AS Umumkan Tarif Impor Baru, Sejumlah Negara Bersiap Lanjutkan Negosiasi

Lebih dari selusin negara bersiap untuk bernegosiasi dengan AS usai Donald Trump umumkan tarif impor baru.

Diperbarui 09 Juli 2025, 09:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengancam akan menaikkan tarif impor terhadap sejumlah negara, termasuk mitra sekutunya sendiri, memicu gelombang kekecewaan. Namun, di tengah ketegangan itu, sejumlah negara tetap menyuarakan harapan akan tercapainya kesepakatan yang menguntungkan kedua pihak melalui jalur negosiasi.

Menurut laporan media lokal, Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba mengatakan pengumuman tarif terbaru itu “sangat disesalkan,” seraya menekankan bahwa ia akan melanjutkan negosiasi dengan pemerintah AS.

Jepang termasuk dalam daftar dua negara yang akan mengenakan tarif “timbal balik” lebih tinggi berdasarkan pengumuman Presiden Trump pada bulan April. Gedung Putih menyatakan bahwa tarif atas barang impor dari Jepang ke AS naik dari tarif awal 24 persen menjadi 25 persen mulai 1 Agustus mendatang.

Dalam rapat kabinet yang membahas strategi Jepang dalam menangani kebijakan tarif, Perdana Menteri Ishiba mencatat bahwa pihak pemerintah Trump telah mengusulkan rencana untuk melanjutkan dialog hingga batas waktu pada Agustus mendatang.

“Tergantung pada tanggapan Jepang, isi surat itu dapat direvisi,” kata Ishiba pada pertemuan Selasa pagi, beberapa jam setelah Trump mengunggah salinan surat tarifnya di platform media sosial Truth Social.

Korea Selatan

Di sisi lain, pemerintah Korea Selatan menyatakan akan mempercepat proses negosiasi tarif dengan Amerika Serikat demi mengakhiri perdagangan sesegera mungkin, demikian laporan Yonhap News yang mengutip pernyataan Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi, dilansir dari CNBC , Selasa (8 Juli 2025).

Trump menetapkan tarif menyeluruh sebesar 20% atas impor dari negara tersebut, tetap sesuai dengan tingkat tarif “timbal balik” yang diumumkan pada April lalu.

Dalam pertemuan dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick di Washington, Menteri Perdagangan Korea Selatan Yeo Han-Koo menyampaikan permintaan agar Amerika Serikat menurunkan tarif atas mobil, baja, dan produk lainnya yang berasal dari perusahaan Korea.

 

Thailand dan Malaysia

Menteri Keuangan Thailand, Pichai Chunhavajira, mengaku "sedikit terkejut" dengan kebijakan tarif terbaru, namun tetap "yakin" bahwa tarif tersebut pada akhirnya akan disesuaikan dengan tingkat yang berlaku di negara lain, demikian dilaporkan Reuters.

Tarif atas ekspor Thailand ke AS ditetapkan sebesar 36%, menjadikannya salah satu yang tertinggi di antara 14 negara yang disebut Trump pada hari Senin. Besaran tarif ini tidak mengalami perubahan sejak diumumkan pada bulan April lalu.

Dengan kenaikan tarif menjadi 25% dari ancaman sebelumnya sebesar 24%, Malaysia menyatakan komitmennya untuk tetap bekerja sama dengan pemerintah AS dalam menyelesaikan sejumlah permasalahan yang belum terselesaikan.

“Malaysia berkomitmen untuk melanjutkan keterlibatan dengan AS menuju perjanjian perdagangan yang seimbang, saling menguntungkan, dan komprehensif,” kata Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa.

 

Presiden Afrika

Di luar Asia, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa menolak tarif sebesar 30% yang dikenakan AS. Dalam pernyataan yang diunggah di platform X, Ramaphosa menyebut tarif tersebut “bukan representasi akurat dari data perdagangan yang tersedia,” sambil menekankan bahwa 77% produk asal AS masuk ke Afrika Selatan tanpa dikenai bea masuk.

Afrika Selatan akan melanjutkan upaya diplomasinya “hubungan perdagangan yang lebih stabil dan menguntungkan dengan Amerika Serikat,” katanya.

Menurut Deborah Elms, kepala kebijakan perdagangan di Hinrich Foundation, berbagai upaya diplomasi dan negosiasi yang dilakukan negara-negara dengan Trump tampaknya tidak banyak mempengaruhi kebijakan yang diambil.

“Anggota ASEAN yang bekerja keras mengembangkan paket menerima hampir semua perlakuan yang sama dengan negara-negara yang tidak terbang ke DC atau tidak diundang untuk bertemu,” kata Elms, seraya menambahkan bahwa Trump mungkin masih menargetkan negara-negara Asia karena “kekhawatiran atas rantai pasokan regional yang mencakup konten dari Tiongkok.”

Melalui unggahan di media sosial pada hari Senin, Trump mempublikasikan tangkapan layar surat yang mencantumkan tarif baru bagi lebih banyak lagi dari berlangganan negara. Surat itu memberikan sinyal bahwa masih ada ruang negosiasi sebelum batas waktu 1 Agustus, dan menyiratkan bahwa pemerintah AS dapat mempertimbangkan penyesuaian terhadap tarif yang telah diumumkan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6