Liputan6.com, Jakarta - Pernah berbincang dengan seseorang yang menceritakan pengalaman yang sama berkali-kali, padahal cerita tersebut sudah pernah disampaikan sebelumnya? Kebiasaan ini terkadang membuat lawan bicara merasa heran, terutama jika orang tersebut mengulangi detail dan kejadian yang sama dalam percakapan berbeda.
Namun, orang yang sering mengulangi cerita belum tentu pelupa atau sengaja mencari perhatian. Kebiasaan tersebut dapat dipengaruhi berbagai hal, mulai dari antusiasme terhadap pengalaman tertentu, keinginan untuk membangun kedekatan, hingga kesulitan mengingat percakapan sebelumnya. Konteks dan frekuensi pengulangan menjadi hal penting untuk memahami perilaku tersebut.
1. Senang Mengenang Pengalaman yang Berkesan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4929956/original/027221100_1724816378-pexels-rdne-7490773.jpg)
Orang yang sering mengulangi cerita terkadang memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap pengalaman tertentu. Peristiwa yang dianggap menyenangkan, membanggakan, mengharukan, atau bahkan mengecewakan dapat terus muncul dalam percakapan karena pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam.
Misalnya, seseorang mungkin berkali-kali menceritakan pengalaman pertamanya bekerja di perusahaan besar, perjalanan liburan yang menyenangkan, atau momen ketika berhasil mencapai sesuatu setelah melewati kesulitan. Baginya, cerita tersebut bukan sekadar rangkaian kejadian, melainkan pengalaman yang masih memiliki arti penting.
Kebiasaan ini tidak selalu menunjukkan kepribadian tertentu secara mutlak. Seseorang bisa saja mengulang cerita karena pengalaman itu menjadi bagian penting dari identitasnya atau karena ia merasa senang ketika dapat membagikan kembali kenangan tersebut kepada orang lain.
Advertisement
2. Ingin Membangun Kedekatan dengan Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4984091/original/066941400_1730181985-pexels-ekaterina-bolovtsova-4051137.jpg)
Mengulangi cerita juga dapat menjadi salah satu cara seseorang membangun hubungan sosial. Ketika seseorang merasa nyaman dengan lawan bicara, ia mungkin lebih mudah membagikan pengalaman pribadi, termasuk cerita yang pernah disampaikan sebelumnya.
Dalam beberapa situasi, cerita yang berulang menjadi semacam penghubung antara pengalaman pribadi dan hubungan dengan orang lain. Seseorang mungkin berharap lawan bicaranya memahami latar belakang, nilai-nilai, atau perasaannya melalui cerita yang sama.
Sebagai contoh, seseorang yang baru menjalin pertemanan mungkin berulang kali menceritakan pengalaman masa sekolahnya untuk menemukan kesamaan dengan teman baru. Ia mungkin merasa cerita tersebut membantu orang lain mengenalnya lebih jauh.
Meski demikian, tidak semua pengulangan cerita merupakan upaya sadar untuk membangun kedekatan. Terkadang, seseorang hanya merasa nyaman membicarakan topik tertentu tanpa menyadari bahwa ia sudah menceritakannya berkali-kali.
3. Memiliki Antusiasme Tinggi terhadap Topik Tertentu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362645/original/003944700_1790825765-1f7bfbb8-7526-4d2b-b226-e7872ba5f693.jpg)
Ada orang yang dapat berbicara panjang lebar ketika membahas hal yang benar-benar disukainya. Mereka mungkin berulang kali menceritakan pengalaman, pengetahuan, atau kejadian yang berkaitan dengan minat tersebut karena merasa bersemangat saat membicarakannya.
Seseorang yang menyukai sepak bola, misalnya, bisa berkali-kali menceritakan pertandingan bersejarah tim favoritnya. Begitu pula orang yang gemar memasak mungkin terus membagikan pengalaman ketika berhasil membuat resep baru yang menurutnya istimewa.
Antusiasme seperti ini dapat membuat seseorang kurang menyadari bahwa lawan bicaranya sudah mendengar cerita tersebut. Perhatiannya lebih tertuju pada kesenangan saat membahas topik favorit daripada pada seberapa sering ia mengulang informasi yang sama.
Jika kebiasaan tersebut tidak mengganggu komunikasi, pengulangan cerita dapat dipahami sebagai bagian dari cara seseorang mengekspresikan minatnya. Namun, kemampuan mendengarkan dan memberi ruang kepada orang lain tetap diperlukan agar percakapan berjalan seimbang.
Advertisement
4. Membutuhkan Pengakuan atas Pengalaman atau Pencapaiannya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349632/original/000693500_1789537881-0e82990c-9572-49b3-8fc1-b9210e44c844.jpg)
Sebagian orang mengulang cerita karena ingin pengalaman atau pencapaiannya mendapat perhatian. Mereka mungkin merasa bangga terhadap sesuatu yang pernah dilakukan dan berharap orang lain memahami usaha, pengorbanan, atau keberhasilan yang telah dicapai.
Contohnya, seseorang yang berhasil menyelesaikan proyek sulit mungkin terus menceritakan proses panjang yang dilaluinya. Cerita tersebut bisa menjadi cara untuk membagikan kebanggaan, mendapatkan apresiasi, atau memperkuat perasaan bahwa usahanya memiliki nilai.
Namun, kebiasaan ini tidak otomatis berarti orang tersebut haus pujian atau memiliki rasa percaya diri yang rendah. Kebutuhan untuk dihargai merupakan hal yang dapat dialami banyak orang, dan alasan di baliknya berbeda-beda pada setiap individu.
Untuk memahami kecenderungan ini, perhatikan bagaimana seseorang merespons ketika orang lain tidak memberikan reaksi yang diharapkan. Jika ia tetap dapat melanjutkan percakapan secara wajar dan menghargai pendapat orang lain, pengulangan cerita belum tentu menunjukkan masalah dalam hubungan sosialnya.
5. Sedang Memproses Emosi atau Pengalaman yang Belum Selesai
Pengalaman yang membawa emosi kuat terkadang terus muncul dalam percakapan, terutama ketika seseorang masih berusaha memahami apa yang terjadi. Ia mungkin menceritakan kejadian yang sama kepada beberapa orang untuk mendapatkan sudut pandang berbeda atau mengungkapkan perasaan yang belum sempat disampaikan.
Misalnya, seseorang yang mengalami konflik di tempat kerja mungkin berulang kali membicarakan kejadian tersebut dengan teman dekat. Ia bisa jadi sedang mencoba memahami tindakan orang lain, mencari solusi, atau sekadar membutuhkan ruang untuk mengungkapkan kekecewaannya.
Dalam situasi seperti ini, pengulangan cerita tidak selalu berkaitan dengan kepribadian yang menetap. Kondisi emosional dan situasi yang sedang dihadapi dapat memengaruhi hal-hal yang ingin dibicarakan seseorang.
Jika cerita yang sama terus muncul karena pengalaman tersebut menimbulkan tekanan emosional, mendengarkan dengan empati dapat membantu. Akan tetapi, apabila masalahnya membuat seseorang terus merasa tertekan atau mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari dukungan profesional dapat menjadi pilihan yang tepat.
Advertisement
6. Kurang Menyadari Respons dan Pengalaman Lawan Bicara
Kemampuan berkomunikasi tidak hanya berkaitan dengan keterampilan berbicara, tetapi juga kemampuan membaca situasi dan memperhatikan respons orang lain. Seseorang yang terlalu fokus pada cerita sendiri terkadang kurang menyadari bahwa lawan bicaranya sudah mengetahui informasi tersebut.
Dalam percakapan kelompok, misalnya, seseorang mungkin mengulangi cerita yang sama karena menganggap semua orang belum mendengarnya. Padahal, sebagian besar orang yang hadir sudah mengetahui kejadian tersebut dari pertemuan sebelumnya.
Kondisi ini bisa terjadi karena kebiasaan berbicara yang kurang terkontrol, perhatian yang terbagi, atau kurangnya kesadaran terhadap alur percakapan. Hal tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang egois atau tidak peduli kepada orang lain.
Keterampilan komunikasi dapat diperbaiki melalui kebiasaan sederhana, seperti mengajukan pertanyaan kepada lawan bicara, memberi kesempatan orang lain berbicara, dan memperhatikan respons selama percakapan berlangsung. Dengan begitu, pembicaraan menjadi lebih interaktif dan tidak hanya berpusat pada satu orang.
7. Mengandalkan Cerita yang Familiar untuk Memulai Percakapan
Bagi sebagian orang, memulai percakapan bukanlah hal yang mudah. Mereka mungkin merasa lebih nyaman membicarakan pengalaman yang sudah dikenal daripada mencari topik baru secara spontan.
Cerita yang pernah disampaikan sebelumnya dapat menjadi bahan percakapan yang terasa aman karena orang tersebut sudah mengetahui urutan kejadian dan detail yang ingin dibagikan. Kebiasaan ini mungkin lebih terlihat ketika ia bertemu orang baru, berada di lingkungan yang kurang akrab, atau merasa canggung dalam situasi sosial.
Sebagai contoh, seseorang yang menghadiri acara keluarga mungkin kembali menceritakan pengalaman saat merantau karena cerita tersebut mudah diingat dan dapat menjadi pembuka percakapan. Ia belum tentu bermaksud mendominasi pembicaraan, tetapi hanya mencoba menjaga interaksi tetap berlangsung.
Meski begitu, kebiasaan mengulang cerita tidak cukup untuk menunjukkan bahwa seseorang introver atau mengalami kecemasan sosial. Kepribadian dan kenyamanan dalam situasi sosial perlu dipahami dari berbagai perilaku, bukan hanya satu kebiasaan dalam percakapan.
Advertisement
8. Mengalami Kesulitan Mengingat Percakapan Sebelumnya
Salah satu kemungkinan yang perlu dipertimbangkan ketika seseorang sering mengulangi cerita adalah kesulitan mengingat bahwa informasi tersebut sudah pernah disampaikan. Dalam kondisi ini, pengulangan bukan semata-mata karena ia menyukai cerita tertentu, melainkan mungkin karena tidak mengingat percakapan sebelumnya.
Sesekali lupa pernah menceritakan sesuatu merupakan hal yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika seseorang sedang lelah, kurang tidur, stres, atau memiliki banyak hal yang perlu diperhatikan. Karena itu, satu atau dua kejadian tidak cukup untuk menyimpulkan adanya gangguan daya ingat.
Namun, jika seseorang semakin sering mengulangi pertanyaan atau cerita, melupakan percakapan yang baru saja terjadi, kesulitan menjalankan aktivitas yang biasanya dikuasai, atau menunjukkan perubahan fungsi sehari-hari, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
Pada situasi seperti itu, sebaiknya hindari langsung memberikan label sebagai pelupa atau menganggapnya sebagai ciri kepribadian. Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dapat membantu mengidentifikasi kemungkinan penyebabnya, terutama jika perubahan tersebut muncul secara bertahap atau semakin mengganggu aktivitas.
Bagaimana Membedakan Kebiasaan Mengulang Cerita yang Wajar dan yang Perlu Diperhatikan?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373105/original/050860500_1791951337-IMG_2917.jpeg)
Tidak semua orang yang mengulang cerita memiliki alasan yang sama. Untuk memahaminya, perhatikan konteks percakapan, seberapa sering perilaku itu terjadi, apakah orang tersebut menyadari pengulangannya, dan apakah terdapat perubahan lain dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa hal yang dapat menjadi bahan pengamatan antara lain:
- Cerita yang berulang hanya pada topik tertentu: Jika seseorang hanya mengulang pengalaman yang dianggap lucu, membanggakan, atau penting, kebiasaan tersebut mungkin berkaitan dengan ketertarikan atau keterikatan emosional.
- Pengulangan ketika sedang menghadapi masalah: Seseorang mungkin terus menceritakan kejadian yang sama karena masih berusaha memahami atau memproses emosinya.
- Menyadari bahwa cerita sudah pernah disampaikan: Jika ia mengingat percakapan sebelumnya tetapi tetap ingin membagikannya, pengulangan mungkin merupakan pilihan komunikasi.
- Tidak mengingat percakapan yang baru berlangsung: Jika pengulangan terjadi tanpa kesadaran dan semakin sering, terutama disertai perubahan fungsi sehari-hari, evaluasi lebih lanjut dapat diperlukan.
- Mulai kesulitan menjalankan aktivitas rutin: Perubahan kemampuan mengingat, mengatur kegiatan, atau melakukan pekerjaan yang sebelumnya biasa dilakukan patut diperhatikan.
Pengamatan tersebut bukan alat untuk mendiagnosis seseorang. Tujuannya adalah memahami situasi dengan lebih baik tanpa buru-buru menilai karakter atau kondisi kesehatannya.
Advertisement
Cara Menyikapi Orang yang Sering Mengulangi Cerita
Berhadapan dengan orang yang terus menceritakan hal yang sama terkadang terasa melelahkan, terutama jika percakapan berlangsung berulang kali. Namun, respons yang tepat dapat membantu menjaga hubungan sekaligus membuat komunikasi menjadi lebih nyaman.
Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan:
- Dengarkan tanpa langsung menghakimi. Berikan kesempatan kepada orang tersebut untuk menyelesaikan ceritanya sebelum menyimpulkan bahwa ia sengaja mengulang informasi atau mencari perhatian.
- Tanggapi dengan ramah dan arahkan percakapan. Jika cerita sudah pernah didengar, kamu bisa menanggapi secara singkat lalu mengajukan pertanyaan lain yang masih berkaitan dengan topik tersebut.
- Berikan batasan jika pengulangan mulai mengganggu. Kamu dapat menyampaikan dengan sopan bahwa cerita itu sudah pernah didengar dan mengajak lawan bicara membahas hal lain.
- Perhatikan perubahan perilakunya. Jika seseorang yang sebelumnya jarang mengulang cerita tiba-tiba melakukannya secara konsisten, amati apakah ada perubahan lain yang memengaruhi kesehariannya.
- Sarankan bantuan profesional bila diperlukan. Jika pengulangan disertai gangguan ingatan yang semakin nyata atau kesulitan menjalankan aktivitas rutin, ajak orang tersebut berkonsultasi dengan tenaga kesehatan secara suportif.
Pendekatan yang empatik membantu menghindari kesalahpahaman. Pada saat yang sama, menjaga batasan komunikasi juga penting agar kebutuhan kedua belah pihak tetap diperhatikan.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Kepribadian yang Sering Ulangi Cerita
1. Apa arti orang yang sering mengulangi cerita?
Kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan antusiasme, keterikatan emosional terhadap pengalaman, kebutuhan membangun kedekatan, atau kesulitan mengingat percakapan sebelumnya. Artinya tidak bisa ditentukan hanya dari satu perilaku.
2. Apakah orang yang sering mengulang cerita berarti pelupa?
Tidak selalu. Seseorang mungkin sengaja mengulang cerita karena menyukainya, tetapi pengulangan yang semakin sering dan disertai perubahan daya ingat perlu diperhatikan.
3. Apakah sering mengulang cerita termasuk ciri kepribadian introver?
Tidak secara khusus. Orang dengan berbagai tipe kepribadian dapat mengulangi cerita karena alasan yang berbeda, termasuk kenyamanan sosial dan kebiasaan berkomunikasi.
4. Mengapa seseorang terus menceritakan pengalaman yang sama?
Pengalaman tersebut mungkin sangat berkesan, masih memicu emosi, atau menjadi topik yang membuatnya nyaman berbicara. Kemungkinan lain adalah ia tidak mengingat bahwa cerita tersebut sudah pernah disampaikan.
5. Kapan kebiasaan mengulang cerita perlu diperiksakan?
Jika seseorang berulang kali melupakan percakapan yang baru terjadi, mengalami perubahan daya ingat yang semakin nyata, atau mulai kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, sebaiknya konsultasikan kondisinya kepada tenaga kesehatan.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375195/original/050145200_1792134418-Screenshot_2026-10-16_132433.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375276/original/040735700_1792137600-cek_fakta_-_ustaz_wijayanto_-bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374518/original/013435400_1792054116-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-15T154739.817.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495483/original/029586100_1770372285-sherly_tjoanda_klaim_giveaway.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5250662/original/005570200_1749727368-relaxed-friends-talking-while-sitting-couch_23-2148143191.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5422348/original/023664100_1763979617-pexels-ron-lach-9463866.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5247809/original/037558600_1749545540-medium-shot-anxious-woman-laying-bed-with-smartphone.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4217740/original/028298600_1667819567-pexels-andrea-piacquadio-3765126_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370791/original/041801500_1791692713-aba1f281-b052-46db-b221-990f61fe8edb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358155/original/054705600_1790324458-01M3B1MDNNXRSQAHKP889NEVDA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4936366/original/066612700_1725438341-pexels-charlotte-may-5966011.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356319/original/034162400_1790159445-01M36SJGRT7SJ83VN23D87X85V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369473/original/069744900_1791524730-ec81b70f-129f-4474-a803-baa1310e53bf.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5157520/original/025638500_1741598296-application-pointing-worker-digital-stressed_1134-1391.jpg)