Pembayaran Gaji ke-13 Molor Bikin Ekonomi RI Cuma Tumbuh 5,12%

Ekonomi Indonesia ditopang peningkatan konsumsi rumah tangga dari 5,15 persen di kuartal II lalu menjadi 5,59 persen di kuartal II 2014.

Diterbitkan 05 Agustus 2014, 13:29 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan penyebab perlambatan pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2014 adalah merosotnya belanja pemerintah dan tekanan ekspor. BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 5,12 persen di kuartal II 2014 atau turun dari realisasi pada kuartal I yang tercatat 5,21 persen.

Kepala BPS, Suryamin mengatakan, pertumbuhan ekonomi 5,12 persen sepanjang periode April-Juni 2014 disebabkan karena konsumsi pemerintah yang tak tinggi.

"Konsumsi pemerintah berkontribusi minus 0,71 persen atau turun dibandingkan kuartal II 2013 yang masih tercatat positif 2,71 persen. Ini adalah data PDB menurut pengeluaran," ucap dia saat Paparan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II di kantornya, Jakarta, Selasa (5/8/2014).

Hal ini, kata Suryamin, dikarenakan beberapa faktor, antara lain realisasi belanja pegawai yang menurun dari periode yang sama tahun lalu. "Pembayaran gaji ke-13 baru dibayarkan bulan puasa, juga ada rapelan gaji pokok Januari-Juni 2014," terangnya.

Selain itu, sambungnya, terjadi penangguhan penyaluran bantuan sosial (bansos) atau jaminan sosial untuk program pemberdayaan masyarakat pada kuartal I dan II ini lantaran ada momen pemilihan umum (pemilu).

Penyebab lain, tambah dia, karena laju ekspor yang merosot menjadi 1,04 persen. Sedangkan kuartal II 2013 masih mampu bertumbuh positif 4,82 persen. "Ekspor mengalami kontraksi ekspor minyak dan gas yang menurun 1,42 persen," ucap Suryamin.

Beruntung, ekonomi Indonesia masih ditopang dari peningkatan konsumsi rumah tangga dari 5,15 persen di kuartal II lalu menjadi 5,59 persen di kuartal II 2014. Pertumbuhan ini, dia mengaku, karena ada dampak dari pemilu, di mana masyarakat ikut dalam aktivitas ekonomi maupun pilpres 2014.

"Ada pemberian kaos, makanan gratis yang kami hitung sebagai pendapatan dan lansung dicatat dalam konsumsi. Biaya kampanye juga berperan atas pertumbuhan ini. Juga karena penjualan barang komunikasi dan transportasi, seperti ponsel, tembakau, BBM dan lainnya cukup tinggi," jelas dia.

Sementara kontribusi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), lanjut Suryamin, mengalami kenaikan dari 4,47 persen menjadi 4,53 persen. Ada pertumbuhan investasi di barang-barang modal dalam negeri, dan sebagainya.

"Sedangkan impor barang dan jasa berkurang menjadi 5,02 persen dari tahun lalu yang tumbuh 0,69 persen. Impor non migas turun, tapi memang impor migas masih tumbuh 2,39 persen," pungkasnya. (Fik/Gdn)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6