Lapangan Kerja AS Susut 23.000, Tingkat Pengangguran Turun Jadi 4,1%

Ekonom menilai, pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) belum pulih.

Diterbitkan 08 Agustus 2026, 20:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi Amerika Serikat (AS) mencatat penurunan jumlah lapangan kerja yang tak terduga selama Juli 2026. Sementara itu, tingkat pengangguran sedikit menurun.

Demikian dilaporkan Biro Statistik Tenaga Kerja pada Jumat, 7 Agustus 2026, dikutip dari CNBC, Sabtu (8/8/2026).

Jumlah lapangan kerja di luar sektor pertanian atau nonfarm payrolls turun 23.000 setelah penyesuaian musiman pada bulan tersebut, dibandingkan Juni yang direvisi turun menjadi 20.000. Konsensus perkiraan Dow Jones sebelumnya memprediksi ada penambahan sebesar 83.000 lapangan kerja.

Pada saat yang sama, tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,1% seiring dengan penurunan lebih lanjut tingkat partisipasi angkatan kerja menjadi 61,4%, angka terendah dalam lebih dari lima tahun. Ini menjadi indikasi lain semakin sedikit warga Amerika Serikat yang bekerja atau mencari pekerjaan.

Selain angka yang lemah untuk Juni dan Juli, jumlah akhir untuk Mei direvisi turun menjadi 63.000, atau 66.000 lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Angka-angka revisi tersebut menurunkan rata-rata 12 bulan menjadi hanya 34.000.

"Laporan ketenagakerjaan bulan Juli mempertegas bahwa pasar tenaga kerja belum sepenuhnya pulih dari masa sulit," tutur Ekonom ZipRecruiter, Nicole Bachaud.

Penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya 50.000 lapangan kerja di sektor pendidikan pemerintah daerah dan hilangnya 19.000 lapangan kerja di sektor ritel. Sektor aktivitas keuangan juga mencatat penurunan sebesar 14.000, sementara sektor rekreasi dan perhotelan kehilangan 40.000 lapangan kerja, kemungkinan sebagai dampak dari berakhirnya turnamen Piala Dunia.

Sektor kesehatan, yang selama ini menjadi penggerak utama penciptaan lapangan kerja, mencatat penambahan 22.000 lapangan kerja; angka ini berada di bawah rata-rata 12 bulan sebesar 36.000. Sektor konstruksi juga mencatat peningkatan sebesar 22.000.

Jumlah lapangan kerja di sektor swasta justru meningkat sebanyak 30.000 pada bulan tersebut, sementara lapangan kerja di sektor pemerintah berkurang sebanyak 53.000.

 

 

Upah Pekerja Tak Alami Kenaikan

Pada saat jumlah lapangan kerja tidak menunjukkan perubahan berarti, upah pekerja juga hampir tidak mengalami kenaikan selama bulan tersebut. Rata-rata pendapatan per jam hanya naik 2 sen, sehingga rata-rata kenaikan selama 12 bulan turun menjadi 3,2%. angka yang berada di bawah perkiraan kenaikan sebesar 3,5% dan merupakan level terendah sejak Mei 2021.

Laporan ini muncul di tengah perbedaan pendapat di kalangan pembuat kebijakan Federal Reserve (the Fed) mengenai arah suku bunga dalam kondisi ekonomi di mana pasar tenaga kerja sedang membaik setelah tahun 2025 yang lesu, sementara inflasi tetap jauh di atas target 2% bank sentral.

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah pejabat The Fed menyatakan dukungannya untuk menaikkan suku bunga paling cepat pada bulan September jika laju kenaikan harga tidak melambat. Pekan lalu, Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan melalui pemungutan suara dengan hasil 9 lawan 3.

Menyusul laporan ketenagakerjaan tersebut, pelaku pasar mengubah prediksi mereka mengenai kapan The Fed mungkin akan menaikkan suku bunga. Berdasarkan indikator FedWatch dari CME Group yang memantau harga kontrak berjangka, peluang kenaikan suku bunga pada September turun menjadi 44%, sedangkan untuk Oktober turun menjadi 58,3%.

 

Soroti Pasar Tenaga Kerja

Sementara itu, pasar kontrak berjangka saham mencatat kenaikan yang signifikan di tengah ekspektasi The Fed akan mengambil sikap yang lebih dovish (cenderung melonggarkan kebijakan). Kontrak berjangka yang terkait dengan Dow Jones Industrial Average naik hampir 200 poin, dan imbal hasil (yield) obligasi Treasury anjlok setelah sebelumnya bergerak datar di awal sesi perdagangan.

"Laporan pagi ini menjadi faktor penentu perubahan arah (game changer), karena selama ini fokus tertuju pada inflasi, namun laporan ini juga menyoroti risiko yang ada di pasar tenaga kerja," ujar Chief Investment Officer di Northlight Asset Management, Chris Zaccarelli.

"Sebelum hari ini, banyak pihak memperkirakan The Fed tidak punya pilihan selain menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi yang tetap tinggi dan sulit turun mengingat kuatnya pasar tenaga kerja namun laporan ini menunjukkan bahwa kenyataannya tidak demikian,” ia menambahkan.

 

Tingkat Pengangguran Turun

Rincian laporan tersebut mengonfirmasi angka-angka utama yang lemah. Angka lapangan kerja rumah tangga yang mengukur jumlah orang yang melaporkan diri sedang bekerja dan digunakan untuk menghitung tingkat pengangguran turun sebanyak 87.000. Namun, tingkat pengangguran justru menurun karena adanya pengurangan sebanyak 264.000 orang dalam angkatan kerja. Di luar periode pandemi Covid, tingkat partisipasi berada di titik terendah sejak pertengahan tahun 1976.

"Meskipun tingkat pengangguran menurun, hal itu sebagian besar disebabkan oleh alasan yang kurang ideal—yaitu kurangnya jumlah pekerja," tulis Ekonom Fifth Third Commercial Bank, Bill Adams.

"Imigrasi sempat mengimbangi penuaan tenaga kerja pada tahun-tahun awal pemulihan pascapandemi, namun hal itu tidak lagi terjadi,” ujar Adams.

Rasio lapangan kerja terhadap populasi kembali turun, merosot ke angka 58,9%, level terendah sejak Mei 2014. Sementara itu, ukuran alternatif tingkat pengangguran yang mencakup pekerja yang berhenti mencari kerja (discouraged workers) serta mereka yang bekerja paruh waktu karena alasan ekonomi tetap stabil di angka 7,9%.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6