Harga Emas Melonjak Usai Turun Tajam

Simak pergerakan harga emas dunia hari ini Jumat 26 Juni 2026

Diterbitkan 26 Juni 2026, 07:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia berbalik menguat pada perdagangan Kamis (Jumat waktu Jakarta) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) dirilis sesuai dengan ekspektasi pasar. Kondisi tersebut meredakan sebagian kekhawatiran investor terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga agresif oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), sekaligus mendorong pelemahan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Dikutip dari CNBC, Jumat (26/6/2026), harga emas di pasar spot naik 0,7% menjadi US$ 4.029,09 per ons setelah sebelumnya sempat melemah hingga 1% pada awal perdagangan. Sementara itu, harga emas AS menguat 0,9% menjadi US$ 4.045,20 per ons.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dirilis sesuai dengan perkiraan menjadi salah satu faktor yang menopang pergerakan harga emas.

"Data PCE secara umum sesuai dengan ekspektasi pasar. Hal itulah yang membuat pergerakan harga emas hari ini relatif stabil," ujar Meger.

Berdasarkan data pemerintah AS, indeks harga PCE meningkat 4,1% secara tahunan hingga Mei 2026. Angka tersebut menjadi kenaikan tertinggi sekaligus pertama kalinya inflasi PCE kembali berada di atas level 4% sejak April 2023. Hasil tersebut juga sejalan dengan proyeksi para ekonom yang disurvei Reuters.

Setelah data inflasi diumumkan, indeks dolar AS berbalik melemah sehingga membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pembeli dari luar negeri. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) juga mengalami penurunan.

Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mendatang cukup besar. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember berada di kisaran 80%, turun dari 85% sebelum data inflasi dirilis. Namun angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan 61% sebelum rapat kebijakan The Fed pekan lalu.

Menurut Meger, perhatian investor ke depan masih akan tertuju pada perkembangan inflasi yang akan menjadi faktor utama dalam menentukan arah kebijakan moneter The Fed.

"Fokus utama pasar tetap pada tekanan inflasi ke depan. Itulah salah satu alasan mengapa harga emas mengalami pelemahan dalam beberapa sesi terakhir," katanya.

 

Harga Emas Sempat Jatuh

Pada perdagangan sebelumnya, harga emas sempat jatuh di bawah level psikologis US$ 4.000 per ons untuk pertama kalinya sejak November 2025. Penurunan tersebut dipicu meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga setelah The Fed mengadopsi nada yang lebih agresif (hawkish) dalam pertemuan kebijakan moneternya pekan lalu.

Meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena investor beralih ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Sementara itu, harga minyak dunia turun kembali ke level sebelum pecahnya konflik di Timur Tengah. Penurunan dipicu ekspektasi meningkatnya pasokan minyak setelah kesepakatan penghentian perang antara Amerika Serikat dan Israel memungkinkan kembali beroperasinya jalur pelayaran di selat strategis kawasan tersebut.

Untuk logam mulia lainnya, harga perak naik 2,2% menjadi US$ 58,68 per ons. Harga platinum menguat 1,8% menjadi US$ 1.606,09 per ons, sedangkan palladium naik 2,7% menjadi US$ 1.199,47 per ons.         

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6