Modal PNM Mekaar Bantu Asra Kembangkan Sulam Kasab, Tradisi Aceh Tetap Hidup di Tengah Modernisasi

Asra menekuni sulam kasab sejak 1990. Dukungan modal dan pendampingan membantunya memperluas usaha sekaligus membuka peluang kerja warga.

Diterbitkan 20 September 2026, 15:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Modernisasi dan semakin masifnya produk buatan industri menjadi tantangan bagi kerajinan tradisional untuk bertahan. Proses pengerjaan yang panjang, membutuhkan keterampilan khusus dan ketelitian membuat tak semua orang bersedia meneruskan tradisi tersebut.

Namun, Asra memilih jalan berbeda. Perempuan berusia 63 tahun asal Kuala Baru, Aceh, itu konsisten menekuni usaha sulam kasab sejak 1990.

Baginya, kerajinan tradisional bukan hanya menjadi sumber penghasilan. Ada keterampilan lokal, warisan budaya, dan identitas daerah yang perlu dijaga agar tetap dikenal generasi berikutnya.

“Awalnya usaha ini berangkat dari budaya sulam benang kasab yang memang sudah menjadi tradisi di daerah kami. Karena proses pembuatannya cukup lama dan membutuhkan ketelitian, lambat laun banyak warga yang lebih memilih membeli sulam manik-manik kasab daripada membuatnya sendiri,” ujar Asra.

Dari Rumah ke Rumah hingga Dipasarkan ke Berbagai Daerah

Asra melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk menawarkan keterampilan yang dimilikinya. Ia mulai menerima pesanan sulam dari rumah ke rumah.

Awalnya, aktivitas menyulam dilakukan di sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Perlahan, keterampilan itu berkembang menjadi usaha yang ikut membantu perekonomian keluarga.

Jangkauan usaha Asra pun terus bertambah. Sulam manik-manik kasab yang semula hanya dipesan masyarakat sekitar kini telah dipasarkan ke berbagai daerah di Aceh.

Di balik setiap produk yang dihasilkan, terdapat proses pengerjaan yang tidak sederhana. Sulam kasab dibuat dengan tangan dan memerlukan keterampilan khusus. Setiap tarikan benang harus dilakukan secara hati-hati agar pola yang dihasilkan tetap rapi.

Kesabaran menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Kesalahan pada satu bagian dapat memengaruhi keseluruhan hasil kerajinan.

“Keunikan usaha ini ada pada proses pembuatannya yang cukup rumit. Setiap tarikan benang membutuhkan ketelitian dan kesabaran ekstra. Tidak bisa dikerjakan terburu-buru karena setiap bagian harus dibuat dengan hati-hati supaya hasilnya rapi dan bagus,” jelasnya.

Tambahan Modal Bantu Asra Perbesar Produksi

Perjalanan panjang mempertahankan usaha tak selalu berjalan mulus. Asra sempat menghadapi kendala permodalan untuk memenuhi kebutuhan produksinya.

Pada 2020, ia bergabung menjadi nasabah PNM Mekaar untuk mendapatkan tambahan modal. Pembiayaan tersebut digunakan untuk membeli bahan dalam jumlah lebih banyak sehingga kapasitas produksi dapat ditingkatkan dan pesanan yang diterima semakin bertambah.

“Alhamdulillah, tambahan modal tersebut membantu saya untuk tetap menjalankan usaha dan memenuhi kebutuhan produksi,” katanya.

Selain mendapatkan pembiayaan, Asra mengikuti pendampingan berupa pelatihan mengenai benang kasab yang diselenggarakan di Kuala Baru. Kegiatan tersebut turut menambah pengetahuan dan keterampilannya dalam mengelola usaha kerajinan.

Usaha Berkembang, Warga Ikut Dapat Penghasilan

Berkembangnya usaha Asra kemudian memberikan dampak bagi masyarakat sekitar. Peningkatan kapasitas produksi membuatnya mampu membuka kesempatan kerja bagi warga.

Masyarakat yang terlibat dalam produksi sulam manik-manik kasab pun bisa memperoleh tambahan penghasilan.

Dampaknya tidak hanya terasa dari sisi ekonomi. Kehadiran para perajin juga ikut menjaga keterampilan menyulam agar tetap hidup di tengah masyarakat Kuala Baru.

Kisah Asra sekaligus menjadi bagian dari pemberdayaan pelaku usaha ultra mikro melalui Holding Ultra Mikro (UMi). Holding ini mengintegrasikan BRI sebagai induk bersama Pegadaian dan PNM.

Sejak dibentuk pada 2021, Holding UMi dirancang untuk memperluas dan memperdalam akses layanan keuangan masyarakat, khususnya segmen ultra mikro. Ekosistem tersebut menggabungkan pembiayaan, simpanan, transaksi, pemberdayaan, hingga pendampingan usaha.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, pemberdayaan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem ultra mikro yang berkelanjutan.

“Melalui Holding Ultra Mikro, kami ingin memastikan bahwa akses keuangan menjadi pintu masuk menuju pemberdayaan yang lebih luas. Pelaku usaha seperti Ibu Asra menunjukkan bahwa ketika akses pembiayaan dipadukan dengan pendampingan dan semangat untuk terus berkembang, usaha ultra mikro dapat memberikan manfaat yang jauh melampaui pemilik usahanya sendiri,” ujar Dhanny.

Lebih dari tiga dekade sejak memulai usahanya, Asra terus mempertahankan sulam kasab di tengah perubahan zaman. Kerajinan tersebut kini bukan hanya menopang penghidupan keluarga dan masyarakat sekitar, tetapi juga ikut menjaga keterampilan tradisional Aceh agar tetap hidup dan dikenal generasi berikutnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6