Rupiah Diproyeksi Melemah, Kurs 17.000 per USD Siap-Siap Jadi Kenyataan

Sejumlah faktor mempengaruhi pelemahan rupiah, diantaranya terkait konflik Greenland membuat ketegangan baru antara AS dan Uni Eropa.

Diterbitkan 22 Januari 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan mata uang rupiah akan melemah direntang Rp 16.930- Rp 16.950 pada penutupan perdagangan sore ini Kamis (22/1/2026).

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp 16.930- Rp 16.950," kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (22/1/2026).

Adapun pda perdagangan sore kemarin Rabu 21 Januari 2026 mata uang rupiah ditutup menguat 20 point sebelumnya sempat melemah 20 point dilevel Rp 16.936 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.956.

Lebih lanjut, Ibrahim mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah, diantaranya terkait konflik Greenland membuat ketegangan baru antara AS dan Uni Eropa. 

Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa "tidak ada jalan mundur" terkait Greenland, dengan alasan kekhawatiran keamanan di Arktik, dan mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara-negara Eropa, yang semakin memperburuk pasar yang sudah tegang akibat risiko perdagangan global.

Sementara, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan Eropa tidak akan tunduk pada "para pengganggu," menekankan bahwa rasa hormat dan kerja sama, bukan paksaan, yang seharusnya mendefinisikan hubungan antar sekutu. 

"Pernyataannya, yang disampaikan di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, menggarisbawahi meningkatnya keresahan di Eropa atas retorika dan ancaman perdagangan Washington yang terkait dengan sengketa Greenland," ujarnya.

Muslihat Trump 

Kendati begitu, Trump berusaha menenangkan kekhawatiran dengan mengatakan AS sedang mengupayakan solusi atas masalah ini dan bertujuan untuk mencapai hasil yang memuaskan NATO, tetapi investor tetap berhati-hati.

Selain itu, penentangan Eropa terhadap upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland dan inisiatif "Dewan Perdamaian" yang diusulkannya telah mengganggu rencana paket dukungan ekonomi untuk Ukraina pascaperang, demikian dilaporkan Financial Times pada hari Rabu.

Pengumuman rencana kemakmuran senilai USD 800 miliar yang direncanakan akan disepakati antara Ukraina, Eropa, dan AS di Forum Ekonomi Dunia di Davos minggu ini telah ditunda, demikian dilaporkan FT, mengutip enam pejabat.

Faktor Internal

Sedangkan di dalam negeri yang mempengaruhi pelemahan rupiah yakni, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelebaran defisit fiskal 2,92% pada APBN 2025 atau mendekati ambang batas 3% adalah langkah sengaja guna memacu pemulihan ekonomi nasional. Kebijakan ini diambil sebagai strategi countercyclical guna membalikkan tren perlambatan ekonomi yang membayangi Indonesia sepanjang tahun 2025.

Purbaya menjelaskan, intervensi fiskal yang agresif sangat dibutuhkan untuk menghidupkan kembali sisi permintaan dan penawaran di dalam negeri. Tanpa dorongan APBN yang optimal, ia menilai perekonomian nasional berisiko terperosok ke dalam jurang krisis.

"Kebijakan ini telah mulai membuahkan hasil dengan berbaliknya arah perekonomian ke zona positif. Ia optimistis bahwa prospek ekonomi ke depan akan jauh lebih baik berkat keputusan berani yang ia sebut sebagai "kebijakan fiskal cerdas"," ujarnya.

Secara bersamaan, Bank Indonesia  memutuskan menahan suku bunga acuan, BI Rate, di level 4,75% pada Desember 2025. Sementara itu, suku bunga deposit facility tetap bertahan di 3,75% dan suku bunga lending facility di 5,5%. Keputusan ini konsisten menjaga rupiah di tengah ketidakpastian global dengan memperkuat efektivitas transmisi moneter dan makroprudensial untuk jaga stabilitas dan dorong ekonomi ke depan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6