Rupiah Belum Aman, Tekanan Berat Diperkirakan Berlanjut di Mei

Rupiah diprediksi masih tertekan di Mei 2026 setelah sentuh rekor terlemah Rp 17.326 per dolar AS. Simak faktor domestik dan global yang membayangi kurs Garuda.

Diterbitkan 03 Mei 2026, 12:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah menghadapi tekanan berat dan mencatatkan level terlemah sepanjang sejarah pada akhir April 2026. Kondisi ini dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global yang memperburuk sentimen pasar terhadap Rupiah.

Pengamat komoditas Wahyu Laksono menilai pelemahan rupiah saat ini tidak terjadi secara tunggal, melainkan dipicu oleh berbagai tekanan yang datang bersamaan dari dalam dan luar negeri.

“Kondisi rupiah saat ini memang cukup menantang. Posisi di Rp 17.326 per dolar AS per 29 April 2026 merupakan level terlemah sepanjang sejarah, melampaui rekor-rekor sebelumnya,” ujarnya kepada Liputan6.com, Sabtu (2/5/2026).

Dari sisi domestik, sorotan terhadap tata kelola Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) serta sikap Bank Indonesia yang menahan suku bunga dinilai turut membebani persepsi investor. Sementara dari eksternal, lonjakan harga minyak dan tensi geopolitik menambah tekanan terhadap defisit transaksi berjalan Indonesia.

Memasuki Mei 2026, tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum mereda. Sejumlah sentimen negatif seperti potensi kenaikan inflasi, arus keluar modal, hingga kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat masih menjadi faktor penghambat penguatan.

“Rupiah diprediksi masih akan tertekan di awal Mei, seiring masih kuatnya sentimen negatif baik dari dalam negeri maupun global yang membayangi pergerakan nilai tukar,” jelasnya.

 

Skenario Terburuk

Di tengah tekanan tersebut, Wahyu juga mengingatkan adanya potensi skenario terburuk apabila ketidakpastian terus meningkat, terutama dari sisi fiskal dan geopolitik global.

“Jika ketidakpastian politik/fiskal meningkat dan cadangan devisa terus tergerus, rupiah berpotensi menguji level psikologis baru di kisaran Rp 17.500 - Rp 17.800,” ujar Wahyu

Meski demikian, peluang penguatan rupiah tetap terbuka, terutama jika Bank Indonesia mengambil langkah lebih agresif, neraca perdagangan kembali mencatat surplus besar, serta tensi geopolitik global mereda yang berdampak pada penurunan harga minyak dunia.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6