Sukses

Pemerintah Siap Fasilitasi Perluasan Investasi Nestle di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, berkomitmen untuk memfasilitasi pengembangan usaha Nestle di Indonesia.

Hal itu disampaikan dalam kunjungan kerjanya ke Davos, Swiss, saat bertemu langsung dengan Head of Operations Nestle Magdi Batato (24/5/2022).

Kata Bahlil, saat ini, Nestle tengah dalam proses investasi pembangunan pabrik keempatnya yang berlokasi di Batang Industrial Park (BIP) dalam rangka peningkatan kapasitas pabrik sebesar 25 persen atau 775.000 ton senilai CHF 220 juta.

Disisi lain, Bahlil juga mengapresiasi atas komitmen Nestle untuk rencana kolaborasinya dengan petani dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal, seperti yang telah dilakukan saat ini yaitu bermitra dengan 20.000 petani lokal untuk pabriknya di Jawa Timur.

“Saya senang sekali dengan investasi Nestle di Indonesia, karena banyak masyarakat Indonesia yang menggunakan produk Nestle. Termasuk saya juga menjadi “korban” karena sering mengkonsumsi produk Nestle,” kata Bahlil, dalam keterangannya, Jumat (27/5/2022).

Dalam pertemuan tersebut, Head of Operations Nestle Magdi Batato menyampaikan apresiasinya terhadap Kementerian Investasi/BKPM atas dukungan dan fasilitasi investasi Nestle di Indonesia, mulai dari groundbreaking sampai dengan saat ini, termasuk dalam proses perizinan investasi.

“Kami sangat berharap agar tim Kementerian Investasi/BKPM dapat terus bekerja sama dan menjalin komunikasi yang baik untuk terus mendukung investasi kami di Indonesia,” ujar Magdi.

 

2 dari 4 halaman

Punya 3 Pabrik

Sebelumnya, Menteri Investasi hadir langsung dalam acara peletakan batu pertama pabrik baru Nestlé Bandaraya di Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah pada bulan Mei 2021 lalu.

Rencananya, pabrik Nestle yang memproduksi susu cair dan minuman siap konsumsi tersebut akan mulai beroperasi komersial tahun 2023 mendatang.

Nestle Indonesia didirikan pada tahun 1971 serta telah mempekerjakan sekitar 3.700 karyawan. Saat ini, Nestle telah memiliki 3 Pabrik di Panjang (Lampung), Cikupa (Banten), dan Kejayan (Jawa Timur).

Sebagai salah satu investor asal Swiss yang terbesar, Nestle diharapkan dapat menjadi salah satu perusahaan swasta percontohan yang mendukung Pemerintah dalam memperkuat program penguatan pangan di Indonesia serta terus meningkatkan investasinya di Indonesia.   

3 dari 4 halaman

Menteri Bahlil Ajak Pengusaha Dunia Investasi Mobil Listrik di Indonesia

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menggoda para pengusaha global untuk ikut melakukan investasi di Indonesia. Ia menyebut, kali ini sudah saatnya berbagai negara membangun kolaborasi.

Hal ini disampaikan berkaitan dengan fokusnya dalam mengembangkan energi baru terbrukan di tanah air. Diketahui, ini jadi bagian dalam transisi energi yang jadi perhatian negara di dunia.

Bahlil Lahadalia menyebut, salah satu langkahnya dengan memberikan perhatian dalam produksi baterai kendaraan listrik. Ia mengungkap sudah banyak perusahaan yang menyetujui untuk melakukan investasi di bidang ini di tanah air.

“Sudah saatnya saya pikir, kompetisi itu penting, diantara negara-negara tapi kolaborasi diantara negara-negara itu jauh lebih penting untuk kita menghasilkan satu output terbaik bagi dunia,” katanya dalam Indonesia Economic Outlook 2022 and The G20 Precidency, di Davos, Swiss dalam siaran daring, Senin (23/5/2022).

Di sektor pengembangan mobil listrik, Bahlil mengajak para pengusaha global untuk ikut berkontribusi bersama dengan Indonesia. Ini juga berkaitan dengan pemerintah yang memberlakukan larangan ekspor bahan mentah.

Kalaipun dilakukan, kata dia, akan dikenakan pajak yang lebih tinggi ketimbang dengan ekspor bahan olahan baik setengah jadi atau barang jadi.

“Kami membuka diri untuk semua negara-negara ambil bagian,” katanya.

4 dari 4 halaman

Pembuatan Baterai

Ia menuturkan, Indonesia akan mendorong pembuatan baterai mobil listrik di dalam negeri. Alasannya, 25 persen cadangan nikel dunia ada di Indonesia, yang artinya cukup besar bahan baku baterai ini di tanah air.

“yang kedua, kita mempunyai mangan dan cobalt, yang gak punya kita adalah lithium. Karena itu secara cost produksinya akan jauh lebih efisien di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, di sisi energi baru terbarukan, ia mengaku memiliki cadangan sebesar 12.000 MW di Kaltara yang disumbang Pembangkit Listrik Tenaga Air. Kemudian, PLTA di Papua juga akan menymbang 23.000 MW.