Pertamina Pastikan Harga BBM Subsidi Tetap hingga Akhir 2026

Pertamina Patra Niaga mengikuti kebijakan pemerintah dalam menetapkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Diterbitkan 12 September 2026, 13:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina Patra Niaga memastikan harga BBM subsidi tetap tidak mengalami kenaikan hingga akhir 2026, sejalan dengan arahan Pemerintah. Kepastian tersebut tetap berlaku di tengah dinamika sejumlah parameter pembentuk harga BBM, antara lain harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mengalami fluktuasi.

Pemerintah sebelumnya telah memastikan harga BBM subsidi tidak mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah menjaga stabilitas harga energi dan daya beli masyarakat di tengah dinamika harga energi global.

Sementara itu, untuk BBM Jenis BBM Umum (JBU) atau BBM nonsubsidi, harga mengikuti formula yang telah ditetapkan Pemerintah. Penetapan harga JBU dilakukan dengan mengacu pada formula dan ketentuan yang berlaku.

“Pertamina Patra Niaga mengikuti kebijakan Pemerintah dalam penetapan harga BBM. Meskipun terdapat fluktuasi pada sejumlah parameter pembentuk harga, seperti harga minyak dunia dan nilai tukar, untuk BBM subsidi sesuai arahan Pemerintah tidak ada kenaikan harga hingga akhir 2026. Sementara untuk JBU, harga mengikuti formula yang telah ditetapkan Pemerintah,” tutur VP Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora," dikutip dari keterangan resmi, Sabtu, (12/9/2026).

Pertamina Patra Niaga terus berkomitmen menjalankan kebijakan Pemerintah terkait harga dan penyaluran BBM serta memastikan kebutuhan energi masyarakat dapat terpenuhi dengan baik.

6.050 SPBU Pertamina Sudah Distribusikan B50

Sebelumnya, Pertamina telah menyalurkan mandatori biodiesel B50 ke 6.050 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) atau 94%persen dari total 6.412 SPBU di Indonesia.

Ini diungkapkan Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra. "Masih 362 SPBU yang belum menyalurkan B50 karena masih menyalurkan B40," kata Ega melansir Antara di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Berdasarkan laporan Marketing Operation Region (MOR) yang tersebar di delapan wilayah, kata Mars Ega, rata-rata sudah menyalurkan B50 di atas 90 persen hanya satu MOR yang berada di Maluku dan Papua baru 65 persen. "Untuk di Maluku dan Papua masih menghabiskan stok B40, karena stok masih cukup banyak," ujarnya.

 

Peningkatan Penjualan Biosolar

Sementara dari 121 terminal BBM milik Pertamina kata Ega, hanya satu terminal yang belum menyalurkan B50 yaitu Terminal BBM Sintang, Kalimantan Barat, dikarenakan terkendala pendangkalan sungai.

"Adapun 1 Terminal BBM yang berada di Sintang belum dapat menyalurkan B50 karena faktor cuaca yaitu sungai mengalami penyusutan," katanya.

Ia memastikan, selama mandatori B50 diterapkan secara umum berjalan dengan baik dan untuk pengaduan pelanggan pun tidak terlalu signifikan.

Bahkan terdapat peningkatan penjualan biosolar yang subsidi setelah terjadi kenaikan harga solar nonsubsidi. "Sampai dengan saat ini tidak ada komplain yang signifikan," katanya menambahkan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6