Ayam Alope Berkokok, Nanas Bertumbuh: Cerita Penghidupan Baru Masyarakat Luwu Timur

Kemandirian ekonomi tumbuh dari Luwu Timur. Warga berhasil memanfaatkan potensi yang ada menjadi sumber penghidupan.

OlehFauzan
Diterbitkan 17 September 2026, 18:24 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Suara ayam bersahutan dari kandang Kelompok Waliko di Desa Matompi, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Beberapa kilometer dari sana, di perbukitan Desa Tabarano, Kecamatan Wasuponda, ribuan tanaman nanas tumbuh di lahan yang sebelumnya kering dan rawan terbakar.

Dua komoditas itu menjadi bagian dari cerita warga Luwu Timur dalam mengembangkan potensi di sekitar mereka menjadi sumber penghidupan. Di Matompi, warga membesarkan ayam Alope, sedangkan di Tabarano mereka mengubah lahan berbatu menjadi kebun nanas.

Keduanya tidak tumbuh dalam satu malam. Ada proses pembentukan kelompok, pembukaan lahan, pelatihan, pendampingan hingga pengembangan pasar yang membuat usaha masyarakat perlahan bergerak.

Di Matompi, cerita itu dimulai pada 2021. Sulaiman Rokah bersama sejumlah warga dan anak muda membentuk Kelompok Waliko karena ingin mengembangkan peternakan ayam Alope.

"Awal mula berdirinya kelompok Waliko ini atas dasar keinginan kami teman-teman semua yang ada di tempat ini. Ini awal berdirinya Waliko tahun 2021, itu kita dibantu dari desa ke PT Vale," kata Sulaiman.

Pada 2022, kelompok mendapat dukungan berupa satu kandang berukuran sekitar 5 x 7 meter dengan kapasitas 500 ekor ayam. Dari satu kandang tersebut, usaha berkembang hingga kelompok menambah dua kandang lainnya.

Pengembangan kembali dilakukan pada 2025 melalui kolaborasi PT Vale Indonesia, Universitas Hasanuddin dan pemerintah daerah. Sekitar 1.200 ekor ayam diberikan untuk mendukung siklus peternakan yang berkelanjutan.

"Di tahun 2025 kita ada kerja sama mitra dari PT Vale, Unhas, dan Pemda. Yang mana kita diberikan di situ sekitar 1.200 ekor ayam untuk siklus berkelanjutan," ujar Sulaiman.

Kini, sekitar 200 ekor ayam berada di salah satu kandang Kelompok Waliko. Pemeliharaan dilakukan secara bergiliran dengan siklus produksi yang disesuaikan dengan kemampuan kelompok dan permintaan pasar.

Bagi Sulaiman, pengembangan peternakan tidak cukup hanya dengan menambah jumlah ayam. Pengetahuan mengenai cara merawat ternak menjadi bagian penting agar usaha tersebut dapat terus berjalan.

Anggota kelompok mendapatkan pelatihan teknik budidaya ayam kampung sekaligus pendampingan lapangan. Pendampingan tersebut dilakukan sejak awal pengembangan kelompok dan terus berlanjut dalam proses produksi.

"Ada pendampingan lapangan dari teman-teman BSK untuk saat ini. Dan sebelumnya kita juga diberikan pendampingan di tahun 2021. Pelatihan-pelatihannya ada teknik budidaya ayam kampung," kata Sulaiman.

Ia juga meluruskan penyebutan ayam yang mereka pelihara sebagai ayam organik. Menurutnya, ayam yang dikembangkan Kelompok Waliko merupakan ayam kampung asli yang dipelihara dengan perawatan khusus.

"Kita masih ayam kampung asli, kita mengatakan organik kayaknya sedikit keliru sekali. Tapi kami pastikan ayamnya sehat," ujarnya.

Pakan ayam disiapkan dengan pola campuran antara pakan komersial dan bahan campuran yang digunakan kelompok. Hasil ternak kemudian dipasarkan sehingga aktivitas peternakan tidak berhenti pada proses pemeliharaan.

Yang berkembang bukan hanya jumlah ternak. Peternakan tersebut juga menjadi ruang bagi warga untuk mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.

Anak-anak muda dilibatkan dalam kegiatan kelompok. Sementara pekerjaan yang masih dilakukan secara manual, seperti pencabutan bulu ayam, turut dikerjakan oleh ibu-ibu rumah tangga.

"Anak-anak muda kita libatkan semua," kata Sulaiman.

Kelompok juga membuka ruang bagi penyandang disabilitas. Mereka diberikan pekerjaan sesuai kemampuan dan tidak dipaksa melakukan pekerjaan yang berada di luar kapasitasnya.

"Kita kasih kebebasan untuk dia, apa yang bisa dia lakukan, itu saja kita berikan. Kita tidak akan pernah memaksa," ujar Sulaiman.

"Jadi kita memanfaatkan ibu-ibu rumah tangga," lanjutnya.

 

Lahan Rawan Kebakaran Menjadi Kebun Nanas

Cerita berbeda datang dari Desa Tabarano, Kecamatan Wasuponda. Jika Matompi menjadikan kandang sebagai pusat aktivitas ekonomi, warga Tabarano memanfaatkan lahan perbukitan untuk menanam nanas.

Ketua Kelompok Ponda’ta Desa Tabarano, Yohanis Gusti, mengatakan masyarakat sebelumnya membuka lahan secara mandiri. Namun, hasil yang diperoleh belum maksimal karena mereka belum mendapatkan pendampingan teknis dan dukungan sarana.

"Awalnya dulu kami buka lahan ini mandiri tanpa pendampingan, tidak maksimal. Nanti kami kerja sama dengan pihak PT Vale, kami dikasih pendampingan-pendampingan pelatihan sampai kami dapat hasil yang sampai sekarang maksimal," kata Yohanis.

Melalui program Pineapple Pathways for Sustainability Ponda’ta, lahan sekitar lima hektare itu dikembangkan menjadi kawasan budidaya nanas. Sekitar 25 ribu tanaman nanas kini tumbuh di kawasan yang sebelumnya kering dan berbatu.

Pengembangan kebun tidak hanya menyentuh tanaman. Kelompok juga mendapat dukungan infrastruktur berupa rumah kompos, rumah maggot dan nursery, serta pelatihan untuk mendukung pengelolaan kebun.

"Dukungan dari pihak PT Vale itu sangat besar sekali, manfaatnya di sini termasuk pendampingan, pelatihan, infrastruktur, termasuk ini pembuatan rumah kompos, rumah maggot dengan nurseri, itu semua dari bantuan pihak PT VALE," ujar Yohanis.

Sisa tanaman dan tumbuhan di sekitar kebun dimanfaatkan untuk bahan kompos. Budidaya maggot juga dikembangkan sebagai bagian dari pengelolaan bahan organik di kawasan tersebut.

Kebun Ponda’ta mulai menghasilkan setelah panen perdana pada 2024. Hingga 2025, kelompok telah mencatat empat kali panen dengan sekitar dua hektare lahan yang telah produktif.

Yohanis menyebut hasil produksi tersebut mulai menciptakan perputaran ekonomi bagi kelompok. Pada 2025, omzet dari hasil nanas disebut mencapai sekitar Rp40 juta.

Pengembangan kawasan masih berlanjut. Pemerintah daerah menargetkan areal tanaman nanas dapat diperluas hingga 25 hektare, sementara kawasan yang sudah berkembang mulai diarahkan sebagai agrowisata.

Ketika Kemarau Tak Lagi Hanya Membawa Kekhawatiran

Bagi Kepala Desa Tabarano, Rimal Manuk Allo, perubahan paling terasa justru terlihat dari fungsi lahan tersebut. Beberapa tahun lalu, kawasan perbukitan yang kering membuat pemerintah desa harus rutin bersiap menghadapi ancaman kebakaran setiap musim kemarau.

"Selama ini kami rutin melakukan itu. Tapi sekarang ceritanya berbeda," kata Rimal.

Rimal merupakan salah satu penggagas penanaman nanas di kawasan tersebut. Ia melihat karakter tanaman nanas yang mampu bertahan dalam kondisi kering sehingga dinilai cocok dikembangkan di lahan tersebut.

"Tidak disiram pun bisa tumbuh," ujarnya.

Kini, sedikitnya 15 warga dilibatkan dalam pengelolaan kawasan hortikultura nanas. Rimal mengatakan keberadaan kebun tersebut juga membuka kesempatan kerja bagi warga yang membutuhkan tambahan penghasilan.

"Dengan adanya kawasan perkebunan hortikultura nanas ini bisa membantu warga kami yang masuk dalam kategori rumah tangga miskin. Ada 15 warga yang kami pekerjakan, dan rencananya kami akan semakin memperluas wilayah ini," katanya.

Keterlibatan masyarakat juga meluas ke lembaga desa. Anggota Badan Permusyawaratan Desa ikut menanam nanas agar warga tidak hanya melihat perkembangan kawasan dari luar.

"Badan Permusyawaratan Desa pun ikut tanam nanas. Karena kalau hanya melihat, tak akan lahir rasa memiliki," ujar Rimal.

Kawasan Ponda’ta kemudian diresmikan sebagai Agrowisata Ponda’ta Tabarano pada 2024. Selain menjual buah segar, warga mulai mengolah nanas menjadi sejumlah produk seperti dodol, keripik dan asinan.

Dengan pengolahan tersebut, aktivitas ekonomi tidak hanya berlangsung saat masa panen. Produk turunan memberi ruang bagi warga untuk tetap memperoleh nilai ekonomi dari hasil kebun setelah buah dipanen.

Dari Komoditas ke Ekosistem Usaha

Pengembangan ekonomi masyarakat di Luwu Timur juga bergerak di luar peternakan dan hortikultura. PT Vale Indonesia mencatat 139 pelaku UMKM binaan telah dikembangkan di empat kecamatan.

Produk masyarakat tersebut mendapat ruang promosi melalui Galeri UMKM di Sorowako. Produk yang ditampilkan beragam, mulai dari kerajinan tangan, makanan ringan, minuman herbal hingga kopi dari kawasan Danau Matano.

Pendampingan juga mencakup penguatan kapasitas usaha, pemasaran dan pengembangan produk. Aktivitas masyarakat dengan demikian tidak hanya bertumpu pada produksi, tetapi juga mulai diarahkan pada pengolahan dan pemasaran.

Head of External Relations Sorowako & Outer Area PT Vale Indonesia, Yusri Yunus, mengatakan pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui sejumlah bidang, termasuk penguatan ekonomi dan kemandirian masyarakat.

"Kami rutin bersama pemerintah kabupaten melakukan evaluasi. Sinergitas ini tidak lepas dari dukungan Pak Bupati sebagai pucuk pimpinan tertinggi di Luwu Timur," kata Yusri.