Sukses

Ekonomi AS Tumbuh 4,1 Persen pada Kuartal II 2018

Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi Amerika Serikat (AS) catatkan ekonomi tumbuh 4,1 persen pada kuartal II 2018. Hasil pertumbuhan ekonomi AS itu merupakan terbaik sejak kuartal III 2014.

Melihat data ekonomi yang dirilis, ekonomi AS berada dalam kondisi baik. Pengangguran dekati titik terendah dalam 18 tahun, pabrik mendapatkan pesanan lebih banyak dan ekspor melonjak. Demikian mengutip laman CNN Money.

Pertumbuhan kuartal II 2018 yang kuat mencerminkan peningkatan besar untuk pesanan barang tahan lama, investasi di kontruksi non perumahan, ekspor, kekayaan intelektual dan belanja daerah. Ekspor naik lantaran para petani bergegas ekspor kedelai ke China jelang pengenaan tarif bea masuk.

Pengeluaran konsumsi pribadi menguat empat persen. Data tersebut juga digunakan bank sentral AS atau the Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga. Sedangkan pembangunan rumah dan investasi swasta melemah. Ini menjadi hambatan untuk ekonomi AS.

Disebutkan tarif serta pemotongan pajak besar pada tahun lalu merupakan faktor kunci pertumbuhan ekonomi.

"Intinya bukan karena kenaikan besar inflasi. Produk Domestik Bruto (PDB) akan jauh lebih baik karena pengeluaran meningkat, ekspor dan pemerintah yang imbangi penurunan tajam investasi terutama swasta," ujar Chief Investment Officer Bleakley Advisory Group, Peter Boockvar, seperti dikutip dari laman CNBC, Jumat (27/8/2018).

Ia menambahkan, investasi modal diharapkan terus meningkat mengingat insentif pajak yang bertambah.

Sebelumnya ekonom prediksi, pertumbuhan lebih lambat pada paruh kedua 2018. Ini karena efek pemangkasan pajak yang mereda dan kenaikan suku bunga menekan belanja konsumen.

Adapun pengenaan tarif impor akan sedikit berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi kecuali lebih banyak yang dikenakan. Para pemimpin perusahaan juga berhati-hati karena berdasarkan survei menyebutkan kepercayaan bisnis dan harapan merekrut tenaga kerja mulai tertahan.

Kemudian yang jadi pertanyaan apakah percepatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat akan berlanjut? Sejumlah ekonom khawatir belanja konsumen pada April-Juni yang melonjak tidak berlanjut.

Selain itu perang dagang antara Amerika Serikat dan China juga dapat redam pertumbuhan lebih lanjut. Trump telah mengenakan tarif 25 persen atas barang impor China senilai USD 34 miliar. AS juga telah mengenakan tarif baja dan aluminium. Namun, baru-baru ini pemerintah telah membuat kemajuan dalam perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

RI Genjot Ekspor ke Amerika Serikat

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) memfasilitasi pertemuan pelaku usaha Indonesia dan AS dalam forum bisnis dan one-on-one business matching di KBRI Washington DC, Amerika Serikat (AS). 

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari misi dagang Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita untuk menjaga keseimbangan hubungan dagang dengan AS, yang merupakan salah satu pasar ekspor utama Indonesia. 

"Sebagai mitra dagang utama Indonesia, tidak hanya hubungan antara Pemerintah Indonesia dan AS saja yang perlu didorong. Hubungan antarpelaku usaha dari dua negara juga perlu didorong dan ditingkatkan. Forum bisnis ini diadakan untuk meningkatkan hubungan ekonomi antara Indonesia dan AS di tengah persaingan bisnis dunia yang ketat,” ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat 27 Juli 2018.

Menurut dia, forum bisnis dan business matching tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong peningkatan kerja sama dagang Indonesia dan AS dari sektor swasta, selain lewat upaya bilateral antarpemerintah. 

"Forum ini menjadi penting untuk menjaga dan mempererat hubungan dagang kedua negara yang saling menguntungkan. Sebagai dua negara demokrasi besar dengan pasar yang berkembang, diharapkan bisnis dan perdagangan diantara kedua negara dapat terus meningkat,” kata Enggartiasto.

Forum bisnis dan one-on-one business matching menghadirkan 32 perusahaan Indonesia untuk menjajaki berbagai peluang kerja sama di Washington DC. 

Delegasi bisnis dari Indonesia terdiri atas Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Asosiasi Eksportir Buah dan Sayur Segar Indonesia (ASEIBSSINDO), dan Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI)/Gabungan Importir  Nasional  Indonesia (GINSI). 

Sementara itu, pelaku usaha dari Indonesia yang turut serta antara lain produsen ban mobil, minyak kelapa sawit, produk pertanian dan hortikultura, perikanan, baja, aluminium, tekstil dan produk tekstil, makanan dan minuman, produk susu, serta consumer goods.

"Misi dagang ke AS ini telah membuka kesempatan bagi Indonesia dan AS untuk meningkatkan perdagangan," ungkap dia.‎

Contohnya, pertemuan antara Enggartiasto dengan petinggi Boeing pada awal pekan ini telah membuka peluang Indonesia untuk melakukan kerja sama investasi di berbagai bidang aviasi seperti maintenance, repair, and overhaul (MRO), hub penyimpanan suku cadang, hingga pengembangan industri bioavtur berbasis sawit. 

Sementara itu, kerja sama di sektor tekstil membuka peluang Indonesia untuk memperkuat industri serta meningkatkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) ke AS dengan dukungan bahan baku kapas dari Amerika Serikat. 

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS