Indonesia Pimpin Proyek Peningkatan Efisiensi Ruang Udara Asia Pasifik

Indonesia resmi didapuk menjadi Chairperson APAC Project 30/10 Task Force oleh ICAO guna memimpin efisiensi ruang udara di kawasan Asia Pasifik.

Diterbitkan 05 Mei 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia resmi memimpin lalu lintas penerbangan internasional atau Chairperson of APAC Project 30/10 Task Force oleh International Civil Aviation Organization (ICAO).

Dalam hal ini Indonesia diwakili oleh AirNav Indonesia, untuk memimpin implementasi peningkatan efisiensi ruang udara di kawasan Asia Pasifik. Dengan begitu, Indonesia memastikan posisinya sebagai pemeran utama dalam pengelolaan ruang udara di kawasan Asia Pasifik.

Sebagai informasi, keterpilihan AirNav Indonesia dinominasikan oleh Malaysia, yang didukung penuh anggota ICAO Asia Pasifik lainnya, seperti Mongolia, Pakistan, Singapura, dan Thailand.

”(Penunjukan) ini mencerminkan kepercayaan negara-negara di kawasan terhadap kapasitas Indonesia dalam memimpin koordinasi lintas negara di sektor navigasi penerbangan,” ungkap Direktur Operasi Airnav Indonesia Setio Anggoro, dikutip Selasa (5/5/2026).

Menurutnya, APAC Project 30/10 Task Force merupakan bagian dari implementasi Project 30/10, sebuah inisiatif global ICAO yang bertujuan meningkatkan efisiensi pengelolaan ruang udara melalui optimalisasi pengaturan jarak antar pesawat (separation minima), dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan.

"Dalam beberapa dekade terakhir, peningkatan kapasitas penerbangan umumnya bergantung pada pembangunan infrastruktur fisik seperti bandara dan landasan pacu. Melalui Project 30/10, pendekatan tersebut mulai bergeser ke arah optimalisasi sistem,"tuturnya.

 

Efisiensi Tanpa Pangkas Aspek Keselamatan

Dalam industri penerbangan, efisiensi operasional menjadi faktor penting dalam menjaga kinerja dan daya saing. Menurutnya, implementasi kebijakan di kawasan Asia Pasifik menghadapi tantangan tersendiri, mengingat perbedaan tingkat kesiapan teknologi, regulasi, serta karakteristik ruang udara antarnegara.

“Implementasi program ini membutuhkan pendekatan kolaboratif antarnegara dengan tingkat kesiapan yang berbeda. Fokusnya adalah memastikan efisiensi dapat dicapai tanpa mengurangi aspek keselamatan,” ujar Setio Anggoro.

Dia menambahkan, efisiensi operasional dan agenda Keberlanjutan menjadi salah satu fokus utama ICAO saat ini. Optimalisasi ruang udara mendukung pengelolaan penerbangan yang lebih efisien dipercaya akan berkontribusi besar terhadap upaya peningkatan kinerja lingkungan di sektor aviasi.

Tidak hanya terpilih sebagai pimpinan dalam pelaksanaan proyek strategis tersebut, AirNav Indonesia juga didaulat menjadi tuan rumah pertemuan perdana APAC Project 30/10 Task Force, di Tangerang, Banten, pada 16–18 Juni 2026 mendatang.

Selain membahas sejumlah isu penting, agenda pertemuan juga menjadwalkan kunjungan para peserta ke Jakarta Air Traffic Control Centre (JATSC) yang dikelola AirNav Indonesia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6