Tekanan Ekonomi Bikin Konsumen Mobil Bekas Ubah Pilihan

"Kalau melihat fenomena ekonomi, memang berdampak juga kepada mobil bekas. Saat ini, juga ada mengalami penurunan,"

Diterbitkan 29 Oktober 2026, 14:02 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena downgrade atau menurunkan pilihan konsumsi di tengah tekanan ekonomi kini mulai terlihat di pasar mobil bekas. Masyarakat kelas menengah yang sebelumnya mampu membeli kendaraan di segmen tertentu, mulai memilih mobil dengan harga lebih terjangkau untuk menjaga kondisi keuangan.

Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa downgrade tidak hanya terjadi pada pilihan makanan, bahan bakar minyak (BBM), hingga gaya hidup. Kendaraan yang menjadi salah satu kebutuhan bernilai besar juga mulai disesuaikan dengan kemampuan finansial.

Sebelumnya, fenomena downgrade di kalangan masyarakat kelas menengah terlihat dari perubahan berbagai kebiasaan konsumsi. Mulai dari beralih menggunakan BBM yang lebih murah, mengurangi nongkrong di kafe, hingga memilih transportasi umum.

Marketing Division Head WTC Mangga 2, Franky Kusila, mengatakan tekanan ekonomi memang memberikan dampak terhadap pasar mobil bekas. Namun, kondisi tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

"Kalau melihat fenomena ekonomi, memang berdampak juga kepada mobil bekas. Saat ini, juga ada mengalami penurunan, tapi sudah mulai agak membaik kembali. Penurunan sekitar hampir 5 sampai 10 persen, tapi kondisinya sekarang sudah agak membaik," ujar Franky kepada Liputan6.com belum lama ini.

Menariknya, perubahan paling terasa bukan pada konsumen mobil premium. Menurut Franky, konsumen di segmen menengah justru lebih banyak melakukan penyesuaian.

"Kalau untuk marketnya sendiri, untuk mobil premium nggak begitu berpengaruh banyak, untuk konsumen mobil premium. Tapi yang middle low-nya, nah itu ada banyak pergeseran," jelasnya.

Pergeseran tersebut salah satunya berupa penurunan kelas kendaraan.

"Artinya dari yang tadinya mungkin bisa di kelas Innova Reborn, itu bisa turun ke mobil-mobil LMPV," tambah Franky.

Fenomena tersebut memperlihatkan pola trading down yang sebelumnya banyak terlihat pada kebutuhan sehari-hari kini ikut masuk ke sektor otomotif.

Konsumen tidak serta-merta berhenti membeli mobil. Sebaliknya, mereka mencari alternatif yang tetap mampu memenuhi fungsi utama kendaraan, tetapi memiliki harga pembelian dan biaya kepemilikan yang lebih ringan.

Pola ini sejalan dengan temuan Liputan6.com mengenai fenomena downgrade, di mana masyarakat cenderung mengganti pilihan dengan alternatif yang lebih murah, bukan sepenuhnya berhenti mengonsumsi.

Penyesuaian tersebut terjadi bersamaan dengan melemahnya aktivitas pasar mobil bekas.

Kepala showroom Morten Auto, Ariothama Dimaz, mengatakan penurunan penjualan sudah terasa dalam beberapa bulan terakhir dan semakin kentara pada bulan ini.

"So far, di beberapa bulan terakhir memang penurunannya cukup terasa. Sudah dari beberapa bulan sebelumnya, tapi bulan ini memang cukup berasa banget turunnya," ungkap Ariothama.

Menurutnya, jumlah konsumen yang datang langsung ke showroom juga berkurang. Penjualan melalui kanal digital pun mengalami kondisi serupa.

"Biasanya masih banyak orang tanya-tanya walk in, tapi bulan ini kurang banget. Kita coba di internet, turun juga," ujarnya.

Jika sekitar empat bulan lalu showroom masih mampu menjual sekitar 50 unit mobil per bulan, kini angkanya hanya berada di kisaran 25 unit.

"Penurunan hampir setengahnya, seperti empat bulan lalu, kita masih bisa 50 unit (sebulan), sekarang hanya 25 unit, hampir 50 persen penurunannya," kata Ariothama.

 

Pergeseran Model

Salah satu pola downgrade yang menarik terlihat dari konsumen yang menjual mobil lamanya untuk kemudian membeli kendaraan dengan harga lebih rendah.

Selisih uang dari transaksi tersebut tidak seluruhnya digunakan untuk membeli kendaraan pengganti, tetapi sebagian disimpan sebagai dana cadangan.

"Pergeseran ada, tadinya luxury car, berubah lebih kecil, ada juga. Biasanya, mereka mencari kembaliannya, atau dari jual mobil lama, dia beli mobil yang lebih murah, dan sisanya untuk saving money konsumen," ujar Ariothama.

Jika sebelumnya konsumen mungkin lebih fokus mendapatkan kendaraan dengan kelas, fitur, atau performa lebih tinggi, kini aspek keamanan finansial mulai mendapat porsi lebih besar.

Mobil tetap dibutuhkan untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Namun, memiliki uang tunai atau tabungan yang cukup dianggap lebih penting daripada mempertahankan kendaraan dengan harga tinggi.

Hal ini sejalan dengan fenomena downgrade kelas menengah yang belakangan terjadi. Liputan6.com menemukan bahwa masyarakat mulai menghitung kembali pengeluaran dan melakukan substitusi, termasuk dalam kategori kendaraan.

Pergeseran pilihan kendaraan ternyata tidak hanya terjadi antara mobil konvensional dengan kelas berbeda. Konsumen juga mulai mempertimbangkan kembali pilihan mobil listrik.

Ariothama mengatakan ada konsumen yang sempat beralih ke mobil listrik, tetapi kemudian menjual kendaraannya dan kembali menggunakan mobil bermesin konvensional.

"Pergeseran ke mobil listrik juga ada, tapi lucunya mereka jual mobil listriknya, dan kembali ke konvensional lagi, karena katanya untuk ngisinya masih tidak ngerasa kurang efisien saja," sambungnya.

Artinya, konsumen kini tidak hanya melihat harga pembelian kendaraan. Biaya dan kemudahan penggunaan sehari-hari juga menjadi pertimbangan.

Dalam kondisi daya beli yang tertekan, kendaraan dengan pengeluaran yang dianggap lebih mudah diprediksi dapat menjadi pilihan yang lebih menarik.

Sementara itu, pemilik showroom Lapak WTC Mangga 2, Peter, melihat ada faktor lain yang membuat persaingan pasar mobil bekas semakin ketat.

Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan karena kehadiran berbagai merek China yang menawarkan model dengan harga relatif kompetitif.

"Pasar kondisi bekas sebenarnya masih bagus. Cuma pilihan jadi makin banyak karena ada mobil China yang lebih variatif, dan harganya lebih murah. Jadi yang biasanya mobil Jepang laku dan gampang jual sekarang udah beda cerita," kata Peter.

Kondisi ini membuat mobil bekas merek Jepang yang selama ini dikenal memiliki pasar kuat harus menghadapi alternatif baru.

Dari sejumlah model yang beredar, SUV masih menjadi salah satu jenis kendaraan yang cukup diminati.

"Katakan Honda, ya HR-V lah. Kalau dari Wuling, karena lebih terjangkaunya si Alvez, maka Alvez lebih gampang jual," imbuhnya.

Meski ada konsumen yang kembali ke mobil konvensional, pasar mobil listrik bekas dinilai masih memiliki prospek.

Peter mengatakan konsumen relatif tidak terlalu khawatir membeli mobil listrik bekas keluaran 2024-2025 karena sebagian unit masih memiliki garansi.

"Mobil listrik bagus kok respons dari model bekasnya. Tapi karena baru juga, dan biasa yang kita pegang mobil listrik 2024-2025. Masih ada garansi, jadi orang nggak terlalu khawatir sih sebenarnya," jelasnya.

Namun, tantangan baru kemungkinan akan terlihat ketika kendaraan listrik memasuki usia yang lebih tua dan masa garansi baterai mulai berakhir.

"Cuma kalau 5-6 tahun ke depan, ya kita masih harus coba ngulik lagi tuh bagaimana tuh. Karena kan garansi, masa garansi udah mau habis (baterai)," pungkas Peter.

Fenomena yang terjadi di WTC Mangga 2 tersebut memperlihatkan satu pola penting dalam perilaku konsumen saat daya beli tertekan.

Masyarakat tidak selalu berhenti membeli. Mereka justru mengubah pilihan agar pengeluaran tetap sesuai dengan kemampuan.

Â