Ciri Orang Suka Beli Barang Diskon Meski Tak Butuh Menurut Psikologi

Kenali ciri orang yang suka beli barang diskon meski tak butuh menurut psikologi, dari pemicu emosional hingga cara praktis mengendalikannya.

Diterbitkan 11 Oktober 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pernah checkout barang hanya karena ada label diskon 70 persen, padahal sebenarnya tidak kamu butuhkan? Kalau iya, kamu tidak sendirian, dan perilaku ini termasuk salah satu ciri orang yang suka beli barang diskon meski tak butuh menurut psikologi.

Dorongan semacam ini bukan semata soal boros atau kurang disiplin. Ada mekanisme otak, kondisi emosi, sekaligus trik pemasaran yang bekerja bersama sampai label harga coret terasa sulit ditolak.

Merujuk Mental Health America, belanja kompulsif kerap dipicu oleh kecemasan, depresi, atau harga diri yang rendah. Karena itu, mengenali ciri orang yang suka beli barang diskon meski tak butuh menurut psikologi bisa menjadi langkah awal untuk mengendalikannya.

Apa Itu Kebiasaan Suka Beli Barang Diskon meski Tak Butuh?

Secara sederhana, perilaku ini masuk kategori pembelian impulsif atau impulse buying. Dalam buku Riset Pemasaran dan Konsumen Seri 1 (2018), Ujang Sumarwan menjelaskan impulse buying sebagai kondisi saat seseorang spontan terpikat pada suatu barang lalu langsung membelinya tanpa pertimbangan matang, biasanya dipicu faktor emosional dan bukan kebutuhan yang mendesak. 

Ketika dorongan itu makin sulit dikendalikan, para ahli menyebutnya compulsive buying disorder. Sebagaimana dilaporkan ScienceDirect, gangguan ini ditandai pembelian berulang dan berlebihan yang berujung pada masalah mental, sosial, pekerjaan, hingga finansial.

Sebagaimana diungkapkan Psychology Today, sekitar 6 persen populasi dapat dikategorikan mengalaminya, dengan ciri utama lemahnya kontrol diri saat belanja dan konsekuensi negatif seperti masalah keuangan. Bentuk paling ekstrem dari perilaku ini dikenal sebagai oniomania. Pamela Roberts, Manajer Program Adiksi di Priory Hospital Woking, dikutip dari Priory menyatakan, "Orang dengan oniomania merasa benar-benar dikuasai oleh dorongan untuk berbelanja dan menghabiskan uang."

Memahami definisi ini penting supaya kamu bisa membedakan mana belanja yang benar-benar hemat dan mana yang sekadar terasa hemat. Contoh sederhananya, membeli satu jas hujan diskon saat musim hujan jelas berbeda dengan memborong tiga sekaligus hanya karena ada promo beli-dua-gratis-satu.

Ciri Orang yang Suka Beli Barang Diskon meski Tak Butuh Menurut Psikologi

Tanda paling kentara adalah menjadikan belanja sebagai pelampiasan emosi. Orang dengan pola ini cenderung checkout saat stres, bosan, cemas, atau bahkan terlalu senang, dan label diskon berperan sebagai 'izin' untuk menuruti dorongan tersebut. Michal Shechter, pekerja sosial sekaligus direktur klinik adiksi di Meuhedet Health Services, dikutip dari Ynetnews menyatakan, "Membeli memberi sentakan dopamin yang cepat dan rasa berkuasa. Kamu memilih sesuatu, membayarnya, lalu tiba-tiba merasa lebih baik."

Ciri orang yang suka beli barang diskon meski tak butuh menurut psikologi berikutnya adalah fokus pada berapa yang dihemat, bukan apakah barang itu dibutuhkan. Kecenderungan ini disebut present bias, yaitu terlalu mengutamakan kepuasan instan dibanding manfaat jangka panjang. Akibatnya, keputusan diambil hanya berdasarkan harga, dan barang-barang menumpuk tanpa benar-benar menunjang kehidupan sehari-hari.

Tanda lain yang kerap luput adalah munculnya penyesalan setelah transaksi, tetapi pola belanja tetap berulang; salah satu penanda klasik kecanduan justru keinginan berhenti yang tak kunjung bisa dilakukan, dan hal serupa muncul pada belanja kompulsif. Kondisi ini berbeda dengan orang yang selalu membandingkan harga sebelum beli, karena mereka cenderung menahan diri sebelum memutuskan.

Ciri lain yang menonjol adalah kegemaran mengejar sensasi 'menang' saat berhasil menyambar harga miring, ditambah reaksi kilat terhadap urgensi seperti hitungan mundur dan stok menipis. Tak heran jika keputusan membeli kerap diambil dalam hitungan detik tanpa evaluasi. Perpaduan pemicu emosional, dorongan instan, dan rasa takut ketinggalan inilah yang membentuk ciri orang yang suka beli barang diskon meski tak butuh menurut psikologi.

Alasan Psikologis di Balik Dorongan Beli Barang Diskon

Di level otak, belanja mengaktifkan sistem penghargaan yang sama seperti yang terlibat pada berbagai kecanduan. Patrick Trotzke, psikolog di Charlotte Fresenius University, Cologne, Jerman, dikutip dari Scientific American menyatakan, "Sistem penghargaan dopamin mereka benar-benar menyala." Trotzke menambahkan, ketika sistem itu menyala, kendali di korteks prefrontal ikut melemah sampai sebagian orang merasa tak lagi bisa mengerem.

Menariknya, sensasi paling kuat justru muncul sebelum barang benar-benar dimiliki. Mengacu pada ulasan yang dimuat Forbes, neurosaintis Robert Sapolsky dari Stanford University menjelaskan bahwa otak memperoleh lonjakan dopamin lebih besar dari antisipasi hadiah ketimbang hadiah itu sendiri. Itu sebabnya momen melihat diskon dan membayangkan untung sering terasa lebih memuaskan dibanding barangnya setelah tiba di rumah. 

Hal ini pula yang membuat belanja kerap dijadikan pelarian suasana hati alias retail therapy. Susan Albers, psikolog, dikutip dari Cleveland Clinic menyatakan, "Jika kamu khawatir akan mengalami kecanduan belanja, coba ganti kebiasaan itu dengan perilaku, tujuan, atau hobi yang positif."

Menurut penjelasan yang sama, sekadar menjelajah atau menabung untuk sebuah hadiah pun sudah bisa memicu dopamin tanpa harus langsung mengeluarkan uang.

Dampak kalau Kebiasaan Ini Terus Dibiarkan

Dampak paling kasat mata adalah menumpuknya barang yang jarang atau bahkan tak pernah dipakai. Berdasarkan penelitian yang termuat di PubMed, pembeli kompulsif umumnya memborong pakaian, sepatu, perhiasan, atau kosmetik yang akhirnya kerap tidak terpakai. Selain memenuhi ruang, kebiasaan ini menggerus tabungan karena uang habis untuk hal yang sebetulnya bukan prioritas. 

Secara emosional, ada pola berulang yang melelahkan. Setiap episode belanja memang diikuti rasa lega dan senang, tetapi kemudian berganti menjadi penyesalan serta rasa bersalah. Siklus senang lalu menyesal seperti inilah yang membuat pengeluaran makin sulit dikendalikan dari waktu ke waktu. 

Pada tingkat yang lebih serius, gangguan ini sering beriringan dengan masalah psikologis lain. Studi psikologi mencatat bahwa mereka cenderung memiliki skor tinggi untuk depresi dan impulsivitas, tetapi harga dirinya justru rendah.

Seperti yang diberitakan WTOP, gangguan belanja kompulsif atau oniomania diperkirakan memengaruhi sekitar 5 persen orang dewasa merujuk studi tahun 2016 di jurnal Addiction. Sebagai pembanding, ada pula kebiasaan yang terlihat boros tapi justru cermat, sehingga penting membedakan pemborosan impulsif dari pengeluaran yang memang terencana.

Kenapa Diskon Dirancang Bikin Kamu Sulit Menolak

Sebagian besar godaan ini bukan kebetulan, melainkan hasil rancangan pemasaran yang cermat. Trik paling umum adalah anchoring, yaitu menampilkan harga awal yang tinggi lalu mencoretnya sehingga harga akhir terasa jauh lebih murah, padahal patokan pertama yang kita lihat itulah yang menyetel persepsi.

Trik lain adalah menciptakan urgensi lewat flash sale, hitungan mundur, dan stok terbatas yang memicu rasa takut ketinggalan alias FOMO, sehingga konsumen terdorong memutuskan cepat tanpa pertimbangan matang.

Beragam jebakan diskon semacam ini, termasuk bundling dan promo tanggal kembar, memang dirancang agar kamu bertindak sebelum sempat berpikir panjang.

Begitu kamu menyadari bahwa pola ini hanyalah pemicu buatan, kekuatannya otomatis berkurang. Kamu tetap boleh menikmati promo, asalkan untuk barang yang memang sudah direncanakan, bukan yang mendadak terasa wajib dibeli hanya karena angkanya menggoda.

Cara Praktis Mengendalikan Dorongan Belanja Diskon

Langkah pertama yang paling ampuh adalah memberi jeda pada diri sendiri. Untuk barang yang bukan kebutuhan mendesak, tahan keinginan selama satu hingga dua hari, lalu evaluasi ulang apakah kamu benar-benar memerlukannya. Membiasakan diri membuat daftar belanja terperinci dan hanya membeli yang tercantum juga membantu memupuk pola pikir hemat sejak dari rumah.

Cara lain yang sederhana tetapi efektif adalah lebih sering memakai uang tunai. Dilansir dari National Debt Relief, orang cenderung merasakan nyeri saat menyerahkan uang fisik sehingga menjadi lebih sadar dan menahan diri, sementara pembayaran digital justru menghapus sensasi uang berkurang.

Kurangi pula paparan pemicu di sekitarmu. Berhenti mengikuti akun promo, batasi waktu menjelajah, hindari belanja larut malam saat kontrol diri melemah, dan hapus data kartu yang tersimpan otomatis adalah bagian dari cara mengatasi kecanduan belanja online yang banyak disarankan. 

Terakhir, ganti dorongan belanja dengan aktivitas lain yang menenangkan. Berolahraga, bertemu teman, atau menekuni hobi bisa menjadi alternatif untuk meredakan emosi tanpa harus mengeluarkan uang. Pendekatan ini sejalan dengan cara berhenti belanja impulsif ala hidup minimalis dan teknik menahan diri agar belanja lebih terkontrol.

Kalau pola belanja sudah mengganggu keuangan dan hubungan, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog, sebab terapi perilaku kognitif tercatat sebagai penanganan yang paling didukung bukti untuk belanja kompulsif. 

Pada akhirnya, mengenali ciri orang yang suka beli barang diskon meski tak butuh menurut psikologi bukan soal menghakimi diri, melainkan menyadari apa yang sebenarnya memicu keputusanmu. Dengan memahami cara kerja otak sekaligus trik pemasaran, kamu tetap bisa berburu diskon tanpa dikendalikan olehnya, dan setiap rupiah yang keluar benar-benar sepadan dengan kebutuhan.

Pertanyaan tentang Kebiasaan Membeli Barang Diskon

1. Mengapa seseorang bisa membeli barang diskon meski sebenarnya tidak membutuhkannya?

Label diskon dapat membuat seseorang merasa sedang mendapatkan kesempatan yang sayang dilewatkan. Perasaan memperoleh harga murah tersebut terkadang lebih dominan daripada pertimbangan apakah barang itu benar-benar dibutuhkan.

2. Apakah suka membeli barang diskon berarti seseorang boros?

Tidak selalu. Membeli barang diskon sesekali tidak otomatis menunjukkan perilaku boros. Kebiasaan tersebut baru perlu diperhatikan jika pembelian berulang membuat pengeluaran sulit dikendalikan atau barang yang dibeli akhirnya tidak digunakan.

3. Mengapa diskon besar terasa sulit ditolak?

Potongan harga yang besar dapat menciptakan kesan bahwa seseorang akan kehilangan kesempatan jika tidak segera membeli. Rasa takut melewatkan kesempatan tersebut dapat mendorong keputusan impulsif, terutama ketika promosi dibatasi waktu atau jumlah barang.

4. Apakah membeli barang diskon bisa berkaitan dengan kondisi emosional?

Bisa. Pada sebagian orang, aktivitas belanja dapat menjadi cara mencari kesenangan atau mengalihkan perasaan tidak nyaman. Namun, hubungan antara belanja dan kondisi emosional tidak berarti setiap orang yang gemar membeli barang diskon mengalami masalah psikologis.

5. Kapan kebiasaan membeli barang diskon mulai perlu diwaspadai?

Kebiasaan tersebut patut diperhatikan ketika seseorang terus membeli barang yang tidak diperlukan, kesulitan menghentikan dorongan belanja, menyembunyikan pembelian, atau mengalami masalah keuangan akibat kebiasaan tersebut.

6. Bagaimana cara menghindari pembelian barang diskon yang sebenarnya tidak dibutuhkan?

Berikan jeda sebelum checkout dan tanyakan apakah barang tersebut memang dibutuhkan, akan digunakan secara rutin, serta tetap ingin dibeli jika tidak sedang diskon. Cara ini membantu memisahkan kebutuhan sebenarnya dari dorongan karena melihat harga yang lebih murah.