Produsen Beri Sinyal Naikkan Harga Kebutuhan Pokok pada 2027

Raksasa FMCG dunia beri sinyal kenaikan harga akibat lonjakan biaya energi dan logistik imbas konflik AS-Iran, meski daya beli konsumen kian tertekan.

Diterbitkan 28 Oktober 2026, 16:25 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Raksasa produsen barang konsumsi dan makanan dunia, mulai dari Coca-Cola, Procter & Gamble (P&G), Nestle, hingga Reckitt memperingatkan adanya potensi kenaikan harga produk tahun depan. Langkah ini diambil untuk menutup pembengkakan biaya operasional, meski konsumen saat ini cenderung makin enggan membelanjakan uang untuk belanja bahan pokok. 

Lonjakan biaya energi, bahan baku, dan pengiriman akibat perang AS dengan Iran memaksa para produsen deterjen, minuman ringan, hingga camilan ini memutar otak demi menjaga margin keuntungan perusahaan.

Tambahan kenaikan harga pada barang kebutuhan sehari-hari ini dikhawatirkan akan memperpanjang tekanan inflasi hingga tahun depan. Tingginya tagihan gas dan biaya belanja bulanan pun kini menjadi isu krusial menjelang pemilu sela (midterm elections) AS pekan depan.

Beban biaya akibat perang menjadi pukulan terbaru bagi industri barang konsumsi serta makanan dan minuman. Industri ini sebelumnya sudah berjuang menghadapi lesunya penjualan sejak era pandemi akibat konsumen yang mulai enggan membeli produk makanan kemasan bermerek yang kian mahal.

Tahun lalu, industri juga harus menghadapi imbas kebijakan tarif barang impor yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump.

"Menaikkan harga adalah satu-satunya kartu tersisa yang dimiliki perusahaan-perusahaan ini. Mereka terpaksa melakukannya di tengah kondisi konsumen yang sebenarnya sudah kewalahan," ujar Kepala Ekuitas sekaligus Portfolio Manager di Aptus Capital Advisors, salah satu investor PepsiCo, David Wagner dikutip Business Recorder, Rabu (28/10/2026).

Pada Selasa lalu, CEO Coca-Cola Henrique Braun menyampaikan bahwa tekanan ekonomi pada konsumen diperkirakan masih akan berlanjut hingga 2027.

"Kami melihat adanya kenaikan beban biaya yang utamanya didorong oleh membengkaknya biaya logistik dan transportasi,” ungkapnya saat mengumumkan kenaikan proyeksi laba tahunan perusahaan.

 

Seberapa Jauh Harga Bisa Naik?

Tantangan terbesar bagi produsen saat ini adalah mengukur sejauh mana harga bisa dinaikkan sebelum konsumen benar-benar berhenti membeli. Pimpinan Lindt & Sprüngli mengakui bahwa produsen cokelat asal Swiss tersebut sedang kesulitan akibat salah memperhitungkan respons konsumen terhadap kenaikan harga. Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa hari setelah perusahaan mencopot CEO-nya terkait masalah kinerja keuangan. 

Di sisi lain, opsi bagi perusahaan untuk meredam pembengkakan biaya internal kini kian terbatas.

CEO Reckitt, Kris Licht, menyebutkan bahwa konsumen di Eropa dan Amerika Utara menjadi kelompok yang paling terdampak. Menurut Licht, perusahaan harus jeli membagi porsi, antara berapa besar kenaikan biaya yang dibebankan langsung ke harga jual, dan berapa yang perlu ditutup melalui program promosi.

"Melihat tingginya harga komoditas dan biaya produksi saat ini, kemungkinan besar kami terpaksa harus menaikkan harga produk,” tutur Licht setelah produsen kondom Durex tersebut memangkas proyeksi pendapatan tahunannya, yang memicu penurunan saham sekitar 5% pada Selasa.

Pandangan serupa disampaikan oleh CFO Procter & Gamble, Andre Schulten. Pekan lalu, produsen deterjen Tide ini mengoreksi proyeksi potensi penurunan laba akibat lonjakan biaya bahan baku, energi, dan pengiriman dari sebelumnya USD1 miliar menjadi US$ 1,4 miliar.

"Dengan tingginya tekanan harga komoditas saat ini... industri secara umum pasti akan menaikkan harga. Sebab, tidak ada cara lain untuk menutupi beban sebesar ini tanpa penyesuaian harga," jelas Schulten.

 

Volume Penjualan dan Tingkat Harga

Brian Mulberry, Chief Market Strategist di Zacks Investment Management, menilai bahwa volume penjualan dan tingkat harga Procter & Gamble memang masih relatif stabil pada kuartal terakhir, tetapi pembengkakan biaya operasional sangat menggerus margin keuntungan mereka. 

"Konsumen masih mau berbelanja jika mereka merasa produk tersebut sepadan (worth it), tetapi kita tampaknya sudah mendekati batas maksimal dari apa yang rela dibayar konsumen untuk sekadar membeli camilan,” ujar Mulberry.

Di sisi lain, PepsiCo sepanjang tahun ini terus bolak-balik antara menaikkan dan memangkas harga demi mendongkrak penjualan yang lesu, hingga akhirnya margin mereka ikut tergerus pada kuartal lalu.

Keputusan menaikkan harga memang menyimpan risiko kehilangan pelanggan. CFO Nestle, Anna Manz, pekan lalu menyampaikan bahwa volume penjualan bisa saja turun dalam jangka pendek saat harga dinaikkan, seiring proses penyesuaian dari konsumen.

"Ke depan, tekanan kenaikan biaya produksi mulai terasa lagi,” kata Manz saat Nestle mencatatkan pertumbuhan volume penjualan kuartalan yang lebih cepat dibanding pertumbuhan harganya untuk pertama kali sejak 2024.

"Kami akan menyesuaikan harga sejauh mungkin tanpa merusak tingkat penetrasi konsumen dalam jangka menengah,” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6