Ekspor China Tumbuh 23,9% pada Juli 2026, Produk Ini jadi Penopang

Ekspor China pada Juli 2026 mencatatkan pertumbuhan 23,9% tetapi melambat jika dibandingkan Juni 2026.

Diterbitkan 07 Agustus 2026, 20:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ekspor China meningkat di atas perkiraan pada Juli 2026, meski lajunya melambat dibandingkan pertumbuhan pesat pada Juni. Kenaikan ekspor China itu didorong oleh permintaan global terhadap komponen ber-teknologi tinggi yang menyerap produk-produk China.

Mengutip CNBC, Jumat, (7/8/2026), data resmi bea cukai yang dirilis pada Jumat pekan ini menunjukkan ekspor tumbuh 23,9% (dalam nilai dolar AS) Juli dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui perkiraan pertumbuhan 22,2% dari analis yang disurvei oleh Reuters. Angka ini menunjukkan perlambatan dibandingkan lonjakan 27% pada Juni, yang merupakan laju tercepat sejak Oktober 2021.

Sementara itu, impor naik 27,5% bulan lalu, sedikit di bawah estimasi 27,9% dalam survei Reuters, melambat dari lonjakan 36% pada Juni yang merupakan kenaikan tercepat dalam lima tahun.

Pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara global telah membantu menopang ekonomi terbesar kedua di dunia ini di tengah guncangan geopolitik sepanjang tahun. Selain itu, hal itu juga menjaga pertumbuhan tetap stabil meskipun konsumsi dosmetik cenderung lesu.

Berdasarkan data resmi yang dihimpun oleh Wind Information, nilai ekspor sirkuit terpadu (integrated circuit) China hampir dua kali lipat pada tahun ini hingga akhir Juli dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada Juli saja, ekspor chip melonjak 117% dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut otoritas bea cukai China, ekspor produk mekanikal dan elektrikal menyumbang lebih dari 60% dari total pengiriman China dalam tujuh bulan pertama tahun ini. Hal ini didorong oleh permintaan akan kendaraan listrik, baterai litium, dan peralatan pembangkit listrik tenaga angin. Kategori ekspor lain yang tumbuh pesat mencakup printer 3D dan robotika industri.

Para eksportir China juga berpacu mengirimkan barang ke AS sebelum adanya kenaikan tarif yang diperkirakan terjadi. Washington menerapkan pungutan baru sebesar 12,5% terhadap produk China pada akhir Juli, menggantikan tarif sementara sebesar 10% yang telah berakhir masa berlakunya.

 

 

Pengiriman ke AS Tumbuh 17%

Menurut data Wind, pengiriman ke AS tumbuh sekitar 17% dibandingkan tahun lalu, meningkat dari sekitar 14% pada Juni sementara impor naik 15%. Ekspor China ke Uni Eropa terus tumbuh, meningkat 16% secara tahunan (year-on-year) pada Juli, sedangkan impor dari blok tersebut turun 1%. Data bea cukai menunjukkan surplus perdagangan tercatat sebesar US$ 112,5 miliar atau Rp 2.017 triliun melampaui perkiraan analis yang berada di kisaran US$ 107 miliar atau Rp 1.918 triliun tetapi angka ini lebih rendah dibandingkan surplus sebesar US$ 125,6 miliar atau Rp 2.251 triliun pada Juni.

Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang menuturkan, mesin ekspor China kemungkinan akan tetap tangguh pada kuartal ketiga.

Surplus perdagangan China  yang sangat besar yang melampaui angka US$ 1 triliun atau Rp 17.929 triliun  pada tahun lalu telah menjadi sumber keluhan berkelanjutan bagi mitra-mitra dagangnya, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa; para pejabat di wilayah tersebut terus mendesak China untuk menyeimbangkan kembali ekonominya dengan cara mendorong konsumsi.

"Saya memperkirakan akan ada negosiasi intensif antara China dan mitra-mitra dagang utamanya dalam beberapa bulan mendatang mengenai langkah-langkah untuk menciptakan perdagangan yang lebih seimbang," kata Zhang.

Hal ini menjelang pertemuan puncak AS-China yang diperkirakan berlangsung pada September serta pertemuan Uni Eropa-China mengenai hubungan ekonomi pada Oktober.

 

Pertumbuhan Ekonomi China

Otoritas China  menegaskan kembali dukungan bagi perekonomian yang sedang melambat dalam rapat penetapan kebijakan pada akhir Juli, termasuk melalui percepatan pelaksanaan kebijakan fiskal dan penyesuaian moneter yang tepat waktu, tetapi mereka belum mengumumkan langkah konkret untuk mendorong belanja rumah tangga.

Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal kedua tercatat sebagai yang paling lambat sejak kuartal keempat 2022. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 4,3% pada April hingga Juni.

Penjualan ritel mencatat pertumbuhan tipis sebesar 1% pada Juni, sebuah pemulihan terbatas setelah mengalami kontraksi sebesar 0,6% pada Mei. Inflasi konsumen melambat menjadi 1% pada Juni dari 1,2% pada Mei, sementara harga di tingkat pabrik (factory-gate prices) naik 4,1%, yang merupakan pertumbuhan tertinggi sejak Juli 2022.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6