Wall Street Anjlok, Nasdaq Turun Lebih dari 4% dalam Sepekan

Wall Street tertekan aksi jual saham teknologi dan kecerdasan buatan, sementara harga minyak mentah AS menembus US$ 100 per barel.

Diterbitkan 17 Oktober 2026, 08:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Jumat, di tengah pergeseran investasi dari saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) serta kenaikan harga minyak. Kondisi ini membuat mayoritas indeks utama Wall Street mencatat kinerja negatif sepanjang pekan.

Mengutip CNBC, Sabtu (17/10/2026), indeks S&P 500 turun 1,09% ke level 7.659,44. Indeks Nasdaq Composite terkoreksi 2,14% menjadi 26.140,03. Kedua indeks ditutup di bawah rata-rata pergerakan 50 hari.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average melemah 175,28 poin atau 0,34% ke posisi 52.002,41. Tekanan jual turut mendorong indeks volatilitas Cboe (VIX) menembus level 22 untuk pertama kalinya dalam empat bulan.

Saham produsen cip kembali mengalami tekanan. VanEck Semiconductor ETF (SMH) turun 3%, dipimpin pelemahan saham Micron Technology, Advanced Micro Devices, dan Sandisk.

Kekhawatiran terhadap persaingan dari China turut membebani sektor semikonduktor. Sepanjang pekan berjalan, SMH merosot 10%, menjadi penurunan mingguan terbesar sejak April 2025.

Saham AI Tertekan, Investor Khawatir Utang Membengkak

Pelemahan saham semikonduktor dan sejumlah perusahaan terkait AI menyeret S&P 500 mencatat kinerja negatif mingguan. Indeks tersebut turun sekitar 2% sepanjang pekan, sedangkan Nasdaq merosot lebih dari 4%. Penurunan Nasdaq menjadi yang terdalam sejak Juni.

Sebaliknya, Dow Jones masih membukukan kenaikan 0,7% dalam sepekan.

Investor juga mulai mengkhawatirkan besarnya pinjaman yang digunakan perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur AI. Saham perusahaan penyedia layanan komputasi awan khusus AI, seperti CoreWeave, turun hampir 12%. Total utang perusahaan itu telah meningkat menjadi lebih dari US$ 51 miliar.

Secara mingguan, saham CoreWeave telah terkoreksi 25%.

Chief Investment Officer Angeles, Michael Rosen, menilai peningkatan utang perusahaan perlu terus dicermati.

“Pertanyaannya adalah: Apakah ini masalah sistemik?” kata Rosen.

“Jelas, peningkatan penerbitan utang merupakan sesuatu yang perlu diamati, terus dipantau, dan diwaspadai jika terus mencapai tingkat yang berlebihan. Namun, saat ini kita masih sangat jauh dari kondisi tersebut,” ujarnya.

Harga Minyak Naik, Pasar Dibayangi Inflasi

Di tengah tekanan saham teknologi, sektor energi justru menguat pada Jumat. Saham Chevron menjadi salah satu penopang yang membantu membatasi penurunan Dow Jones.

Harga minyak naik seiring meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, serta antara Rusia dan Ukraina. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 3,51% dan ditutup di US$ 101,41 per barel. Sementara itu, Brent menguat 3,72% menjadi US$ 109,86 per barel.

Investor juga menghadapi data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan. Inflasi harga grosir AS mencatat kenaikan terbesar sejak 2022, sedangkan inflasi konsumen masih jauh di atas target Federal Reserve (The Fed) sebesar 2%. Kenaikan harga energi setelah perang AS-Iran turut memperburuk tekanan inflasi.

Ketua The Fed Kevin Warsh berbicara dalam acara Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok pada malam sebelumnya. Meski tidak memberikan komentar mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun, pelaku pasar menilai bank sentral AS cenderung mempertahankan kebijakan moneternya.

Instrumen FedWatch milik CME Group menunjukkan peluang sebesar 82% bahwa The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan 27–28 Oktober 2026.