Anak Guru Bergaji Rp 126 Ribu Kini Jadi CEO Berharta Rp 367 Triliun

Perjalanan hidup pendiri Xiaomi Lei Jun yang jatuh bangun merintis bisnis dari nol hingga kini mengantongi kekayaan Rp 367 triliun.

Diterbitkan 02 November 2026, 07:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di balik kilau kemewahan panggung teknologi dunia dan deretan jet pribadi, Lei Jun pernah berdiri di sebuah sudut rumah sederhana di Hubei, China, menyaksikan ayahnya menghitung uang gaji sebagai guru yang hanya US$ 7 atau sekitar Rp 126.890 (kurs Rp 18.127 per US$) sebulan. Siapa sangka, bocah yang tumbuh dengan kesederhanaan ekstrem itu kini menguasai imperium teknologi global dengan kekayaan menembus US$ 20,3 miliar (sekitar Rp 367 triliun).

Namun, bagi pendiri Xiaomi ini, angka fantastis di daftar Forbes tersebut bukanlah titik awal, melainkan buah manis dari perjalanan panjang seorang petarung yang berkali-kali jatuh bangun menaklukkan dinding tebal industri.

Dikutip dari The Times of India, Senin (2/11/2026), Lei Jun tumbuh dalam keluarga dengan kondisi finansial yang sangat terbatas. Keterbatasan ekonomi di masa kecil ini justru membentuk mentalitas baja dan kemandirian yang luar biasa pada dirinya.

Saat diterima di Jurusan Ilmu Komputer Universitas Wuhan pada 1987, ia bertekad membiayai kuliahnya sendiri demi meringankan beban orang tua. Lewat kerja keras akademik yang fantastis, ia berhasil menyelesaikan seluruh bobot SKS program sarjana empat tahun hanya dalam waktu dua tahun.

Di kampus itu pula ia mengikat janji untuk membalas kebaikan almamaternya, sebuah janji yang kelak ia tepati lewat donasi fantastis senilai 1,3 miliar yuan.

Dilansir dari Medium (China's Innovation Code), insting bisnis Lei Jun mulai teruji saat ia memimpin perusahaan perangkat lunak Kingsoft hingga sukses melantai di bursa saham pada 2007.

Ia juga membidani lahirnya platform e-commerce Joyo.com yang kemudian diakuisisi Amazon pada 2004. Kendati telah meraih kemapanan, ia menolak berpuas diri. Pada usia 40 tahun, usia ketika kebanyakan eksekutif memilih menikmati zona aman, ia mengambil keputusan paling berisiko dalam hidupnya, mendirikan Xiaomi dari nol.

Jatuh Bangun Merintis Xiaomi dan Strategi Menembus Pasar

Mendirikan Xiaomi pada April 2010 bukanlah jalan yang mulus. Lei Jun harus berhadapan dengan tembok raksasa berupa dominasi merek-merek global yang mapan, serta keraguan pasar terhadap perusahaannya yang dianggap sekadar pendatang baru tanpa pengalaman manufaktur perangkat keras.

Dikutip dari South China Morning Post (SCMP) dan Vulcan Post, hambatan terbesar Xiaomi di awal berdiri adalah minimnya kepercayaan pasar dan terbatasnya anggaran pemasaran. Lei Jun mendobrak keterbatasan ini dengan merintis strategi pemasaran berbasis komunitas (Mi Fans).

Alih-alih membakar uang untuk iklan konvensional, ia membangun interaksi transparan dengan mendengarkan langsung masukan ribuan pengguna di forum daring untuk menyempurnakan sistem operasi MIUI sebelum ponsel fisiknya diluncurkan.

Tantangan berikutnya terletak pada efisiensi biaya dan rantai pasok. Demi mewujudkan visi menghadirkan smartphone canggih berharga murah, Xiaomi terbentur margin keuntungan yang sangat tipis. Lei Jun memangkas jalur distribusi tradisional dengan menjual produk secara eksklusif secara daring (online-only) pada tahun-tahun awal. Strategi ini berhasil menghemat biaya operasional secara drastis sehingga harga jual ke tangan konsumen tetap berada di titik terendah.

Tantangan Baru dari Kejenuhan Global

Ketika Xiaomi mulai menguasai pasar ponsel, tantangan baru muncul dari kejenuhan pasar global yang menuntut diversifikasi produk. Lei Jun merespons tantangan ini dengan memegang teguh filosofinya: "Seekor babi pun bisa terbang jika berada di tengah gulungan angin yang tepat." Kiasan ini bermakna pentingnya menyelaraskan kerja keras dengan momentum tren. 

Keberanian filosofis ini mendorongnya mendobrak batas industri dengan mengekspansi Xiaomi ke sektor kendaraan listrik (electric vehicle), sebuah langkah ambisius yang sempat diragukan banyak pengamat, namun kini terbukti sukses besar di pasar global. 

Sinergi antara visi inklusif yang berakar dari masa kecil yang sederhana, ketahanan mental menghadapi keraguan pasar,serta kepemimpinan yang membumi menjadikan Lei Jun figur pengusaha ulung. Perjalanan hidupnya membuktikan bahwa inovasi terbaik lahir bukan dari kemudahan, melainkan dari keberanian mendobrak batasan demi menghadirkan teknologi yang dapat dinikmati semua orang.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6