Harga Emas dan Perak Cetak Rekor Baru, Investor Berbondong-bondong Buru Safe Haven

Harga emas dan perak mencetak rekor baru setelah ketidakpastian kebijakan The Fed memicu lonjakan minat investor pada aset lindung nilai.

Diterbitkan 13 Januari 2026, 07:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia menembus rekor baru di atas USD 4.600 per ons pada perdagangan Senin, sementara perak juga menyentuh level tertinggi sepanjang masa.

Lonjakan harga emas dan harga perak ini terjadi ketika investor berbondong-bondong memburu aset safe haven di tengah meningkatnya ketidakpastian terkait tekanan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Federal Reserve (The Fed).

Dikutip dari CNBC, Selasa (13/1/2026), harga emas di pasar spot tercatat naik 2,2% ke level USD 4.609,58 per ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi di USD 4.629,94 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup menguat 2,5% ke posisi USD 4.614,70 per ons.

“Ketidakpastian yang tinggi langsung berdampak pada pasar emas. Hampir setiap pekan selalu muncul sumber ketidakpastian baru,” ujar Kepala Riset Komoditas Global Societe Generale Michael Haigh.

Menurut Haigh, kondisi yang menopang reli harga emas ini kecil kemungkinan berbalik dalam waktu dekat. Sepanjang tahun lalu, harga emas melonjak lebih dari 64%, menjadi kinerja terbaik sejak 1979. Sementara perak mencatatkan tahun terbaik sepanjang sejarah dengan kenaikan mencapai 146,8%.

 

Gonjang-ganjing The Fed

Tekanan terhadap The Fed kian meningkat setelah pemerintahan Trump mengancam akan menjerat Ketua The Fed Jerome Powell dengan dakwaan pidana terkait pernyataannya mengenai proyek renovasi gedung bank sentral.

Powell menyebut isu tersebut sebagai “dalih” untuk mengambil alih kendali kebijakan pemangkasan suku bunga yang diinginkan Trump.

Masa jabatan Powell sendiri akan berakhir pada Mei mendatang. Pemerintahan Trump dikabarkan akan mewawancarai Rick Rieder dari BlackRock sebagai kandidat potensial pengganti Powell, sebagaimana dilaporkan Fox News.

The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan 27–28 Januari, setelah memangkas suku bunga sebesar 75 basis poin sepanjang tahun lalu.

Meski begitu, pelaku pasar masih memperkirakan akan ada dua kali pemangkasan suku bunga tambahan tahun ini, yang semakin meningkatkan daya tarik aset tanpa imbal hasil seperti emas.

 

Geopolitik Memanas

Selain faktor kebijakan moneter, ketegangan geopolitik global juga turut menopang harga logam mulia. Trump tengah mempertimbangkan respons terhadap penindakan mematikan atas aksi protes di Iran, setelah sebelumnya mencopot Presiden Venezuela Nicolas Maduro serta melontarkan wacana untuk mengakuisisi Greenland.

Harga perak spot melonjak ke rekor tertinggi USD 85,75 per ons, dan terakhir tercatat naik 6,9% ke level USD 85,437 per ons.

“Emas dan perak biasanya bergerak beriringan,” kata manajer dana emas dan perak Jupiter Asset Management Ned Naylor-Leyland.

Namun, ia menambahkan, “ketika arus dana masuk ke perak, pergerakannya bisa sangat agresif karena pasar perak lebih kecil dan jauh lebih sensitif terhadap arus keluar-masuk dana.”

Logam mulia lainnya juga ikut menguat. Harga platinum naik 3,5% ke level USD 2.351,78 per ons, sementara palladium menguat 3,3% ke posisi USD 1.875,68 per ons.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6