Prabowo Sebut Solar Langka di Dunia, Bersyukur Indonesia Tak Lagi Impor

Presiden Prabowo Subianto menuturkan, saat pengadaan solar sudah mandiri

Diterbitkan 19 September 2026, 17:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengatakan saat ini ada kelangkaan solar di dunia. Namun, posisi Indonesia diuntungkan karena tak lagi bergantung pada pemenuhan solar dari impor.

Dia mengatakan Indonesia telah berhasil menyetop impor solar CN 48 pada 1 Juli 2026 lalu. Langkah tersebut berhasil dilakukan setelah implementasi biosolar B50 bagi kendaraan diesel di Tanah Air.

"Saudara-saudara, kita juga mulai 1 Juli yang lalu kita tidak impor solar dari luar negeri, solar kita sekarang sudah mandiri," ungkap Prabowo dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026).

Diketahui, B50 dihasilkan dari campuran solar dengan minyak sawit yang diolah menjadi fatty acid methyl ether (FAME) 50 persen. Tambahan komposisi FAME tersebut sekaligus mengurangi penggunaan solar.

Prabowo mengatakan, usai peralihan tersebut, kondisi tak terduga kini terjadi di dunia. Menurut dia, ada kelangkaan pasokan solar dunia. Meski begitu, Indonesia patut bersyukur karena sudah tidak lagi melakukan impor solar.

"Hari-hari ini solar langka di dunia, kita punya uang pun mungkin tidak ada barangnya, Alhamdulillah kita sudah bisa produksi solar kita sendiri, dari mana? Dari kelapa sawit," ucap Prabowo.

Tanaman Ajaib

Kepala Negara memandang kelapa sawit merupakan tanaman ajaib. Bukan tanpa alasan, minyak kelapa sawit punya puluhan produk turunan, termasuk bahan bakar minyak (BBM).

"Dari tanaman yang Maha Kuasa telah memberi karunia kepada kita, yang saya katakan kelapa sawit mungkin itu adalah tanaman ajaib, the miracle plant, the miracle crop," kata dia.

"Dari kelapa sawit kita bisa dapat 57 derivatif, kita bisa dapat obat, kita bisa dapat sabun, kita bisa dapat macam-macam, terutama kita dapat BBM," imbuhnya.

Tiru Kesuksesan B50 Setop Impor Solar, Prabowo Minta Bahlil Siapkan Pengembangan E50

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto meminta pengembangan BBM campur etanol 50% atau E50. Langkah itu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan akan impor BBM.

Bahlil bilang, salah satu acuannya adalah kesuksesan program biosolar dengan campuran 50% minyak sawit atau Fatty Acid Methyl Ether (FAME) mengurangi impor solar. Cara tersebut berhasil menyetop impor solar dari luar negeri.

"B50 ini adalah hasilnya dari CPO dicampur dengan metanol kemudian menjadi FAME yang ini yang mengantarkan kita untuk tidak lagi kita melakukan impor solar untuk khusus CN 48," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (17/9/2026).

 

Konsumsi BBM

Prabowo melihat keberhasilan itu bisa direplikasi pada BBM jenis bensin. Maka, Bahlil diminta untuk menyiapkan langkah-langkah untuk menerapkan campuran 50% bioetanol dengan bensin untuk menjadi E50.

"Belajar berangkat dari ini bahwa Presiden tadi memerintahkan untuk segera menyusun langkah-langkah yang sama untuk kita membangun E20, E50," kata dia.

Langkah tersebut tak lain untuk mengurangi ketergantungan impor. Mengingat masih tingginya kebutuhan akan konsumsi BBM nasional yang mencapai sekitar 40 juta kiloliter (KL) per tahun.

"Kita tahu bahwa konsumsi BBM kita untuk solar per tahun kurang lebih sekitar 39 juta kiloliter dan untuk bensin sama, hampir kurang lebih sekitar 39 sampai 40 juta. Ini sebagai bentuk daripada mendorong ketersediaan BBM dalam negeri," tegas dia.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6