Liputan6.com, Beijing - Walaupun ungkapan bahasa Mandarin "Memiliki tinta di dalam perut" adalah sebuah metafora untuk memuji orang yang memiliki pengetahuan luas, tindakan menelan tinta adalah hal yang umum di kalangan kaum terpelajar di era China kuno.
Dikutip dari South China Morning Post, Selasa (22/9/2026), catatan tertua dari aksi minum tinta terjadi dari masa Dinasti Utara dan Selatan (420-589), di mana aksi ini digunakan sebagai hukuman resmi untuk para cendekiawan yang tulisan tangannya sulit dibaca.
Menurut Book of Sui, catatan sejarah resmi dari dari Dinasti Sui (581-618), pada penyelenggaraan ujian oleh pelayan istana untuk menilai pejabat daerah, para cendekiawan dengan tulisan tangan buruk akan dapat hukuman meminum satu sheng tinta. Satuan volume tradisional China bervariasi tergantung dinasti, dengan satu sheng setara dengan 600 mililiter di masa Dinasti Sui.
Advertisement
Aturan ini kemudian dihapus setelah Li Shimin naik tahta pada masa Dinasti Tang (618-907). Walaupun begitu, beberapa cendekiawan bersedia menelan tinta untuk meningkatkan kemampuan sastra mereka.
Sebagai contoh, salah satu penyair dari Dinasti Tang, Wang Bo (650-676), terkenal karena pernah meminum "beberapa sheng tinta" saat idenya buntu. Setelah minum, ia bisa menyelesaikan sebuah esai dalam satu kali penulisan tanpa melakukan revisi. Aksi Wang ini ibarat membuat draf di dalam pikiran.
Contoh lainnya, sastrawan Dinasti Song (960-1279), Su Shi (1037-1101), menyampaikan kalimat terkenal yaitu, "Jika aku harus mengenakan jubah rami lagi, tinta ujian sangat kayak untuk kuminum."
Dalam buku berjudul Brush Records of Qiuchi yang orang-orang percaya ditulis oleh Su, ada catatan dari tiga tokoh sastra dari Dinasti Song juga menggiling tinta, baik untuk menulis ataupun diminum saat pertemuan-pertemuan mereka sebagai hiburan para cendekiawan. Teks tersebut menjelaskan bahwa "jelaga pinus asli menghasilkan aroma yang bertahan lama, secara alami memiliki nuansa wangi ambergris dan kesturi."
Â
Perbedaan Tinta Dulu dan Sekarang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351671/original/064305900_1789709856-eric-ak-VV_RoNkYudA-unsplash.jpg)
Berbeda dengan tinta zaman modern yang terbuat dari pigmen industri dan bahan kimia tambahan yang berbahaya untuk kesehatan, tinta China kuno dibuat dengan jelaga hasil pembakaran tumbuhan alami atau minyak hewani, menjadikannya aman untuk dikonsumsi.
Terlebih lagi, beberapa tinta memiliki campuran dari obat tradisional China. Salah satu tinta dari Dinasti Qing (1644-1912) yang bernama "Delapan Harta Karun dan Lima Empedu" memiliki formula unik yang mencampurkan belasan jenis obat herbal China yang berharga. Masyarakat percaya memiliki khasiat untuk mencegah penyakit dan merawat kecantikan.
Meskipun sekarang aksi minum tinta tidak ada lagi yang melakukan, ungkapan "tinta di perut" terus dipakai untuk menggambarkan orang dengan wawasan yang luas.
Contohnya, dalam diskusi tentang pemilihan peran untuk sebuah drama televisi mendatang tentang penyair wanita terkenal dari Dinasti Song Li Qingzhao (1084-1155), banyak yang merekomendasikan Chen Duling yang memiliki gelar sarjana di bidang teknik manufaktur pesawat terbang untuk memerankannya karena ia "punya tinta di perutnya."
Selain itu, beberapa organisasi budaya meluncurkan produk tinta yang bisa diminum untuk membawa kembali tradisi unik ini. Misalnya, tahun lalu, Museum Ujian Kekaisaran Nanjing di China memperkenalkan produk tinta yang bisa diminum yang terbuat dari jus murbei hitam, blueberry, dan plum. Pengunjung bisa "menikmati budaya tradisional dengan cara yang menyenangkan."
Â
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355036/original/052934100_1790070144-FALSE__3_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287484/original/056615100_1783229292-bansos_pkh_bpnt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353323/original/048061500_1789960533-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-21T101401.683.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354582/original/028931500_1790055624-cek_bansos_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351669/original/083597900_1789709739-kelly-sikkema-6JQSN8u5Fzg-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409523/original/014973200_1479454255-China.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354334/original/024264400_1790048307-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354074/original/090227100_1789999193-WhatsApp_Image_2026-09-21_at_19.46.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4391028/original/021777800_1681211946-Thumbnail_Liputan6.com-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4327686/original/075002200_1676621490-WhatsApp_Image_2023-02-17_at_14.33.32.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2998205/original/051088300_1576555039-CNBC_Getty_Images.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5842276/original/013183100_1778744131-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353466/original/042279100_1789965980-WhatsApp_Image_2026-09-21_at_11.40.16.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5830572/original/060125200_1778733022-WhatsApp_Image_2026-05-14_at_11.30.09.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351077/original/034306700_1789639270-andre-jackson-IXLS59CTgDE-unsplash.jpg)