Selain Makanan, Biaya Hunian Kuras Pendapatan Warga RI

BPS mencatat biaya perumahan dan utilitas menyedot 50,14% dari total pengeluaran non-pangan warga Indonesia, paling tinggi di kawasan perkotaan.

Diterbitkan 11 Oktober 2026, 20:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di luar urusan perut, tempat tinggal beserta fasilitas pendukungnya kini menjadi penyerap pendapatan terbesar bagi rumah tangga di Indonesia. Mahalnya sewa atau kontrak rumah, ditambah tagihan rutin harian seperti listrik, air bersih, dan bahan bakar masak, menempatkan sektor perumahan sebagai beban finansial paling berat dalam kelompok non-pangan.

Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) bertajuk 'Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Maret 2026', kelompok pengeluaran Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar Lainnya mencatatkan angka rata-rata nasional sebesar Rp 407.412 per kapita sebulan.

Angka tersebut menyumbang hingga 50,14% atau separuh lebih dari total seluruh alokasi belanja bukan makanan masyarakat Indonesia yang sebesar Rp 812.544 per bulan. Jika dibandingkan dengan total pengeluaran harian (makanan dan non-makanan), biaya perumahan dan utilitas menyedot porsi sekitar 25,04% dari seluruh anggaran konsumsi warga. 

Tingginya beban tempat tinggal dan utilitas ini terasa semakin menghimpit bagi masyarakat yang menetap di kawasan perkotaan. Pesatnya laju urbanisasi serta tingginya harga properti dan tarif energi di kota membuat alokasi anggaran hunian membengkak tajam.

"Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk daerah perkotaan untuk kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar lainnya mencapai Rp 513.784," tulis BPS dalam publikasinya, dikutip Rabu (7/10/2026).

Nilai Belanja Perumahan Warga Desa

Nilai belanja perumahan dan utilitas warga kota tersebut tercatat hampir dua kali lipat dibandingkan masyarakat pedesaan yang mengalokasikan rata-rata Rp 283.473 per kapita sebulan.

Jika disandingkan dengan pos kebutuhan dasar non-pangan lainnya, belanja perumahan dan energi menempati posisi yang jauh tidak tertandingi. Publikasi BPS mencatat alokasi anggaran perumahan dan utilitas secara nasional yang sebesar Rp 407.412 per kapita sebulan ini tercatat hampir delapan kali lipat lebih besar dibandingkan pengeluaran untuk biaya pendidikan yang rata-rata nasionalnya Rp 52.012, serta biaya kesehatan yang sebesar Rp 39.815 per bulan., 

Dominasi biaya perumahan dan utilitas yang menyedot seperempat dari total belanja harian ini menjadi tantangan tersendiri bagi daya beli masyarakat, mengingat sifat pengeluarannya yang tergolong tetap (fixed cost) dan sulit untuk dikurangi.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6