Liputan6.com, Jakarta - Pekan ini perhatian tertuju kepada kebijakan bank sentral soal suku bunga dan harga minyak dunia. Tiga bank sentral utama dunia telah menaikkan suku bunga. The Federal Reserve (the Fed) menaikkan suku bunga pertama kali sejak 2023. Suku bunga the Fed menjadi 4% dan memberi sinyal ada kenaikan lanjutan sebelum akhir tahun.
Sementara itu, Bank of Japan menaikkan suku bunga menjadi 1,25%. Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) telah mengambil langkah serupa pada pekan lalu. Demikian mengutip dari riset PT Ashmore Asset Management Indonesia, Minggu (20/9/2026).
Yang menarik, imbal hasil obligasi tidak naik merespons berita itu. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) bertenor 10 tahun sempat mencapai puncak di atas 5% sehari sebelum pertemuan the Fed. Namun, kemudian melandai kembali ke kisaran 4,94%.
Advertisement
Pada pekan ini, crude palm oil (CPO) menguat 2,95% dan indeks Nikkei bertambah 1,57%. Namun, harga minyak merosot 1,82% dan batu bara terpangkas 1,76%.
Harga minyak juga stabil. Harga minyak Brent bertahan di delat level US$ 104 setelah sempat mendekati US$ 110 pada pekan lalu, seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan lebih lanjut di Arab Saudi.
“Kekhawatiran akan gangguan pasokan lebih lanjut di Arab Saudi,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Di sisi lain, Ketua the Federal Reserve (the Fed) Kevin Warsh menyatakan kondisi keuangan dan kredit akan lebih selaras dengan tujuan The Fed, serta menegaskan inflasi saat ini terlalu tinggi dan telah berlangsung terlalu lama, sehingga stabilitas harga menjadi fokus utama.
Pandangan The Fed Soal Ekonomi AS
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4266425/original/035543800_1671506043-20221220-Libur-Natal-Tahun-Baru-AS-AP-5.jpg)
Ia menggambarkan ekonomi AS sedang menguat. Hal ini merujuk pada perbaikan dalam perekrutan tenaga kerja, laba perusahaan, dan investasi bisnis.
Ia juga mengakui The Fed tidak dapat memengaruhi harga komoditas spesifik seperti bahan bakar atau bahan pangan, tetapi perannya adalah memastikan kenaikan harga tersebut tidak meluas menjadi dampak putaran kedua dan ketiga.
“Fakta tiga bank sentral utama melakukan pengetatan kebijakan secara bersamaan memiliki dampak lebih besar bagi pasar negara berkembang dibandingkan keputusan individual mana pun. Hal ini dikarenakan ketika suku bunga global naik secara serentak, biaya pinjaman meningkat di berbagai wilayah dan modal cenderung beralih ke aset-aset di pasar negara maju,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS BERtenor 10 tahun terus meningkat selama sebulan terakhir, dari kisaran 4,62% pada akhir Agustus hingga mencapai puncaknya di atas 5,03% pada 15 September, sehari sebelum pertemuan The Fed.
“Faktor pendorong kenaikan tersebut antara lain pidato Warsh yang bernada hawkish di Jackson Hole pada akhir Agustus, laporan ketenagakerjaan bulan Agustus yang lebih kuat dari perkiraan, serta lonjakan harga minyak hingga melampaui US$ 100 diiringi data inflasi yang lebih tinggi,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Advertisement
Imbal Hasil Obligasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5390136/original/019934000_1761231981-AP25286531544387.jpg)
Namun, setelah kenaikan suku bunga tersebut, imbal hasil kembali turun ke kisaran 4,94% karena langkah itu sudah hampir sepenuhnya diantisipasi pasar dengan probabilitas yang diperhitungkan mencapai hampir 90% sebelum benar-benar terjadi.
Harga minyak juga melandai pada periode yang sama, sehingga mengurangi premi inflasi yang sebelumnya diperhitungkan dalam harga obligasi berjangka waktu lebih panjang. Dengan menegaskan The Fed tidak akan membiarkan tekanan harga meluas, riset Ashmore menyebutkan, Warsh memberikan kepastian bagi pasar obligasi jangka panjang sembari tetap menaikkan suku bunga jangka pendek.
"Pelajaran yang lebih luas di sini adalah bahwa pergerakan pasar didorong oleh selisih antara kenyataan yang terjadi dan ekspektasi sebelumnya, bukan oleh peristiwa itu sendiri,” demikian seperti dikutip dari riset Ashmore.
Harga Minyak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258069/original/058566900_1781312784-AP26162502155547.jpg)
Di kawasan Teluk, situasinya tidak seburuk yang dikhawatirkan terkait penutupan Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline) milik Arab Saudi jalur utama pengiriman minyak mentah tanpa harus melewati Selat Hormuz akibat serangan pesawat nirawak pada 11 September.
Saudi Aramco merespons dengan mengalihkan pengiriman kargo melalui Selat tersebut dengan bantuan Angkatan Laut AS serta melakukan transfer muatan antar-kapal di dekat pelabuhan Sohar, Oman; perusahaan juga tengah berupaya memulihkan sekitar separuh kapasitas pipa dalam hitungan hari dan mengembalikan operasi penuh dalam waktu sekitar enam minggu.
Jadwal pemulihan inilah yang membuat harga minyak melandai, meskipun lalu lintas kapal melalui Selat tersebut masih terbatas pada sekitar empat kapal per hari jauh di bawah angka sekitar 120 kapal sebelum konflik sehingga jalur air itu secara efektif masih tertutup bagi lalu lintas komersial biasa. Konflik yang mendasarinya belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian, dan harga minyak di level US$ 104 mencerminkan kondisi tersebut.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297473/original/054602700_1784094013-cek_fakta_BRI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350433/original/029287200_1789615728-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-17T102714.549.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340558/original/047338600_1788510282-cek_fakta_-_BNI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5491146/original/066985700_1770086696-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-03T094228.234.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4216934/original/094233100_1667793288-Wall-Street-3.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352128/original/001744500_1789729837-IMG_20260918_180755.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351710/original/071499200_1789711815-Kantor_Bank_of_Japan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3029352/original/041405400_1579686482-20200122-Penguatan-Rupiah-5.jpg)