Sukses

Produksi Minyak RI Akan Bertambah 11.500 Bph

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, produksi minyak Indonesia akan bertambah sebesar 11.500 barel per hari (bph) seiring dengan beroperasinya lapangan minyak baru pada semester ke dua 2019.

Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi mengatakan, pada semester dua 2019 akan mulai pengoperasian empat lapangan minyak yaitu YY di Blok Offshore North West Java (ONWJ), Panen di Blok Jabung, dan Kedung Keris di Blok Cepu. 

‎"Ini yang akan memberikan tambahan produksi minyak secara total sekitar 10.000 bph, mulai Kuartal IV 2019," kata Agung, dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (12/7/2019).

Tambahan prodiksi Minyak juga berasal dari Blok Merangin II, dengan produksi sekitar 1.500 bph dari produksi yang sudha beroperasi pada awal 2019.

Sedangkan untuk realisasi produksi minyak siap jual (lifting minyak) sampai semester pertama 2019 sebesar 752 ribu bph atau 97 persen dari target(Anggaran Pendapatan Belanja Negara/APBN).

Dia mengakui realisasi lifting masih belum mencapai target mengingat kemampuan cadangannya, namun  capaian ini telah didorong upaya optimalisasi serta pengembangan baru melalui pengeboran sumur baru, pengoperasian proyek baru, dan pemeliharaan yang optimal. 

"Khusus untuk minyak, decline rate-nya bahkan dapat diminimalkan hingga 3 persen. Ini prestasi mengingat secara umum, decline rate alamiah rata-rata pada kisaran 15-20 persen untuk mayoritas lapangan mature di Indonesia," tandasnya.

 

2 dari 4 halaman

5 Penghasil Minyak Terbesar

Adapun 5 produsen migas atau Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS)  Terbesar, penyumbang 75 persen lifting minyak nasional selama semester pertama 2019 sebagai berikut:

1. Chevron Pacific Indonesia 194 ribu bph

2. Exxon Mobile Cepu Limited MCL 220 ribu bph

3. Pertamina EP 80 ribu bph

4. Pertamina Hulu Mahakam (PHM) 37 ribu bph

5. PHE OSES  29 ribu bph

3 dari 4 halaman

Realisasi Lifting Migas Capai 1,8 Juta Boepd di Semester I 2019

Realisasi lifting minyak dan gas (migas) hingga Juni 2019 mencapai 89 persen dari target Anggaran Pendapatandan Belanja Negara (APBN) sebesar 2 juta bopd. Total lifting migas sebesar 1,8 juta barel setara minyak per hari (boepd) dengan rincian lifting minyak 752 ribu barel per hari (bopd) dan liftinggas 1,06 juta boepd.

Target lifting migas 2019 diproyeksikan tercapai di semester II 2019. Ini mengingat 8 dari 11 proyek akan onstream di semester II 2019.

“Di tengah perkembangan dunia yang sangat pesat serta kebutuhan atas energi minyak dan gasyang semakin meningkat, penggunaan teknologi dalam usaha hulu merupakan sebuah keharusan dimana kerumitan area operasi dan eksplorasi juga semakin menantang,” ungkap Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto dalam pembukaan Forum Fasilitas Produksi Migas (FFPM) 2019 dalam keterangan tertulisd di Jakarta, Selasa (9/7/2019).

FFPM merupakan acara tahunan yang diselenggarakan Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyakdan Gas Bumi bersama SKK Migas. Mengangkat tema Inovasi dan Transformasi FasilitasProduksi Migas Menyongsong Era Industri 4.0.

Dwi mengatakan industri hulu migas membutuhkan sebuah transformasi dan diversifikasi usaha. Bukan hanya sekedar mencari danmemproduksikan migas saja, namun harus memperhatikan hal-hal yang menjadi kebutuhandari pasar energi, tuntutan terhadap penggunaan energi yang lebih bersih, dan lain sebagainya.

”Salah satu transformasi dalam kegiatan operasi hulu migas yang akan diaplikasikan pada tahunini adalah Integrated Operation Center (IOC). IOC merupakan sebuah sistem integrasi data yangmencakup beberapa aplikasi/layanan pengelolaan kinerja operasi Kontraktor Kontrak Kerja Sama," kata dia.

Layanan dan aplikasi yang tergabung di dalam IOC, lanjut dia, antara lain Integrated Operation System (SOT) for Production Dashboard, Oil and Gas Lifting Dashboard, Stock ManagementDashboard, Plant Information Management System (PIMS), Facility Maintenance Monitoringand Project Monitoring, Vessel Tracking Information System (VTIS), Real Time DrillingOperation, dan Emergency Response Center (ERC).

Salah satu manfaat IOC adalah optimalisasi perencanaan pemeliharaan fasilitas karena terbukanya data secara terintegrasi. Dengan optimasi perencanaan di awal tahun kegiatan operasi pemeliharaan fasilitas, berpotensi mengefisiensi anggaran pemeliharaan fasilitassebesar USD 84 juta di 2019.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Semester I 2019, Sudah 2,9 Juta KL Biodiesel Dicampur ke Solar
Artikel Selanjutnya
Perang Dagang Bikin Harga Batubara Indonesia Anjlok