Menteri Keuangan AS: Bukan Kesalahan Jika Suku Bunga Naik Lagi

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menilai kenaikan suku bunga The Fed lanjutan bukan kesalahan. Ia juga menyoroti inflasi minyak dan dinamika utang obligasi AI.

Diterbitkan 29 Oktober 2026, 14:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent menyatakan bahwa potensi kenaikan suku bunga acuan lanjutan oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), bukanlah sebuah kesalahan kebijakan moneter.

Pernyataan tersebut disampaikan Bessent saat menjawab pertanyaan jurnalis CNBC Brian Sullivan mengenai apakah kenaikan suku bunga di masa depan bakal memicu kekeliruan fatal dalam kebijakan ekonomi. Bessent merespons singkat, "Tidak demikian."

Mengutip CNBC, Kamis (29/10/2026), komentar Bessent keluar hanya beberapa jam setelah The Fed mengumumkan penahanan suku bunga acuan pada pertemuan Oktober 2026, sesuai dengan ekspektasi pasar.

Bessent sendiri merupakan salah satu sosok kepercayaan Presiden Donald Trump, yang sebelumnya berulang kali mendesak agar suku bunga dipangkas. Trump sempat menekan Jerome Powell—pendahulu Kevin Warsh di kursi Ketua The Fed—terkait kebijakan moneter tersebut menjelang akhir masa jabatannya.

Kendati demikian, Bessent menegaskan bahwa dirinya dan Trump menilai Kevin Warsh telah bekerja dengan sangat baik dalam menyeimbangkan penciptaan lapangan kerja penuh serta menjaga stabilitas harga.

"Saya rasa Ketua Warsh bekerja dengan sangat baik. Seperti yang sering saya katakan, saya menaruh kepercayaan besar kepadanya," ujar Bessent.

 

Suku Bunga, Gejolak Minyak, dan Imbal Hasil Obligasi AI

Keputusan The Fed menahan suku bunga kali ini berjarak satu bulan setelah bank sentral menaikkan biaya pinjaman untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir. Para pelaku pasar fed funds futures memproyeksikan The Fed berpeluang kembali mengerek suku bunga pada pertemuan Desember mendatang.

Bessent berharap The Fed tetap adaptif menghadapi kejutan pasokan bahan bakar di tengah masa transisi geopolitik. Eskalasi konflik antara AS dan Iran telah memicu penurunan volume produksi minyak mentah global, yang pada gilirannya mendorong angka inflasi tahunan menjauh dari target 2% milik The Fed.

Bessent juga mengklaim strategi AS dalam mengisolasi ekonomi Iran melalui Operation Economic Outcast berjalan sangat sukses. Pihak internal mengestimasi ekonomi Iran berpotensi berkontraksi hingga 25% dalam setahun.

Di sisi lain, saat ditanya mengenai tingginya imbal hasil obligasi dari utang perusahaan sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), veteran Wall Street tersebut mengaku terus memantaunya, namun menegaskan situasi pasar keuangan masih terkendali.

Bessent secara khusus menyinggung keberadaan neocloud—penyedia infrastruktur cloud khusus AI—yang belakangan dinilai menghadapi tekanan pasar. Sebelumnya, CEO Tesla Elon Musk sempat memperingatkan bahwa lebih dari 200 perusahaan neocloud berisiko mengalami "kematian massal dan konsolidasi."

"Saya rasa ini tidak problematic. Neocloud hanya mencakup komponen kecil dari keseluruhan ekosistem. Kami melihat aliran keuangannya masih berjalan dan kesepakatan bisnis masih terus disetujui," jelas Bessent.

Mengakhiri keterangannya, Bessent memperkirakan data Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal III-2026 yang dirilis Kamis ini akan mencatatkan pertumbuhan yang kuat.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6