Liputan6.com, Jakarta - Gaya hidup minimalis menjadi pilihan bagi orang yang ingin menjalani kehidupan lebih sederhana tanpa harus mengorbankan kenyamanan. Cara menerapkan gaya hidup minimalis tidak selalu berarti membuang banyak barang atau tinggal di rumah dengan perabot serba sedikit. Lebih dari itu, minimalisme mengajak seseorang untuk memahami kebutuhan, mengurangi hal yang tidak memberikan manfaat, dan menggunakan sumber daya secara lebih bijaksana.
Di tengah kebiasaan konsumtif dan beragamnya pilihan produk, membeli barang baru sering kali terasa seperti cara mudah untuk mendapatkan kepuasan. Padahal, terlalu banyak barang dapat membuat rumah terasa sesak, pengeluaran sulit dikendalikan, dan kegiatan sehari-hari menjadi kurang praktis. Dengan menerapkan prinsip minimalisme, seseorang dapat menata kembali prioritas agar waktu, uang, dan energi digunakan untuk hal-hal yang lebih bermakna.
Perubahan ini tidak harus dilakukan sekaligus. Kebiasaan sederhana, seperti merapikan lemari, mempertimbangkan pembelian, mengurangi sampah, dan memanfaatkan barang yang sudah dimiliki, bisa menjadi langkah awal. Berikut sejumlah cara menerapkan gaya hidup minimalis yang dapat dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing. Berikut ulasan Liputan6.com, Selasa (13/10/2027).
Advertisement
1. Mulai dengan Menyingkirkan Barang yang Tidak Dibutuhkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564350/original/084013500_1776935768-decultering.jpeg)
Langkah pertama dalam menerapkan gaya hidup minimalis adalah mengevaluasi barang-barang yang sudah dimiliki. Banyak orang menyimpan pakaian yang jarang dipakai, peralatan dapur yang hanya digunakan sekali, tumpukan kertas lama, hingga aksesori yang sudah tidak sesuai kebutuhan. Jika dibiarkan, barang-barang tersebut dapat memenuhi ruang dan membuat rumah lebih sulit dirawat.
Mulailah dari satu area kecil, misalnya laci meja, rak sepatu, atau lemari pakaian. Periksa setiap barang dan kelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu barang yang masih digunakan, barang yang bisa diberikan atau dijual, serta barang yang sudah rusak atau tidak layak digunakan.
Barang yang masih bagus sebaiknya tidak langsung dibuang. Pakaian layak pakai dapat disumbangkan, buku bisa dijual kembali, dan peralatan rumah tangga yang masih berfungsi dapat diberikan kepada orang yang membutuhkannya. Sementara itu, barang yang sudah tidak terpakai lagi dapat dipilah sesuai jenis sampah dan aturan daur ulang setempat.
Proses ini tidak harus selesai dalam sehari. Menata satu bagian rumah secara rutin justru membantu membangun kebiasaan yang lebih mudah dipertahankan.
2. Biasakan Berpikir Sebelum Membeli Barang Baru
Kebiasaan belanja menjadi salah satu aspek penting dalam cara menerapkan gaya hidup minimalis. Diskon, promosi terbatas, dan tren di media sosial sering kali mendorong seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak diperlukan.
Sebelum melakukan transaksi, tanyakan kepada diri sendiri apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, seberapa sering akan digunakan, dan apakah sudah ada barang serupa di rumah. Pertimbangkan juga apakah barang itu dapat dipinjam, disewa, atau digantikan dengan sesuatu yang sudah tersedia.
Sebagai contoh, seseorang yang ingin membeli alat pembuat roti khusus dapat mempertimbangkan frekuensi penggunaannya terlebih dahulu. Jika alat tersebut hanya akan dipakai beberapa kali dalam setahun, sementara peralatan dapur yang tersedia sudah cukup untuk membuat makanan serupa, pembelian itu mungkin tidak mendesak.
Memberikan jeda sebelum berbelanja juga dapat membantu. Untuk barang yang tidak mendesak, tunggu satu atau beberapa hari sebelum memutuskan membeli. Cara ini memberi waktu untuk membedakan kebutuhan nyata dari keinginan sesaat.
Dengan kebiasaan tersebut, pengeluaran dapat lebih terarah dan penumpukan barang di rumah bisa dikurangi.
3. Dahulukan Kualitas dan Fungsi daripada Kuantitas
Minimalisme tidak berarti harus selalu membeli barang paling murah atau menghindari semua produk baru. Prinsip yang lebih penting adalah memilih barang berdasarkan fungsi, daya tahan, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan.
Misalnya, membeli sepatu yang nyaman dan awet dapat menjadi pilihan lebih masuk akal daripada membeli beberapa pasang sepatu murah yang cepat rusak. Hal serupa berlaku untuk tas, peralatan memasak, pakaian, dan perlengkapan rumah tangga.
Meski demikian, barang berkualitas tidak selalu harus mahal. Produk lokal, barang bekas yang masih layak, atau peralatan sederhana yang mudah diperbaiki juga dapat menjadi pilihan. Sesuaikan keputusan dengan kemampuan keuangan agar keinginan menjalani hidup minimalis tidak justru menimbulkan beban baru.
Selain mempertimbangkan kualitas, perhatikan pula kemudahan perawatan dan ketersediaan suku cadang. Barang yang dapat diperbaiki ketika rusak biasanya memiliki masa pakai lebih panjang dibandingkan barang yang harus langsung diganti.
Kebiasaan memilih berdasarkan fungsi membantu seseorang memiliki barang secukupnya tanpa terus-menerus mengejar produk terbaru.
Advertisement
4. Tata Rumah agar Lebih Sederhana dan Fungsional
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582332/original/056694200_1778129573-Desain_Ruang_Tamu_Rumah_Kampung_Minimalis_yang_Nyaman_Buat_Nerima_Tamu_Model_Palet_Warna_Netral.jpg)
Rumah yang menerapkan prinsip minimalis tidak harus memiliki desain mahal, furnitur modern, atau ruangan serba putih. Intinya adalah memastikan setiap ruang memiliki fungsi yang jelas dan barang-barang di dalamnya tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.
Mulailah dengan mengatur furnitur sesuai kebutuhan. Jika ruang keluarga berukuran terbatas, misalnya, pilih meja yang ukurannya proporsional dan dapat digunakan untuk beberapa keperluan. Manfaatkan rak vertikal untuk menyimpan barang tanpa memenuhi lantai. Pastikan pula area berjalan tetap lapang agar rumah terasa lebih nyaman.
Pencahayaan dan sirkulasi udara alami juga patut diperhatikan. Membuka jendela ketika kondisi lingkungan memungkinkan, menjaga ventilasi tetap berfungsi, serta menggunakan tirai yang sesuai dapat membantu menciptakan ruang yang nyaman tanpa selalu bergantung pada lampu atau pendingin ruangan.
Dalam artikel mengenai minimalisme dan keberlanjutan yang dimuat dalam International Journal of Law Management & Humanities (2026), efisiensi ruang, penggunaan material secara bijaksana, dan pemanfaatan prinsip desain alami dibahas sebagai bagian dari upaya mengurangi dampak lingkungan. Gagasan tersebut dapat diterapkan secara sederhana di rumah, tanpa harus melakukan renovasi besar.
Dengan demikian, rumah minimalis bukan sekadar terlihat rapi, melainkan juga mendukung kegiatan sehari-hari secara lebih efisien.
5. Kurangi Sampah dan Manfaatkan Barang yang Masih Layak
Cara menerapkan gaya hidup minimalis juga berkaitan dengan bagaimana seseorang memperlakukan barang setelah digunakan. Mengurangi pembelian saja belum cukup apabila barang yang masih berfungsi terus-menerus dibuang dan diganti dengan produk baru.
Salah satu kebiasaan yang dapat diterapkan adalah menggunakan kembali wadah yang masih aman, membawa tas belanja sendiri, serta memilih produk dengan kemasan yang lebih sederhana jika tersedia. Sisa makanan juga perlu dikelola dengan baik agar tidak terbuang sia-sia.
Barang yang rusak tidak selalu harus berakhir di tempat sampah. Pakaian dapat diperbaiki, furnitur bisa diperbarui, dan peralatan rumah tangga tertentu dapat dibawa ke tempat servis. Untuk barang yang sudah tidak diperlukan, pertimbangkan menjual, menyumbangkan, atau menukarkannya dengan orang lain.
Prinsip mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sejalan dengan semangat pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Konvensi Basel 1989, misalnya, berfokus pada pengendalian perpindahan lintas batas limbah berbahaya dan pengelolaannya secara ramah lingkungan. Sementara itu, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang diadopsi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2015 mencakup konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip tersebut dapat dimulai dari keputusan kecil untuk mengurangi barang sekali pakai dan memperpanjang masa manfaat barang yang sudah ada.
6. Sederhanakan Kebiasaan Memasak dan Berbelanja Bahan Makanan
Minimalisme juga bisa diterapkan di dapur. Terlalu banyak bahan makanan, peralatan memasak, dan wadah penyimpanan dapat membuat aktivitas menyiapkan makanan terasa lebih rumit. Karena itu, menata dapur berdasarkan kebutuhan sehari-hari merupakan langkah yang praktis.
Buatlah daftar menu sederhana untuk beberapa hari sebelum berbelanja. Dengan mengetahui bahan yang diperlukan, seseorang dapat menghindari pembelian berlebihan dan mengurangi risiko makanan kedaluwarsa sebelum sempat digunakan.
Pilih bahan yang dapat diolah menjadi beberapa jenis masakan. Telur, tahu, tempe, sayuran, dan bumbu dasar, misalnya, dapat digunakan untuk berbagai menu rumahan. Cara ini membuat persediaan dapur lebih mudah dikelola tanpa harus memiliki banyak bahan khusus.
Periksa isi kulkas dan lemari penyimpanan sebelum membeli bahan baru. Letakkan makanan yang perlu segera digunakan di bagian yang mudah terlihat. Simpan bahan sesuai kebutuhan dan petunjuk keamanan pangan agar kualitasnya tetap terjaga.
Peralatan dapur juga sebaiknya dipilih berdasarkan fungsi. Tidak semua orang membutuhkan banyak perangkat elektronik khusus jika alat yang sudah dimiliki mampu memenuhi kebutuhan memasak. Dengan pengelolaan yang lebih sederhana, dapur dapat menjadi ruang yang praktis sekaligus membantu menghemat pengeluaran.
7. Atur Pengeluaran dan Prioritaskan Kebutuhan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5317191/original/029207300_1755314565-Ilustrasi_utang__keungan.jpg)
Hidup minimalis bukan hanya berkaitan dengan jumlah barang, tetapi juga cara mengelola uang. Pengeluaran yang tidak terencana dapat membuat seseorang membeli barang karena dorongan sesaat, bukan karena benar-benar membutuhkannya.
Mulailah dengan mencatat pengeluaran rutin, seperti kebutuhan makan, transportasi, tagihan, pendidikan, dan kesehatan. Setelah itu, periksa pengeluaran yang dapat dikurangi tanpa mengganggu kebutuhan utama.
Misalnya, seseorang dapat mengevaluasi langganan digital yang jarang digunakan, mengurangi pembelian makanan karena impuls sesaat, atau membawa bekal ketika memungkinkan. Uang yang berhasil dihemat dapat dialihkan ke tabungan, dana darurat, pelunasan utang, atau tujuan keuangan lain yang lebih penting.
Namun, menerapkan minimalisme bukan berarti menghilangkan semua pengeluaran untuk hiburan. Anggaran untuk berkumpul dengan keluarga, menikmati hobi, atau berlibur tetap dapat disediakan selama sesuai kemampuan.
Prinsip utamanya adalah mengeluarkan uang secara sadar. Ketika seseorang memahami tujuan setiap pengeluaran, keputusan keuangan cenderung menjadi lebih terarah dan tidak mudah dipengaruhi tren konsumsi.
8. Kurangi Kebiasaan Digital yang Tidak Memberikan Manfaat
Barang fisik bukan satu-satunya hal yang dapat memenuhi ruang. Ponsel dan komputer juga menyimpan banyak aplikasi, foto, berkas, serta notifikasi yang tidak lagi dibutuhkan. Jika tidak dikelola, tumpukan digital dapat membuat aktivitas sehari-hari terasa lebih berantakan.
Mulailah dengan menghapus aplikasi yang jarang digunakan, menata berkas berdasarkan kategori, dan menghapus salinan dokumen yang tidak diperlukan. Kotak masuk surat elektronik juga dapat dibersihkan dengan berhenti berlangganan dari promosi yang tidak relevan.
Selanjutnya, evaluasi kebiasaan menggunakan media sosial. Jika terlalu sering memeriksa ponsel membuat pekerjaan tertunda atau memicu keinginan berbelanja, cobalah membatasi waktu penggunaan dan menonaktifkan notifikasi yang tidak penting.
Menerapkan gaya hidup minimalis secara digital bukan berarti harus meninggalkan teknologi. Perangkat elektronik tetap dapat dimanfaatkan untuk bekerja, belajar, membaca, dan berkomunikasi. Yang perlu dikurangi adalah penggunaan yang tidak memberikan manfaat sebanding dengan waktu dan perhatian yang dikeluarkan.
Dengan ruang digital yang lebih tertata, seseorang dapat lebih mudah menemukan informasi penting dan menjaga fokus saat menyelesaikan pekerjaan.
9. Pilih Pengalaman dan Hubungan yang Bermakna
Salah satu gagasan penting dalam minimalisme adalah mengalihkan perhatian dari kepemilikan barang menuju hal-hal yang memberikan nilai dalam kehidupan. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, kebahagiaan tidak harus selalu dicari melalui pembelian produk baru.
Waktu luang dapat digunakan untuk membaca buku, berjalan kaki, memasak bersama keluarga, mempelajari keterampilan, atau mengunjungi tempat yang menarik. Aktivitas sederhana tidak selalu membutuhkan biaya besar, tetapi dapat memberikan pengalaman dan kenangan yang berharga.
Hubungan dengan orang lain juga perlu mendapat perhatian. Menghabiskan waktu untuk berbincang dengan keluarga, menjaga pertemanan, dan membantu lingkungan sekitar dapat menjadi bagian dari kehidupan yang lebih bermakna.
Meski demikian, setiap orang memiliki prioritas berbeda. Ada yang merasa bahagia dengan bepergian, ada pula yang lebih menikmati waktu tenang di rumah. Minimalisme memberi ruang bagi seseorang untuk menentukan sendiri hal-hal yang dianggap penting, tanpa harus mengikuti standar gaya hidup orang lain.
Dengan berfokus pada pengalaman dan hubungan, seseorang dapat mengurangi tekanan untuk terus memiliki barang baru demi mengikuti tren atau mendapatkan pengakuan sosial.
Advertisement
10. Lakukan Secara Bertahap dan Konsisten
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3141382/original/052489100_1591068682-woman-in-gray-sweater-drinking-coffee-3759089.jpg)
Perubahan gaya hidup akan lebih mudah dipertahankan jika dilakukan secara realistis. Tidak perlu langsung mengosongkan lemari, mengganti seluruh perabot, atau membeli produk baru yang diklaim ramah lingkungan. Langkah-langkah tersebut justru dapat menambah pengeluaran apabila tidak didasarkan pada kebutuhan.
Marion Tilly melalui artikel 10 Practical Tips to Adopt a Minimalist Lifestyle di Institute of You menekankan pentingnya perubahan kebiasaan secara bertahap, mulai dari merapikan barang, berbelanja dengan lebih sadar, hingga mengulang kebiasaan baik secara rutin. Pendekatan ini relevan bagi siapa pun yang baru ingin mencoba hidup minimalis.
Sebagai permulaan, tetapkan target sederhana. Misalnya, merapikan satu laci setiap akhir pekan, tidak membeli pakaian baru selama sebulan kecuali benar-benar diperlukan, atau memeriksa isi kulkas sebelum berbelanja.
Evaluasi hasilnya setelah beberapa minggu. Apakah rumah menjadi lebih mudah dirawat? Apakah pengeluaran impulsif berkurang? Apakah waktu untuk mencari barang menjadi lebih singkat? Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membantu menentukan kebiasaan mana yang perlu dilanjutkan.
Penting pula untuk tidak membandingkan proses pribadi dengan orang lain. Ada keluarga yang membutuhkan banyak perlengkapan karena memiliki anak, ada pula orang yang memerlukan peralatan khusus untuk pekerjaan atau hobi. Kebutuhan tersebut tetap layak dipertimbangkan.
Pada akhirnya, minimalisme bukan perlombaan untuk memiliki barang paling sedikit. Tujuannya adalah membangun kehidupan yang lebih terarah, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhan, sekaligus menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab.
Pertanyaan Seputar Cara Menerapkan Gaya Hidup Minimalis
1. Apa yang dimaksud dengan gaya hidup minimalis?
Gaya hidup minimalis adalah pola hidup yang mengutamakan kebutuhan dan hal-hal yang benar-benar bernilai, sambil mengurangi kepemilikan atau aktivitas yang tidak memberikan manfaat berarti. Penerapannya dapat mencakup pengelolaan barang, keuangan, waktu, dan kebiasaan konsumsi.
2. Bagaimana cara menerapkan gaya hidup minimalis bagi pemula?
Mulailah dari langkah kecil, seperti merapikan satu bagian rumah, memilah barang yang tidak digunakan, dan mempertimbangkan kebutuhan sebelum berbelanja. Setelah terbiasa, terapkan prinsip serupa pada pengeluaran, penggunaan perangkat digital, dan pengelolaan sampah.
3. Apakah hidup minimalis harus membuang banyak barang?
Tidak. Minimalisme bukan tentang membuang barang sebanyak mungkin, melainkan memastikan barang yang dimiliki benar-benar berguna dan sesuai kebutuhan. Barang yang masih diperlukan, memiliki nilai sentimental, atau mendukung pekerjaan tetap dapat disimpan.
4. Apa manfaat menerapkan gaya hidup minimalis?
Manfaatnya antara lain rumah lebih teratur, pengeluaran lebih terkendali, waktu untuk mencari barang berkurang, serta penggunaan sumber daya menjadi lebih bijaksana. Manfaat yang dirasakan setiap orang dapat berbeda sesuai kebiasaan dan kondisi kehidupannya.
5. Apakah gaya hidup minimalis membutuhkan biaya besar?
Tidak. Gaya hidup minimalis justru dapat dimulai tanpa biaya, misalnya dengan merapikan barang, memperbaiki benda yang rusak, memanfaatkan barang yang sudah tersedia, dan mengurangi pembelian impulsif. Membeli produk baru yang mahal bukan syarat untuk hidup minimalis.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375486/original/079437900_1792149415-cek_fakta_-OJK_pinjol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350102/original/012008800_1789559335-Cek_fakta_-_ustaz_Abdul_Somad.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375195/original/050145200_1792134418-Screenshot_2026-10-16_132433.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375276/original/040735700_1792137600-cek_fakta_-_ustaz_wijayanto_-bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4803070/original/039687600_1713254578-young-pretty-woman-sitting-near-window-drinking-tea-reading-book-enjoys-rest_264197-16323.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5097763/original/007875500_1737103639-Foto_tersenyum_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5384221/original/000286400_1760761360-Meditasi_untuk_menenangkan_pikiran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288625/original/032838000_1783328056-1200.jpg)