Harga Perak Antam 2 November 2026 Naik Rp 450

Berikut harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) saat harga perak dunia menguat pada Senin, (2/11/2026).

Diterbitkan 02 November 2026, 10:59 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menguat pada perdagangan Senin, (2/11/2026). Harga perak Antam hari ini mengikuti harga emas Antam dan harga perak dunia.

Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam hari ini naik Rp 450 menjadi Rp 34.100 per gram. Pada perdagangan sebelumnya, harga perak Antam dipatok Rp 33.650 per kg.

Antam menawarkan perak batangan berukuran 250 gram dan 500 gram. Harga perak Antam ukuran 250 gram dipatok Rp 8.925.000 dan ukuran 500 gram ditetapkan Rp 17.050.000.

Lalu bagaimana harga perak dunia?

Mengutip tradingeconomics.com, harga perak dunia naik 2,13% menjadi US$ 49,93.

Pada Senin, harga perak naik mendekati US$ 50 per ons, pulih tipis dari level terendah dalam hampir satu tahun seiring dengan penurunan harga minyak yang meredakan kekhawatiran mengenai inflasi dan potensi kenaikan suku bunga.

Harga minyak melemah di tengah tanda-tanda adanya upaya diplomatik yang terus berlanjut untuk mencegah aksi militer baru oleh AS terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu.

Presiden Trump sebelumnya sempat mengancam akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan tersebut, sementara Teheran memperingatkan akan adanya pembalasan yang lebih luas. Di sisi lain, para investor tengah menantikan laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis minggu ini sebuah data yang sangat diperhatikan untuk mendapatkan gambaran lebih lanjut mengenai prospek kebijakan moneter Federal Reserve.

Saat ini, pasar memperkirakan adanya peluang sekitar 75% untuk kenaikan suku bunga pada Desember. Pekan lalu, perak menghadapi tekanan jual yang signifikan karena kekhawatiran yang terus berlanjut mengenai inflasi akibat harga energi telah memperkuat ekspektasi akan kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh The Fed.

Aksi jual saham secara global, yang dipicu oleh kekhawatiran terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), juga mendorong para investor untuk melikuidasi kepemilikan perak mereka guna menutupi kerugian pada aset-aset lain.

Prediksi Harga Emas Sepekan

Sebelumnya, survei Emas Mingguan Kitco News terbaru menunjukkan analis di wall street yang optimistis mulai menarik diri setelah harga emas anjlok di bawah US$ 3.900. Sementara itu, investor ritel tetap mempertahankan optimisme yang tipis meski harga emas merosot.

Mengutip Kitco, Senin, (2/11/2026), pekan lalu, 16 analis berpartisipasi dalam Survei Emas Kitco News. Keyakinan bullish dari kalangan analis hampir sepenuhnya sirna setelah harga emas gagal bertahan di level US$ 3.900. Hanya satu pakar atau 6% yang memprediksi harga emas menguat pada pekan ini. Sedangkan 10 analis atau 63% memprediksi harga logam mulia itu akan turun. Lima analis sisanya atau 31% menyatakan tidak dapat memprediksi arah pergerakan harga emas atau memprediksi harga bergerak mendatar pekan ini.

Di sisi lain, sebanyak 184 suara masuk dalam jajak pendapat Kitco. Investor ritel sekali lagi bersikap lebih optimistis meski terjadi aksi jual besar-besaran pada emas.

Sebanyak 98 investor ritel atau 53% memprediksi harga emas menguat pada pekan ini. Sementara itu, 56 investor ritel atau 30% memprediksi logam mulia itu akan terus melemah. Sebanyak 30 investor sisanya yang mencakup 16% dari total responden memperkirakan terjadi konsolidasi harga pada pekan ini.

Direktur Pelaksana Bannockburn Global Forez, Marc Chandler menuturkan, kilau emas telah memudar. Ia menuturkan, logam kuning ini sempat berada di dekat level US$ 4.700 pada akhir Agustus lalu.

 

 

Pemilu AS Membayangi

Satu catatan penting, menurut dia, logam mulia kuning ini berada di bawah batas Bollinger Bond (dua standar deviasi di bawah rata-rata pergerakan 20 hari). Meski demikian, ia menilai tampaknya belum terjadi aksi jual besar-besaran. “Jika harga terus turun hingga mencapai level terendah baru tahun ini, saya mendugas emas bisa jatuh di kisaran US$ 3.750-US$ 3.850,” tutur dia.

Sementara itu, Head of Currency Strategy InvestingLive, Adam Button menuturkan, harga emas akan turun. Ia mengatakan, pekan ini termasuk krusial karena ada pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat (AS) atau potensi kembali memanasnya konflik terkait Iran.

“Saya khawatir Trump mungkin bereaksi keras dan meningkatkan eskalasi, yang dapat memicu sentimen penghindaran risiko yang signifikan di pasar,” tutur dia.

Prediksi harga emas tertekan juga disampaikan Chief Market Strategist SIA Wealth Management. Ia pesismistis terhadap harga emas pekan ini. “Secara teknikal penembusan harga ke bawah level US$ 4.000 merupakan sinyal yang signifikan,” kata dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6