Microsoft Raup Pendapatan Rp 1.671 triliun di Tengah Investasi AI

Pendapatan Microsoft naik 19%. Di sisi lain, pertumbuhan bisnis Azure turut mendorong laba Microsoft.

Diterbitkan 29 Oktober 2026, 14:29 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Microsoft membukukan pendapatan sebesar US$ 92,3 miliar atau Rp 1.671 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 18.110) hingga kuartal yang berakhir 30 September 2026, meningkat 19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini didorong pertumbuhan bisnis komputasi awan Azure yang mencapai 48% di tengah meningkatnya permintaan terhadap layanan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

CEO Microsoft Satya Nadella mengatakan perusahaan terus meningkatkan kemampuan, pilihan, kendali, dan efisiensi biaya bagi pelanggan melalui berbagai produk dan layanannya.

"Kami menghadirkan kemampuan, pilihan, kendali, dan efisiensi biaya yang lebih baik bagi pelanggan di seluruh rangkaian produk kami," kata Nadella dalam pernyataan resmi perusahaan, dikutip dari The Guardian, Kamis (29/10/2026).

Laba Microsoft juga melampaui perkiraan analis. Perusahaan mencatat laba bersih US$ 36,6 miliar atau Rp 662,6 triliun, naik 32% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebelumnya, analis memperkirakan pendapatan Microsoft sekitar US$ 90,6 miliar atau Rp 1.640 triliun dan laba sebesar US$ 35,1 miliar atau Rp 635,5 triliun.

Menurut pengumuman resmi Microsoft, pendapatan bisnis komputasi awan Microsoft Cloud mencapai US$ 63,9 miliar atau Rp 1.157 triliun, tumbuh 30% secara tahunan. Sementara itu, pendapatan segmen Agents and Infra, yang mencakup Azure dan sejumlah layanan produktivitas serta infrastruktur, meningkat 25% menjadi US$ 76,8 miliar atau Rp 1.390 triliun.

Di sisi lain, kinerja sejumlah bisnis perangkat dan konsumen melemah. Pendapatan segmen Devices and Consumer turun 3% menjadi US$ 15,5 miliar atau Rp 280,6 triliun. Pendapatan Windows OEM dan perangkat bahkan merosot 22%, sedangkan layanan konten dan Xbox turun 2%.

 

 

Microsoft Tengah Efisiensi Tenaga Kerja

Kinerja keuangan ini muncul ketika Microsoft terus menggelontorkan investasi besar untuk mengembangkan infrastruktur AI. Permintaan terhadap layanan komputasi awan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan perusahaan, seiring kebutuhan pelanggan akan kapasitas komputasi untuk menjalankan berbagai aplikasi AI.

Namun, perusahaan juga tengah melakukan langkah efisiensi tenaga kerja. Beberapa hari sebelum laporan keuangan diumumkan, Microsoft menawarkan program pengunduran diri sukarela kepada sekitar 60.000 karyawan, atau sekitar seperempat dari total tenaga kerjanya.

Langkah ini menjadi penawaran pembelian kembali masa kerja sukarela kedua Microsoft pada 2026. Pada April lalu, perusahaan juga memberikan opsi pensiun dini kepada sekitar 7% karyawan di Amerika Serikat.

Pada akhir Juni 2026, Microsoft tercatat memiliki 223.000 karyawan di seluruh dunia, turun dari 228.000 orang pada akhir 2025. Di tengah ekspansi bisnis AI dan komputasi awan, perusahaan juga terus mengembangkan perangkat yang mampu menjalankan pemrosesan AI secara langsung tanpa sepenuhnya bergantung pada pusat data jarak jauh.

Â