Harga Pertamax Diproyeksikan Turun Jadi Rp 15.000

Dengan meredanya ketegangan AS-Iran dan penurunan harga minyak dunia, harga BBM Pertamax pada Juli 2026 diproyeksikan turun hingga Rp 15.000 per liter.

Diterbitkan 19 Juni 2026, 17:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Meredanya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) diperkirakan membawa dampak positif bagi pasar energi global. Salah satu efek yang mulai terlihat adalah penurunan harga minyak dunia, yang berpotensi menekan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia, termasuk Pertamax.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, memperkirakan harga Pertamax pada Juli 2026 dapat turun ke kisaran Rp 15.750 hingga Rp 16.100 per liter. Estimasi tersebut didasarkan pada perkembangan terbaru harga minyak Brent setelah tercapainya perdamaian antara AS dan Iran, serta penguatan nilai tukar rupiah.

“Ini estimasi saya berdasarkan harga minyak Brent terbaru pascaperdamaian AS dan Iran dan sedikit penguatan rupiah. Mudah-mudahan pada Juli harga Pertamax bisa berada di Rp 15.891 per liter dengan rentang Rp 15.750-Rp 16.100,” ujar Yayan kepada Liputan6.com, Jumat (19/6/2026).

Berdasarkan kajiannya, harga Pertamax diperkirakan turun sekitar 1–3 persen dibandingkan posisi saat ini yang berada di level Rp 16.250 per liter.

Dalam simulasi dasar menggunakan model Structural Vector Autoregression (SVAR), harga Pertamax diproyeksikan berada di angka Rp 15.891 per liter atau turun sekitar 2,2 persen dari harga saat ini.

Sementara itu, jika mengacu pada formula harga berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen), harga Pertamax berpotensi turun hingga Rp 15.000 per liter, atau sekitar 7,7 persen lebih rendah dibandingkan harga yang berlaku saat ini.

Yayan menjelaskan, meredanya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya yang berkaitan dengan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, sukses mengurangi tekanan terhadap harga minyak mentah global. Kondisi tersebut membuka peluang bagi penurunan biaya pengadaan BBM di dalam negeri.

Apabila penurunan harga minyak dunia diteruskan sepenuhnya ke tingkat konsumen, harga Pertamax berpotensi turun lebih dalam mendekati Rp 15.000 per liter. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Pertamina dan pemerintah yang akan menetapkan harga resmi menjelang periode penyesuaian pada Juli 2026.

Penetapan Harga Pertamax Ikuti Mekanisme Pasar dan Formula Pemerintah

Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga menegaskan penetapan harga Pertamax series per 10 Juni 2026 telah mengikuti mekanisme pasar dan formula yang ditetapkan pemerintah. Meski harga minyak dunia mengalami kenaikan akibat dinamika geopolitik global, pemerintah tetap menjaga agar penyesuaian harga BBM non subsidi dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa Pertamax series merupakan BBM nonsubsidi yang harga jualnya mengikuti perkembangan parameter pasar sesuai ketentuan yang berlaku.

Menurut dia, mekanisme tersebut berbeda dengan BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar yang harga jualnya ditetapkan pemerintah dan tidak mengalami perubahan.

“BBM nonsubsidi seperti Pertamax series merupakan produk yang harga jualnya disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi,” ujar Roberth dalam keterangan tertulis, Kamis (18/6/2026).

Ia menambahkan, evaluasi harga BBM non subsidi pada prinsipnya dilakukan secara berkala mengikuti perkembangan indikator keekonomian dan kondisi pasar energi global.

“Pada prinsipnya, harga BBM nonsubsidi dilakukan evaluasi secara berkala setiap bulan sesuai perkembangan parameter keekonomian. Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah,” tambahnya.

Penjelasan tersebut sekaligus menegaskan bahwa penyesuaian harga Pertamax series bukan keputusan yang dilakukan secara sepihak, melainkan mengikuti formula yang telah ditetapkan pemerintah untuk BBM nonsubsidi.

Harga Pertamax Tetap Kompetitif

Pertamina menyebut penyesuaian harga Pertamax pada Juni 2026 turut mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami kenaikan akibat ketidakpastian geopolitik global.

Meski demikian, pemerintah tetap berupaya menjaga stabilitas harga BBM non subsidi agar tidak membebani masyarakat dan perekonomian nasional.

Menurut Pertamina, penyesuaian harga Pertamax yang berlaku saat ini hanya sekitar 50% dari selisih harga pasar yang seharusnya terbentuk berdasarkan kondisi internasional.

Kebijakan tersebut membuat harga Pertamax tetap kompetitif dibandingkan produk BBM sejenis di sejumlah negara ASEAN, sekaligus membantu menjaga daya beli masyarakat.

Pertamina Patra Niaga juga menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan penugasan pemerintah dalam menjaga pasokan energi nasional di tengah dinamika pasar global. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6