Kekeringan Meluas, Ribuan Hektare Sawah Terpaksa Menganggur

Irigasi mampet bikin ribuan hektare sawah menganggur. Pendapatan petani terancam merosot akibat penundaan masa tanam.

Diterbitkan 20 Agustus 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dampak musim kemarau tahun 2026 menghantam sektor pertanian di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Ribuan hektare lahan persawahan terpaksa dibiarkan telantar tanpa ditanami akibat minimnya pasokan air irigasi.

"Musim kemarau benar-benar berdampak terhadap sektor pertanian. Banyak areal sawah menganggur (tidak ditanami). Para petani harus menunda tanam, sampai pasokan air benar-benar aman," kata Ketua Serikat Tani Karawang, Deden Sofyan dikutip dari Antara, Kamis (20/8/2026).

Berdasarkan pendataan dan laporan lapangan selama beberapa bulan terakhir, wilayah yang paling terdampak tersebar di sektor utara, meliputi Kecamatan Pakisjaya, Batujaya, Rengasdengklok, hingga Cibuaya. Fenomena lahan tak tergarap ini juga meluas ke area selatan dan tengah, seperti Kecamatan Tegalwaru, Pangkalan, Ciampel, serta sebagian Telukjambe Barat.

"Kalau dihitung, luas areal sawah yang menganggur pada musim kemarau tahun ini lebih dari 2 ribu hektare," katanya.

Deden mengungkapkan bahwa ancaman kekeringan ini bukan hal baru. Saban tahun saat kemarau tiba, lahan-lahan yang semula produktif terpaksa menganggur karena pasokan air tak memadai.

Ketersediaan air memegang peranan krusial bagi keberhasilan masa tanam. Ketika debit air di saluran irigasi menyusut drastis, para petani tak memiliki pilihan selain membiarkan lahannya mengering.

"Kalau air tidak ada, kami tidak berani menanam. Takut sudah keluar biaya untuk mengolah sawah, tetapi tanaman akhirnya tidak bisa tumbuh," katanya.

Ketergantungan pada Sawah Tadah Hujan

Selain dipicu debit irigasi yang menurun dan ketergantungan pada sawah tadah hujan, Deden turut menyoroti tidak optimalnya infrastruktur penampung air di lapangan.

"Penyebabnya termasuk kegagalan fungsi embung-embung yang telah dibangun Dinas Pertanian. Padahal saat kemarau embung seharusnya dapat dimanfaatkan oleh petani," kata dia.

Padahal, embung yang berfungsi sebagai kolam konservasi untuk menampung air hujan maupun rembesan sangat diandalkan saat pasokan utama surut. Akibat penundaan masa tanam ini, produktivitas sektor pertanian Karawang terancam merosot dan bermuara pada penurunan pendapatan para petani lokal.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Karawang Rochman tak berkomentar saat dikonfirmasi mengenai ribuan hektare sawah yang menganggur pada musim kemarau tahun ini.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6