Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Merah Sentuh Rp 62.100 per Kg

Berikut daftar harga pangan hari ini, Senin, (6/7/2026) termasuk cabai hingga beras.

Diterbitkan 06 Juli 2026, 08:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga pangan seperti cabai rawit merah menyentuh Rp 62.100 per kilogram (kg) pada Senin pagi, (6/7/2026) pukul 09.30 WIT. Sedangkan telur ayam ras mencapai Rp 29.250 per kilogram.

Demikian berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikutip di Merauke, Papua Selatan, Senin pagi.

Selain itu, PIHPS juga mencatat harga cabai merah besar mencapai Rp 50.500 per kg. Cabai merah keriting Rp 50.900 per kg, dan cabai rawit hijau Rp 49.750 per kg, demikian mengutip Antara.

Harga pangan lainnya di tingkat pedagang eceran secara nasional yaitu bawang merah di harga Rp 47.800 per kg dan bawang putih Rp 44.100 per kg.

Kemudian, beras kualitas bawah I di harga Rp 14.700 per kg, beras kualitas bawah II Rp 14.500 per kg. Sementara itu, beras kualitas medium I Rp 16.350 per kg, dan beras kualitas medium II di harga Rp 16.150 per kg.

Kemudian, beras kualitas super I di harga Rp 17.650 per kg, dan beras kualitas super II Rp 17.100 per kg.

Selanjutnya daging ayam ras segar Rp 36.600 per kg, daging sapi kualitas I Rp 150.250 per kg, daging sapi kualitas II di harga Rp 141.500 per kg.

Harga komoditas berikutnya yakni gula pasir kualitas premium tercatat Rp 20.250 per kg, gula pasir lokal Rp 19.050 per kg.

Sementara itu, minyak goreng curah di harga Rp 20.600 per liter, minyak goreng kemasan bermerek I di harga Rp 24.250 per liter, serta minyak goreng kemasan bermerek II di harga Rp 23.400 per liter.

Purbaya: Inflasi Juni 2026 Dipicu Harga BBM dan Pangan

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan tekanan inflasi Indonesia Juni 2026 akan mulai mereda dalam beberapa bulan ke depan.

Optimisme tersebut didasarkan pada kenaikan harga yang saat ini lebih banyak dipicu oleh komoditas yang bersifat fluktuatif, seperti bahan bakar minyak (BBM) dan sejumlah bahan pangan, bukan karena lonjakan permintaan masyarakat.

Menurut Purbaya, harga komoditas yang bersifat musiman pada akhirnya akan kembali normal. Apalagi, harga minyak dunia saat ini mulai mengalami penurunan yang diperkirakan akan diikuti oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri.

"Tapi kan sama ada cabai, dan lain-lain gitu kan, barang-barang itu. Itu kan (komoditas) musiman. Saya harapkan sih nanti setelah harga minyak ini kan udah turun, harga pertamax saya yakin akan turun pelan-pelan itu sesuai dengan harga minyak dunia. Jadi itu tekanan ke inflasi akan segera berkurang," kata Purbaya dikutip Kamis (2/7/2026).

Ia juga menegaskan, kondisi inflasi saat ini belum mencerminkan adanya permintaan masyarakat yang terlalu tinggi. Hal itu terlihat dari inflasi inti (core inflation) yang masih berada pada level relatif stabil.

"Basically gitu, kita liat core inflation-nya 2,76 persen. Core inflation-nya kan masih relatif terkendali," ujarnya. 

 

Kenaikan Harga Hanya Sementara

Purbaya menilai, stabilnya inflasi inti menjadi sinyal bahwa kenaikan harga yang terjadi saat ini hanya bersifat sementara dan tidak berasal dari sisi permintaan.

"Jadi itu karena harga yang fluktuatif saja, minyak, BBM, dan tadi harga pangan. Itu harusnya akan hilang dalam waktu beberapa bulan ke depan, karena core-nya masih stabil. Jadi kenaikannya bukan karena demand yang terlalu cepat," kata Purbaya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi tercatat sebesar 0,44 persen.

Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar dengan tingkat inflasi 2,29 persen dan memberikan andil 0,28 persen terhadap inflasi nasional.

Kenaikan harga bensin menjadi kontributor utama kelompok tersebut dengan andil 0,21 persen, disusul tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen dan pelumas atau oli mesin sebesar 0,01 persen.

 

Kelompok Makanan dan Minuman

Selain sektor transportasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga turut menyumbang kenaikan inflasi pada Juni 2026.

BPS mencatat kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,20 persen dengan kontribusi 0,06 persen terhadap inflasi nasional.

Beberapa komoditas pangan yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi antara lain bawang merah sebesar 0,04 persen, bawang putih sebesar 0,03 persen, serta beras sebesar 0,02 persen.

Di sisi lain, inflasi inti pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,23 persen secara bulanan dan 2,76 persen secara tahunan.

Angka tersebut sejalan dengan pandangan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menilai tekanan inflasi saat ini masih terkendali. Dengan inflasi inti yang tetap stabil, pemerintah berharap kenaikan harga akibat faktor musiman, seperti BBM dan komoditas pangan, akan berangsur mereda sehingga laju inflasi nasional kembali bergerak lebih terkendali dalam beberapa bulan mendatang.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6