Industri Tekstil Sulit Akses Pinjaman Bank, Ternyata Ini Penyebabnya

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan penyebab industri tekstil yang sulit mendapatkan pinjaman bank.

Diterbitkan 06 Mei 2026, 18:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap industri tekstil kesulitan mendapat pembiayaan dari bank. Hal ini menghambat perusahaan untuk berkembang.

Dia menjelaskan, industri tekstil dipandang sebagai sektor yang masuk masa tenggelam atau 'sunset industry'. Kondisi itu menjadikan tekstil tak bisa tumbuh.

"Salah satu kenapa tekstilnya enggak bisa tumbuh kenapa? Karena dianggap sebagai sunset industry," ujar Purbaya kepada wartawan di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026).

Dia mengatakan, pandangan itu membuat perusahaan tekstil sulit mendapat pinjaman bank, bahkan untuk peremajaan mesin untuk menjaga produktivitas.

Salah satu solusinya, dia menggandeng Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Langkah tersebut akan dilakukan dalam waktu dekat. Purbaya berharap upaya itu mampu menjaga industri tekstil tetap hidup.

"Sunset Industry, dia susah sekali dapat pinjaman ke bank untuk peremajaan mesin. Makanya saya tadi pakai LPEI kita sudah ketemu dengan perusahaan tekstil asosiasi itu. Sekarang kita akan menjalankan dalam waktu enggak terlalu lama," beber dia.

Jaga Pertumbuhan Ekonomi

Sebelumnya, Purbaya  buka suara soal potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri Tanah Air. Dia akan mengerek pertumbuhan ekonomi lebih cepat kedepannya.

Purbaya mengaku akan mempelajari informasi mengenai kabar potensi PHK tersebut. Penguatan ekonomi akan menjadi prioritas utamanya.

"Saya akan pelajari gini. Saya akan dorong lagi pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih cepat," kata Purbaya kepada wartawan di kawasan Jakarta Pusat, Rabu, 6 Mei 2026.

 

Kaji Data Lebih Jauh

Dia menjelaskan, naik-turun kondisi perusahaan merupakan hal yang biasa. Namun, dia melihat lebih luas mengenai jumlah perusahaan yang bertahan maupun berkurang. Menurut dia, ada perusahaan yang bertumbuh di sisi lain.

"Tapi kalau masalah perusahaan jatuh bangun, selalu ada, yang saya akan lihat adalah net-nya seperti apa. 5 jatuh, ada yang bangkit enggak? Anda kan nggak lihat kan perusahaan yang baru berapa? Tahu enggak jumlahnya berapa? enggak tahu? Jadi kita mesti lihat itu untuk lebih balance-nya," ungkap dia.

Dia menerangkan, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61% pada kuartal I mampu menghadirkan lapangan kerja baru. Serta, mestimulus tumbuhnya perusahaan-perusahaan baru.

"Harusnya kalau pertumbuhan ekonomi cepat 5 poin kayak kemarin itu harusnya ada penciptaan lapangan kerja baru dan banyak perusahaan-perusahaan baru yang timbul harusnya," ujar dia.

Pastikan Stimulus Ekonomi Cukup

Purbaya menilai jatuh-bangun industri imbas kompetisi merupakan hal yang normal. Meskipun dia akan mempelajarinya lebih jauh apakah hal yang terjadi saat ini merupakan gejala umum atau tidak.

Di samping itu, dia akan memperkuat stimulus ekonomi yang diharapkan mampu menjaga kelangsungan usaha.

"Tapi yang saya pastikan adalah stimulus di ekonomi cukup, likuiditas di ekonomi cukup, dorongan pemerintah ke perekonomian cukup, dan kita perbaikin terus kondisi bisnis di sini," ujar dia.

Bendahara Negara ini memastikan stimulus buat industri otomotif hingga tekstil. "Tekstil kita udah panggil. Industrinya nanti kita, apalagi kan ke Amerika kalau perjanjian jadi kan kita bisa ekspor hampir nol tuh (tarif). Kita perkuat aja di sini industri tekstilnya," beber dia.

 

 

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6