Keluarga Wili Mbuik di NTT Mengaku Diteror Penembak ASN Jayawijaya

Keluarga Wili Mbuik mengaku masih menerima teror video call menggunakan nomor ponsel milik korban.

Diterbitkan 12 September 2026, 12:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Wili Mbuik (24), warga Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi salah satu korban penembakan yang dilakukan kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua pada 9 Oktober 2026.

Dua dari tiga korban penembakan tersebut merupakan warga NTT, yakni Wili Mbuik (24), asal Kabupaten Rote Ndao, dan Alfonsius Albinus Mehan (35), asal Kabupaten Sikka. Keduanya merupakan pegawai pada Dinas Pertanian Pemerintah Kabupaten Jayawijaya.

Paman kandung Wili, Johanis Baba, mengatakan ponsel milik almarhum yang dirampas pelaku penembakan ternyata digunakan untuk meneror keluarga. Teror berupa panggilan video dialami keluarga di Kupang maupun Rote dengan menggunakan nomor ponsel Wili.

"Sampai saat ini, kami masih diteror. Terornya lewat telepon, video call. Itu yang pegang HP-nya almarhum ini," ungkap Johanis, Sabtu (12/9/2026).

Hingga saat ini, keluarga masih menerima teror. Johanis berharap aparat keamanan dapat menghentikan aksi tersebut.

Keluarga meminta pemerintah dan aparat keamanan segera mengatasi kekerasan terhadap warga sipil yang datang untuk mengabdi, serta menghentikan teror yang kini juga menimpa keluarga korban di kampung halaman.

"Harapan saya kepada aparat agar segera menangkap para pelaku agar tidak ada lagi korban di Tanah Papua," pintanya.

 

Bantah Soal Tudingan Intelijen

Keluarga membantah tudingan yang disampaikan KKB bahwa Wili dan dua rekannya merupakan intelijen aparat. Tuduhan tersebut dinilai keluarga sebagai alasan yang dicari-cari kelompok bersenjata untuk membenarkan penembakan terhadap korban.

"Kami datang untuk mengabdi di Tanah Papua, tapi kenapa dicurigai sebagai intelijen? Kalau mau perang, jangan lawan kami warga sipil," ujarnya.

Keluarga juga menyoroti fakta bahwa warga pendatang menjadi korban kekerasan di wilayah tersebut. Mereka berharap pemerintah memberikan perlindungan yang memadai.

"Mereka bekerja dalam ketakutan, padahal niat kami tulus untuk mengabdi. Negara harusnya melindungi kami," pintanya.

Â