada Senin kalau Iran ingin "mencapai kesepakatan, dan hal itu mungkin saja terjadi." Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan pada akhir pekan lalu, Trump lebih memilih untuk tidak menggunakan kekuatan militer terhadap Iran dan ingin menyelesaikan konflik tersebut melalui jalur diplomatik.

Sebelumnya, Trump sempat mengatakan, ia tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu (midterm elections) AS. Namun, pasar minyak sempat memperhitungkan risiko eskalasi militer besar-besaran setelah pemilihan tersebut, yang menyebabkan harga minyak naik lebih dari 10% sepanjang Oktober.

Pada fase-fase sebelumnya dalam konflik ini, pasar minyak sempat mengalami aksi jual akibat rumor mengenai kemungkinan penyelesaian damai. Akan tetapi, konflik justru kembali meningkat dan memicu lonjakan harga lagi.

Rubio menyampaikan kepada wartawan, Trump "belum mengambil keputusan" apakah akan kembali menyerang Iran atau tidak.

"Apa yang disampaikan Presiden kepada Anda adalah keyakinan yang luar biasa bahwa jika kita perlu melakukan tindakan militer, kita memiliki kemampuan untuk melakukannya," ujar Menteri Luar Negeri Rubio.

"Namun, kami lebih memilih untuk menyelesaikannya secara damai,” ia menambahkan.

 

Upaya Iran

Menurut kantor berita pemerintah Islamic Republic News Agency (IRNA), Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan, Teheran berupaya menyelesaikan masalah melalui dialog. Pezeshkian menambahkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, telah memberikan wewenang tertentu kepada pemerintah untuk menempuh langkah tersebut.

Sebagaimana dilaporkan oleh IRNA, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, kesepakatan dengan AS dapat dicapai jika Washington menunjukkan iktikad baik dan benar-benar mengupayakan solusi damai.

Araghchi mengungkapkan, pihak penengah saat ini membahas proposal yang diajukan oleh Iran dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September lalu. Menteri luar negeri menyatakan, Teheran mengharapkan AS untuk mencabut sanksi, mengurangi kehadiran militernya di kawasan tersebut ke tingkat sebelumnya, serta mengakhiri blokade.

 

Upaya Diplomatik

Namun, pada Sabtu, Khamenei menyerukan kepada angkatan bersenjata Teheran untuk menghadapi “ancaman dalam tingkat atau jenis apa pun” dengan “respons yang segera, berdampak, dan tidak dibatasi oleh batasan geografis.”

Menurut Direktur Strategi Komoditas di TD Securities, Ryan McKay, berbagai laporan mengenai upaya diplomatik akan berdampak besar pada harga minyak mentah, mengingat sebagian besar kenaikan harga di pasar belakangan ini mencerminkan premi risiko sebagai antisipasi terhadap kemungkinan eskalasi.

“Meski demikian, selama belum ada kesimpulan konkret terkait perang tersebut, serta serangan terhadap kapal tanker dan oleh kelompok Houthi masih terus terjadi, kami tidak memperkirakan premi risiko akan hilang sepenuhnya hanya karena adanya berita seputar diplomasi,” ujar McKay.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6