Ekspor Minyak Iran Anjlok Jadi Nol, Perang Lumpuhkan Ekonomi

Ekspor minyak Iran dilaporkan jatuh hingga ke titik nol akibat eskalasi perang dan sanksi AS. Bank Sentral Iran sebut cadangan devisa luar negeri dibekukan.

Diterbitkan 21 Agustus 2026, 19:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Sentral Iran Abdolnaser Hemmati mengungkapkan ekspor minyak negaranya telah mencapai nol di tengah perang dan sanksi yang diberlakukan terhadap Iran.

Meski kehilangan sumber pendapatan penting, Hemmati mengatakan pemerintah dan Bank Sentral Iran telah melakukan persiapan untuk menghadapi kondisi tersebut.

“Tidak diragukan lagi bahwa kami menghadapi pembatasan ekspor minyak. Saya juga berbicara dengan pihak Irak dan Qatar; pendapatan mereka dari penjualan minyak telah turun menjadi nol. Hal yang sama juga terjadi pada kami, dan kenyataannya adalah kami tidak mengekspor minyak,” kata Hemmati dikutip dari Anadolu Agency, Jumat (21/8/2026).

Menurut Hemmati, kondisi Iran berbeda dengan Irak dan Qatar dalam hal akses terhadap cadangan devisa bank sentral.

Ia menjelaskan, Irak dan Qatar masih memiliki kemampuan untuk mengakses cadangan bank sentral mereka. Sementara itu, cadangan devisa Iran telah diblokir oleh Amerika Serikat.

“Amerika telah membekukan cadangan devisa kami dan tidak mengizinkan kami menariknya,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan tekanan yang dihadapi perekonomian Iran ketika perang dan sanksi internasional menghambat ekspor minyak sekaligus membatasi akses negara tersebut terhadap sumber devisa.

Hemmati menegaskan, pemerintah dan Bank Sentral Iran telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi kemungkinan hilangnya pendapatan dari ekspor minyak.

 

Islamabad Memorandum

Hemmati juga mengatakan dana Iran yang sebelumnya diharapkan dapat dicairkan berdasarkan kesepakatan kerangka perdamaian dengan Amerika Serikat pada Juni belum juga dibebaskan.

Kesepakatan tersebut dikenal sebagai Islamabad Memorandum dan dirancang untuk membuka jalan menuju kesepakatan final antara Teheran dan Washington. Namun, kesepakatan akhir tersebut hingga kini belum terwujud.

“Masalah pemahaman Islamabad dan pelepasan sumber daya adalah masalah yang terpisah. Sumber daya yang seharusnya dilepaskan berdasarkan pemahaman ini belum juga dilepaskan,” katanya.

Hemmati juga menyinggung kunjungannya ke Irak. Menurut dia, Iran memiliki hubungan politik dan ekonomi yang kuat dengan negara tetangganya tersebut.

Sebelum perang berlangsung, Iran mengekspor barang dan jasa senilai US$ 12 miliar per tahun ke Irak.

Dari jumlah tersebut, sekitar US$ 4 miliar berkaitan dengan pemerintah Irak, termasuk perdagangan gas dan listrik. Sementara US$ 8 miliar lainnya berasal dari sektor swasta.

Hemmati mengatakan Irak telah berjanji menyelesaikan pembayaran yang masih menjadi kewajibannya kepada Iran.

Namun, Baghdad juga menghadapi tekanan ekonomi akibat penutupan Selat Hormuz dan terganggunya pendapatan dari sektor minyak.

Iran dan Irak telah membahas upaya mempermudah transfer serta penggunaan dana Iran yang tersimpan di salah satu bank Irak. Teheran berharap proses tersebut dapat segera membaik.

Pembatasan oleh AS

Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Irak, Hemmati mengatakan kedua negara juga sepakat mengupayakan penggunaan sumber daya di Trade Bank of Iraq untuk mendukung jaminan yang diterbitkan bagi kontraktor Iran yang beroperasi di Irak.

Perdana Menteri Irak menyetujui usulan tersebut dan telah memberikan instruksi untuk mempermudah pelaksanaannya.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu kontraktor Iran yang menjalankan proyek di Irak sekaligus memperlancar hubungan ekonomi kedua negara.

Sementara itu, Amerika Serikat telah lama memberlakukan sanksi terhadap ekspor minyak Iran dan akses negara tersebut ke jalur keuangan internasional.

Washington berupaya membatasi salah satu sumber utama pendapatan devisa Teheran, yakni dari sektor minyak.

Pernyataan Hemmati disampaikan ketika ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat.

Ketegangan tersebut terjadi setelah pengaturan yang tercantum dalam kesepakatan kerangka Juni mengalami kegagalan dan konflik antara kedua negara kembali berlanjut.

Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap Iran yang saat ini menghadapi pembatasan ekspor minyak sekaligus kesulitan mengakses cadangan devisanya di luar negeri.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah Iran mengandalkan persiapan yang telah dilakukan untuk menghadapi dampak hilangnya pendapatan minyak, sembari berupaya menjaga hubungan ekonomi dengan negara-negara mitra, termasuk Irak.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6