Sukses

Penjualan UMKM Anjlok karena Perilaku Konsumen di Masa Pandemi Berubah

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi Corona memberikan tekanan kepada semua usaha termasuk juga Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Hal tersebut terjadi karena konsumen mengubah perilaku konsumsi mereka.

Direktur Pengembangan UKM dan Koperasi Bappenas, Ahmad Dading Gunadi menjelaskan, penjualan UMKM mengalami penurunan selama masa pandemi Corona ini. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan penjualan UMKM adalah perubahan perilaku konsumen.

"Dampak Covid-19 terhadap perubahan pasar UMKM jadi aktivitas berkurang karena masyarakat lebih banyak diam di rumah, sehingga harus model diganti dengan sistem delivery dengan langsung ke konsumen tidak lagi berkumpul di suatu tempat ini dampak dampak yang dirasakan," kata dia dalam diskusi online di Jakarta, Rabu (3/6/2020).

Pergeseran pola konsumsi tersebut menyebabkan terjadinya penurunan penjualan terhadap UMKM di Indonesia. Apalagi pola konsumsi berubah dengan memprioritaskan pengeluaran pada barang dan jasa seperti makanan dan juga alat kesehatan.

"Jadi di harus melihat peluang pasar ada pergerakan UMKM yang meningkat di barang pokok terkait dengan makanan frozen, makanan kering itu yang meningkat atau yang delivery langsung itu yang jelas akan meningkat," kata dia.

 

2 dari 2 halaman

Survei ABDSI

Sebelumnya, survei dilakukan oleh Asosiasi Business Development Sevices Indonesia (ABDSI) mencatat bahwa seluruh penjualan dilakukan UMKM mengalami penurunan

"ABDSI melakukan survei terhadap 6.000 UMKM di Indonesia jadi kita mau lihat tadi hampir semua penjualannya menurun malah tidak ada yang bisa menjualkan," katanya.

Hasil survei mengatakan, jumlah UMKM yang menurun lebih dari 60 persen mencapai 26,6 persen dari total 6.000 responden atau UMKM. Sementara UMKM sama sekali tidak ada penjualan yakni mencapai 36,7 persen.

Lebih lanjut, hampir sebanyak 15,0 persen UMKM mengalami penurunan penjualan sekitar 31 sampai dengan 60 persen dari total responden. Sedangkan penjualan yang menurun dari 10 persen sampai 30 persen tercatat 14,2 persen saja.

"Tapi ada yang sedikit juga sekitar 3,6 persen ini lebih tinggi penjualannya atau 4,5 persen sama jadi ada yang menurun ada yang sama dia lebih tinggi jadi ini juga masih ada peluang meskipun indeks konsumen menurun tapi masih di atas 1 persen sehingga ini ada peluang untuk tetap melihat pasar yang sangat segmented," jelas dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com